Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Desember 2010

Teruslah Berlari


"Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan. Berlari-lari 'tuk wujudkan kenyataan. Lewati segala keterasingan. Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan."
-- Pas Band feat. Tere dalam 'Kesepian Kita'

HARI sudah gelap. Sebagian lampu-lampu di stadion telah dipadamkan. Pertandingan lari marathon memang sudah lama berakhir. Tiga peraih medali, sudah berganti baju. Pesta di antara mereka sudah berlangsung. Di lapangan, meski masih tersisa beberapa pertandingan atletik, namun penonton sudah tidak sebanyak siang sebelumnya.

Setelah lewat satu jam setelah lomba usai, tiba-tiba penonton dikejutkan pengumuman oleh panitia dari pengeras suara. Pertandingan ternyata belum usai. Masih ada satu pelari lagi yang akan memasuki stadion. Gemuruh tepuk tangan pun membahana di stadion saat seorang pelari mulai memasuki stadion. Para penonton berdiri dan memberikan standing ovation pada pelari bernomor 36 itu.

Langkah sang pelari tak mulus lagi. Bahkan langkahnya sempat terhenti saat memasuki pintu stadion. Sejenak dia tampak meringis menahan sakit, tapi tekadnya sungguh mengalahkan segalanya. Dengan kaki terbebat perban, dengan langkah yang tak sempurna, dia menuju garis finish pada lintasan lari tersebut.

Beberapa menit kemudian, dia pun menyempurnakan tugasnya. Dia menjadi pelari terakhir yang sanggup menyelesaikan jarak 42 kilometer. Pelari asal Tanzania itu menjadi pelari ke 57. Sebelas lainnya memilih menyerah dan ogah menuntaskan pertandingan. Walau menjadi pelari paling buncit, toh sejarah mencatatnya sebagai pelari berhati baja, kukuh bagai karang dalam mengemban sebuah tugas. Tak aneh bila gelar 'a King without crown' atau 'Raja Tanpa Mahkota' disematkan padanya.

Itulah sekelumit peristiwa yang terjadi di Mexico City, 42 tahun silam. Saat itu, Meksiko menjadi tuan rumah Olimpiade yang ke 19. Adalah John Stephen Akhwari, pria kelahiran pada 1938 di Mbulu, Tanganyika, Tanzania, membuat catatan penting yang akan dikenang sepanjang masa.

Saat bendera dikibarkan, saat lomba baru dimulai beberapa saat, Akhwari telah terhadang cedera. Pria berkulit legam itu terjatuh, yang menyebabkan ia terluka parah. Akhwari mengalami lepas engsel pada sendi lututnya. Sakit? Jangan ditanya. Rasa nyeri bersarang dilututnya. Akibat lukanya, Akhwari mengalami demam hebat. Pihak panitia pun menyarankan agar ia mengundurkan diri dari lomba. Tapi Akhwari malah memutuskan untuk terus berlari dan melanjutkan perlombaan. Sambil mengatasi rasa nyerinya, Akhwari terus berlari hingga mencapai finish.

Setelah usai, Akhwari ditanya oleh wartawan mengapa ia terus berlari. Akhwari menjawab sederhana, "Negaraku tidak mengirim aku sejauh 5000 mil ke Mexico City untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikannya."

Akhwari tak ingin mengecewakan negara dan seluruh rakyat Tanzania. Karena Akhwari berangkat mengikuti Olimpiade tersebut menggunakan uang yang berasal dari rakyat Tanzania. Negaranya tidak mengirimkannya untuk hanya memulai lomba, tapi juga untuk mengakhirinya. Ribuan dollar uang rakyat harus disisihkan untuk memberangkatkan seorang atlet ke Olimpiade. Tak pelak, Akhwari memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bukan karena ia meraih emas. Tapi karena dedikasinya menyelesaikan lomba walau dalam keadaan luka parah.

Dedikasi Akhwari, membuat namanya digunakan oleh 'John Stephen Akhwari Athletic Foundation', sebuah organisasi yang mendukung pelatihan atlet Tanzania untuk Olimpiade. Akhwari juga diundang untuk Olimpiade tahun 2000 di Sydney, Australia. Dan kemudian juga muncul di Beijing sebagai duta dalam persiapan untuk Summer Olympics 2008.

Kisah Akhwari tak bisa dilakukan banyak orang. Bisa jadi hanya dialah sendiri yang mampu melakukannya. Namun bagi kita, perjuangan Akhwari tetap menjadi istimewa. Dia tidak hanya menanamkan mimpi di kepalanya untuk menjadi terbaik, tapi juga mencapainya dengan semaksimal mungkin.

Hambatan yang ada hanyalah riak kecil yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Sejatinya hambatan yang ada di depan mata bukanlah rintangan, melainkan tantangan. Bagaimana kita bisa menaklukkannya adalah tergantung pada niat dan keinginan yang kita miliki. Akhwari dengan tekad yang kuat, dan keteguhannya mengemban amanat adalah sebuah dorongan yang teramat dahsyat untuk menaklukkan semua masalah. Teruslah berlari menggapai mimpi-mimpimu.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009

Rabu, 10 Maret 2010

Menentukan Tujuan Hidup


Oleh: Andrew Ho *

"Life is a promise; fulfill it. – Kehidupan ini adalah sebuah janji; Penuhi janji itu."
Mother Teresa


Tujuan hidup adalah keyakinan, moral, atau standar yang akan mengendalikan hidup kita, sebab ia (tujuan hidup) memandu pola pikir dan perilaku kita. Contoh seorang ayah ingin meluangkan waktu bersama anak lelakinya. Ia merencanakan nonton pertandingan sepak bola. Tetapi ia kecewa karena mobilnya terjebak macet parah.

Sesaat kemudian ia segera melupakan rasa kecewa dan kembali ceria, sebab ia ingat tujuannya adalah meluangkan waktu bersama anak tersayang. Nonton bola hanya sarana untuk mencapai tujuan dan bisa diganti dengan cara lain. Lalu ia mampir ke sebuah kafe di pinggir jalan dan ia merasa senang karena benar-benar mencapai tujuannya yaitu menghabiskan waktu berdua dengan anaknya sepanjang hari.

Contoh lain misalnya dulu menikah tujuannya untuk mencari kebahagiaan berdua. Tetapi setelah dalam proses beberapa tahun, justru masing-masing mencari kesenangan sendiri-sendiri. Proses yang berat atau bahkan sangat mudah terkadang membuat kita lupa pada tujuan semula, sehingga menimbulkan kehancuran, kecewa, kesedihan, dan hal negatif lainnya.

Itulah mengapa tujuan hidup begitu penting, sebab tujuan hidup menjadikan sikap, perkataan, dan perbuatan kita tetap fokus dan kosisten. Tak jarang segala macam kejadian yang kita alami mempengaruhi emosi dan pengambilan keputusan, sehingga kondisi dan tujuan ikut berubah. Dengan kembali memikirkan tujuan hidup maka kita dapat menemukan makna dan kepuasan dari segala sesuatu yang kita lakukan.

Memiliki tujuan hidup juga dapat membangkitkan seluruh potensi dan membantu kita menemukan kekayaan sejati. Sebab tak jarang, tujuan hidup itu menggerakkan kita secara aktif, kreatif, dan disiplin dalam melakukan langkah-langkah ekspansi. Dengan kata lain, tujuan hidup itu menjadikan energi dan vitalitas kita meningkat dalam upaya mencapai sesuatu yang jauh lebih bermakna.

Tujuan hidup juga akan membantu kita menggunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik mungkin, sebab kita mengetahui kemana akan menuju. Coba bayangkan jika setiap bangun tidur kita tak mengerti apa yang harus dilakukan? Tanpa tujuan hidup yang jelas akan membuat kita cenderung menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, tidak mampu bertindak cepat dan senang menunda-nunda pekerjaan.

Memiliki tujuan hidup merupakan hal yang menakjubkan. Oleh sebab itu, maka langkah pertama dan terpenting dalam mengarungi kehidupan adalah menentukan tujuan hidup. Beberapa hal berikut mungkin dapat membantu Anda segera menemukannya (tujuan hidup).

Langkah pertama dalam menentukan tujuan hidup adalah mengenali diri sendiri; apa kekurangan dan kelebihan, apa yang Anda sukai dan inginkan. Keinginan hati yang terdalam seringkali menjadi motivasi yang kuat untuk melakukan langkah-langkah pencapaian. Orang-orang yang terkenal di dunia karena prestasi mereka umumnya memiliki tujuan hidup yang berkaitan erat dengan apa yang ada dalam diri mereka, terutama keahlian dan apa yang mereka sukai.

Tujuan hidup haruslah baik. Leo Nikolaevich Tolstoy (1828-1910), seorang pemikir dan novelis Rusia, mengatakan, "Satu-satunya arti kehidupan adalah mengabdi pada kemanusiaan. " Maka pastikan tujuan hidup Anda berkaitan erat dengan kebaikan dunia sekitar & semua orang, memberi kebahagiaan dan ketenangan; tidak menimbulkan kekesalan, kecurigaan, amarah, kesengsaraan apalagi peperangan, serta hal-hal negatif lainnya.

Dalam menentukan tujuan hidup, Anda harus memikirkan kemana akhir perjalanan hidup Anda. Langkah ini hampir sama dengan memikirkan bagaimana tipe pekerjaan yang Anda inginkan, tipe rumah yang Anda sukai, dan lain sebagainya. Terlebih dahulu deskripsikan kehidupan ideal itu, yang membuat Anda benar-benar merasa senang, sehingga dengan senang hati pula Anda menciptakan kemajuan-kemajuan serta menikmati sensasi tantangannya.

Untuk menentukan tujuan hidup, Anda juga harus menggunakan akal sekaligus hati nurani. Sebab kehidupan yang terbaik adalah selaras dengan pikiran dan hati. Banyak orang lebih bahagia dan sukses, karena mereka hidup dalam keseimbangan; dalam arti menjalankan moral-spiritual, mendapatkan ketenangan dan kepuasan batin, memiliki bisnis, karir dan keuangan yang baik, keharmonisan keluarga, kebugaran fisik, kehidupan sosial menyenangkan, dan lain sebagainya.

Menentukan tujuan hidup adalah langkah hidup terbesar yang akan membuat Anda mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Sebab tujuan hidup yang jelas menjadi sebuah peta untuk membimbing Anda tiba tepat pada tujuan. Jadi jangan tunda lagi, segera tentukan tujuan hidup Anda, sekarang!

*) Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku Bestseller.

Kok, Takut Berbuat Salah?

Oleh: Syahril Syam *

Tanggapilah dengan pandai bahkan terhadap perlakuan tidak pandai sekalipun.
- Lao Tsu -


Dalam sebuah wawancara, seorang reporter menanyakan rahasia dibalik sukses seorang direktur utama bank.

“Dua kata”, jawabnya.
“Apa saja?”, kejar sang reporter.
“Keputusan jitu.”
“Bagaimana membuat keputusan yang jitu?”
“Satu kata.”
“Apa itu?”
“Pengalaman.”
“Bagaimana Anda menimba pengalaman?”
“Lima kata.”
“Apa saja?”
“Dengan membuat keputusan yang salah.”

Sering kali kita menghindari kesalahan atau kegagalan. Kita tidak ingin terlihat bodoh, malu, atau dipecundangi oleh orang lain. Dalam setiap penampilan kita, ketika bergaul dengan orang lain, kita selalu ingin terlihat sempurna. Bahkan, terdapat sebuah pemikiran yang berkembang, bahwa kalau kita berbuat kesalahan, maka kita tidak saja membuat malu diri kita, tapi juga orang tua kita. Kenapa? Karena orang tua kita telah salah mendidik kita. Begitulah yang sering dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Agar kita tidak membuat malu orang tua, maka kita harus tampil sempurna. Yang lebih parah lagi, orang tua pun sering memaksakan anaknya untuk tampil sempurna, dan jangan berbuat kesalahan/kegagalan . Di tambah lagi dengan lingkungan tempat kita tinggal dan bergaul. Seringkali sebuah lingkungan tidak menerima orang yang berbuat kesalahan. Apalagi jika kesalahan itu memberi aib pada lingkungan tersebut.

Lingkaran-lingkaran inilah yang sering mempengaruhi kita, sehingga bertambah besarlah keinginan kita untuk menghindari yang namanya kesalahan/kegagalan . Namun, cobalah untuk menyimak sebuah kata bijak berikut ini: “Kalau Anda takut berbuat kesalahan, maka sesungguhnya Anda tidak pernah melakukan apa-apa.” Kok bisa demikian? Marilah kita ambil sebuah contoh, sesuatu yang ingin dilakukan dahulu oleh hampir semua orang ketika beranjak remaja: NAIK SEPEDA.

Saya pun dulu sangat ingin merasakan naik sepeda (sepeda roda dua, bukan sepeda roda tiga). Namun, ketika mencobanya untuk pertama kalinya saya sering terjatuh. Saya bahkan meminta tolong orang tua atau teman, bahkan tetangga, agar membantu saya belajar menaiki sepeda tersebut. Saya sudah lupa berapa banyak saya terjatuh (berbuat kesalahan). Hingga akhirnya saya berhasil menguasai sepeda tersebut.

Dan ternyata, untuk sebuah hal baru yang ingin kita lakukan, kita tidak akan pernah langsung bisa, tapi kita pasti bisa jika terus belajar. Hal ini pula yang menjawab pertanyaan: “Siapa bilang saya tidak melakukan apa-apa, kalau saya tidak berbuat salah?” Memang betul kita pun sering melakukan sesuatu, dan kita tidak atau sangat kurang melakukan kesalahan. Misal saja, makan. Hampir (saya katakan hampir, karena ada orang yang tidak makan setiap hari) setiap hari kita makan. Namun, apakah kita lupa, dulu pun kita melakukan kesalahan sewaktu belajar untuk makan sendiri. Jadi, ketidakinginan untuk melakukan kesalahan, berarti kita hanya berada pada lingkaran aktifitas yang hanya itu-itu saja, tidak mengalami perkembangan.

Hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas melakukan kesalahan. Karena, ada juga orang melakukan kesalahan, dan itu bukan untuk perkembangan dirinya, kecuali orang tersebut mengakui kesalahannya dan mau untuk belajar. Misalnya saja, mencuri. Ini pun sebuah bentuk kesalahan, namun bukan kesalahan yang saya maksudkan di sini. Secara sederhana kita dapat membedakannya dengan: KESALAHAN YANG DISENGAJA DAN KESALAHAN YANG TIDAK DIKETAHUI.

Salah satu kemampuan tubuh manusia adalah adaptasi. Kalau kita berada di musim panas, dan secara tiba-tiba terjadi pergantian musim menjadi musim dingin. Maka, kita akan setengah mati menghadapinya. Ini disebabkan karena tubuh kita belum terbiasa dengan perubahan suhu yang mendadak. Namun, lambat laun tubuh kita akan beradaptasi, sehingga membuat kita dapat tetap bertahan di musim dingin. Pada proses adaptasi inilah, sering kita melakukan kesalahan/kegagalan .

Awalnya kita belum terbiasa naik sepeda roda dua. Namun, lewat proses pembelajaran kita pun dapat beradaptasi/ terbiasa dengan sepeda roda dua. Nah, pada proses pembelajaran ini kita sering melakukan kesalahan/kegagalan . Dan, kita belajar dari kesalahan/kegagalan tersebut. Kenapa dalam proses adaptasi kita sering melakukan kesalahan/kegagalan ? Karena kita belum memiliki kemampuan untuk sesuatu yang baru. Inilah keterbatasan pengatahuan kita.

Jadi, dengan menyadari keterbatasan pengetahuan kita, maka kita terus-menerus melakukan proses pembelajaran untuk hal-hal yang baru. Dan di dalam melakukannya akan sering terjadi kesalahan/kegagalan . Jadi, kesalahan/kegagalan adalah sebuah pengetahuan yang baru bagi kita, sampai kita mendapatkan pengetahuan yang kita inginkan. Itulah sebabnya saya menyamakan kata “kesalahan” dengan kata “kegagalan”. Walaupun ada jenis kegagalan yang tidak mendidik. Misalnya saja, pernyataan, “Saya gagal mencuri hari ini!” Jadi, kesalahan/kegagalan adalah sebuah proses alamiah yang harus kita lalui untuk mendapatkan pengetahuan baru (harapan baru).

Beda halnya dengan kesalahan yang dilakukan dengan sengaja. Walaupun demikian, sesungguhnya dalam kesalahan yang disengaja pun orang melakukan kesalahan/kegagalan lagi. Misalnya saja, untuk menjadi pencuri ulung, diperlukan banyak kesalahan/kegagalan agar mahir melakukannya. Bukan hanya pelajaran itu saja yang didapatkan. Kalau kita ingin meningkatkan kualitas hidup kita, maka kesalahan yang disengaja pun dapat memberikan pembelajaran/ pengetahuan baru bagi kita. Jadi, bukan saja, seberapa banyak kesalahan yang Anda lakukan (baik alamiah atau disengaja), tapi, apakah kita mau untuk meningkatkan kualitas diri kita?

Mungkin itulah sebabnya Tuhan itu Mahapengampun, asal niat kita untuk meningkatkan kualitas diri kita (dengan betul-betul bertobat). Karena setiap kesalahan, baik alamiah atau disengaja, sesungguhnya memberikan pelajaran bagi kita. Dan itu semua tergantung pada pandangan kita, apakah mau meningkatkan diri atau menjatuhkan martabat diri?

Terdapat sebuah kalimat indah dari Anthony Robbins, “Tidak ada hal-hal seperti kegagalan. Yang ada hanya hasil. Anda selalu membuat hasil. Kalau itu bukanlah yang diinginkan, Anda cukup mengubah tindakan dan memperoleh hasil baru.” Ini berarti bahwa setiap kesalahan/kegagalan adalah hasil yang harus kita pelajari untuk sampai pada hasil yang diharapkan.

Ingat! SAYA harus sering menerima dan belajar ketika melakukan kesalahan yang alamiah karena di dalamnya terdapat sebuah proses pembelajaran. Karena lewat cara itulah SAYA dapat terus BERBUAT dan BERKEMBANG!

*) Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat.
__._,_.___

Senin, 03 Agustus 2009

Selamat Pagi, Anda Kena PHK!

Seorang Chief Operating Officer sebuah perusahaan ternama dunia hari itu datang kekantornya yang megah tepat jam 7 pagi. Sang pemilik perusahaan memasuki ruang kerjanya tak lama kemudian. Setelah berbasa-basi sedikit, beliau berujar;

"My friend," katanya. "Aku bangga dengan hasil kerjamu selama ini," lanjutnya. Sang CEO tentu saja bahagia mendengar pujian bossnya itu.

"Namun," lanjut si boss. Kali ini, hati CEO itu mulai dihinggapi tanda tanya besar.

"Para stakeholders kita menginginkan untuk menggantikanmu dengan seseorang yang lebih baik....."

Saat itu juga, pagi yang cerah seakan-akan berubah menjadi gelap gulita sambil sesekali dikilati cahaya dari bunyi petir dan gelegar halilintar yang membuat jiwa bergetar.

Sang CEO hanya bisa terpana. Seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Seandainya, Boleh jadi anda mengira bahwa percakapan diatas itu sekedar rekaan belaka. Tapi, jika anda mengikuti perkembangan dunia bisnis internasional akhir-akhir ini; anda akan menemukan bahwa pembicaraan semacam itu sungguh-sungguh terjadi didunia nyata.

'Korbannya'? Banyak. Mulai dari orang nomor satu di bank terkemuka. Pemimpin perusahaan farmasi tercanggih. Hingga raksasa minuman berbahan dasar kopi yang aroma ketenarannya sampai kesini. Bahasa politik boleh mengatakannya dengan halus, semisal; pensiun dini atau golden shake hand.

Tetapi, dalam bahasa kita; itu tidak beda dengan tiga huruf mengerikan bernama P. Dan H. Dan K. Sounds familiar, right? Yes, that PHK.ta itu tidak ditujukan kepada CEO yang sedang kita bicarakan itu. Melainkan kepada anda.

What are you going to do?

Anda tentu masih ingat kisah tragis legendaris yang menimpa kapal pesiar Titanic yang tenggelam pada tanggal 14 April 1912. Peristiwa itu diperkirakan menelan 1,500 korban jiwa.

Para ahli mempercayai bahwa faktor utama yang menyebabkan banyaknya jumlah korban jiwa bukanlah semata-mata tenggelamnya kapal tersebut, melainkan; kurangnya jumlah sekoci yang ada dikapal itu dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ada. Mereka begitu yakin bahwa Titanic tidak bisa tenggelam. Jadi, mengapa harus menyediakan sekoci?

Konon, ketika perisiwa itu terjadi; sesungguhnya masih banyak waktu untuk melakukan penyelamatan. Namun, karena jumlah sekoci penyelamat hanya sedikit, hanya sebagian kecil saja yang bisa diselamatkan.

Dalam kehidupan kerja pun kita sering berpikir seperti itu. Kita begitu yakin bahwa kapal yang kita gunakan untuk mengarungi samudera dunia kerja ini tidak akan tenggelam. Sehingga kita tidak merasa penting untuk memiliki sekoci.

Tetapi, berapa banyak sudah perusahaan yang gulung tikar dan kemudian tenggelam seperti halnya Titanic? Jika kita boleh berkata tanpa sensor, sesungguhnya dunia kerja kita lebih beresiko daripada Titanic. Apa yang terjadi pada Titanic adalah musibah bagi semua penumpang. Semua orang menghadapi masalah yang sama. Sebab; orang baik tidak ditendang keluar dari kapal.

Tetapi, dalam sebuah perusahaan; sudah sering terjadi seorang karyawan ditendang keluar dari bahtera perusahaan semudah itu. Seperti peristiwa yang menimpa sang CEO diatas itu.

Jika itu bisa terjadi kepada pimpinan puncak sebuah perusahaan; maka tidak heran jika bisa dengan sangat gampangnya menimpa karyawan-karyawan dilevel lainnya. Ya. Tentu saja. Anda sudah tahu itu. Bahkan mungkin sudah banyak teman anda yang terkena PHK juga. Sayangnya, saat ini pun kita masih begitu yakinnya untuk mengatakan bahwa kita tidak akan mengalami nasib seperti itu.

Seseorang menganggap saya ini terlampau pesimis dalam memandang masa depan pekerjaan. Saya bilang;"Ada bedanya antara sikap pesimis dengan sikap antisipatif.

Seseorang yang pesimis, memandang dari sisi negatif, dan dia tidak melakukan apa-apa untuk mempersiapkan dirinya, kecuali memelihara perasaan was-was. Sedangkan, orang yang antisipatif, memandang sebuah resiko secara rasional dan proporsional. Lalu dia mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi sulit jika terjadi sewaktu-waktu. "

PHK adalah resiko kita sehari-hari. Kita tidak perlu terlampau percaya diri dengan mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi pada kita. Atau sebaliknya terlalu takut jika mengalaminya. Sebab, selama kita 'mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kemungkinan itu,' maka yakinlah bahwa masa depan kita akan baik-baik saja.

Paling tidak, kita tidak terlampau syok, jika itu benar-benar terjadi. Dan yang lebih penting dari itu adalah; memulai mempersiapkan 'sekoci' itu dari saat ini. Sekoci yang selalu siap digunakan jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya.

Begitu beragamnya reaksi orang ketika terjadi PHK.

Ada yang panik.
Ada yang biasa-biasa saja.
Ada pula yang senang alang kepalang.
Ada orang yang mendapatkan 'golden shake hand' tetapi hatinya miris dan menghadapi dunia didepannya dengan tatapan pesimis.
Ada yang mendapatkan uang pesangon sekedar sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam undang-undang; namun, memandang masa depannya dengan antusias dan optimis.

Mengapa sikap mereka bisa beda begitu ya? Ternyata, orang-orang yang sudah 'mempersiapkan' dirinya untuk situasi sulit seperti itu lebih bisa menghadapi kenyataan itu. Mereka melihat sisi terangnya. Dan mereka menemukan bahwa; itu bukanlah akhir dari segala-galanya.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman yang mengalami 'perlakuan' kurang patut diperusahaan. Menyimak kompleksnya permasalahan yang dihadapinya, tidaklah mudah untuk meresponnya.

Tetapi, tepat sehari sebelum saya menerima email itu, saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Bagi saya, beliau bukan sekedar sahabat; melainkan juga seorang mentor. Puncak karir beliau adalah Direktur Pengembangan Bisnis pada sebuah perusahaan multinasional dengan pengalaman kerja 20 tahun.

Dia bangga dengan pencapaiannya. Dan dia tahu kualitas dirinya yang tinggi. Namun, suatu ketika perusahaan memintanya untuk menduduki sebuah jabatan lain. Jabatan itu levelnya bukan Direktur, melainkan manager biasa. Jelas, orang ini diturunkan pangkatnya.

Dan yang lebih menarik lagi adalah: posisi baru yang harus dipegangnya adalah sebuah posisi yang sebelumnya berada langsung dibawah kepemimpinannya. Sedangkan posisi direktur kini diduduki oleh orang lain.

Itu terjadi tahun 2002. Dan orang itu - dengan segala kualitas diri yang dimilikinya - ketika bertemu dengan saya kemarin; menjadi orang yang lebih berhasil dari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa emas tetaplah emas, meskipun terbenam dalam tanah berlumpur.

Saya sendiri mempunyai prinsip pribadi yang berbunyi; 'bersiap-siap seolah akan terkena phk besok pagi.'

Dengan prinsip itu, sedari sekarang saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Saya belajar banyak hal hari ini, supaya besok bisa menjaga diri.

Jika besok pagi saya mendapatkan PHK itu, sekurang-kurangnya secara mental saya sudah menjadi lebih siap. Sehingga, bebannya mungkin akan menjadi lebih ringan. Apakah anda juga demikian?

Catatan Kaki:
Jika kita berani menaiki sebuah kapal pesiar, maka pasti itu karena kita yakin bahwa kapal itu akan sampai dengan selamat ketempat tujuan. Namun, pasti kita akan merindukan sebuah sekoci jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Melakukan Inisiatif

"Ya, gue cari jalan lain.''
-- Benyamin Sueb dalam `Lampu Merah'

NAMANYA juga orang baru, sudah tentu banyak hal yang dia tidak tahu.
Alkisah, seorang manajer baru masuk kantor tepat di hari pertamanya.
Bukan sambutan hangat yang dia terima, tapi masalah yang dia dapat.
Pagi-pagi sekali, saat hendak membuang hajat ke jamban, dia langsung
dikejutkan oleh air yang menggenang hingga ke lantai.

Si manajer baru yang ternyata polos, tidak bisa berbuat banyak. Dia
langsung balik kanan dan masuk ke kamar direktur utama. Hmm, tentu
saja aneh bin ajaib. Coba tebak apa yang akan dia lakukan? Sekadar
menyapa sang bos lalu basa-basi sebentar, atau hal yang ingin dia
sampaikan?

Ternyata nomor dua yang diambil. Namun sungguh di luar dugaan.
Kepada direktur utama, orang paling tinggi jabatannya di Perfect
Courier di Brooklyn, New York, si manajer baru melaporkan soal
toilet bocor tersebut. Kepada Norm Brodsky, Direktur Utama
perusahaan itu, si manajer bertanya apa yang harus dilakukannya dan
siapakah yang harus bertanggung jawab dengan masalah tersebut. Naif
sekali memang, tapi itulah yang terjadi.

Mendapat laporan dari orang baru itu, Brodsky segera berdiri. Dia
bergegas menuju gudang, mengambil lap dan ember dan masuk ke kamar
mandi. Si manajer lugu itu mengikutinya. Brodsky pun berlaku sebagai
petugas kebersihan. Dia mulai membersihkan toilet yang bocor tanpa
memperhatikan sang manajer baru yang melihat dengan penuh
kebingungan. Setelah selesai, Brodsky pun buka suara. ''Itulah yang
harus kita lakukan di sini jika toilet banjir. Lain kali, kamu harus
melakukannya sendiri,'' ujarnya. Lembut sekali, namun terasa menohok
di dada.

Inisiatif, kata yang sangat akrab di telinga. Di kala semua pintu
sudah tertutup, pada saat itulah inisiatif dibutuhkan. Seekor tikus
yang dikejar kucing dapat lolos karena si tikus mampu mendapatkan
jalan yang tak pernah diduga. Satu lubang kecil dia temukan ketika
semua jalan sudah tertutup. Lewat lubang itulah dia terselamatkan.
Insting, naluri, bisa jadi berdekatan dengan inisiatif.

Semestinya si manajer itu punya akal atau cara lain untuk mengatasi
masalah yang dihadapi. Insting atau nalurinya harus dipakai untuk
sekadar mengepel dan membersihkan lantai, tapi nyatanya dia langsung
mengalami kebuntuan. Akibatnya, si direktur pun jengkel berat.

Untunglah manajer seperti itu hanya ada di Amerika Serikat. Di
negeri sendiri, justru kita bernafas lega. Di Belitung Timur, ada
orang namanya Basuki Tjahaya Purnama. Sehari-hari dia dipanggil
Ahok. Dia bukanlah orang sembarangan di tempat itu. Jabatannya
Bupati alias Kepada Daerah Tingkat II, untuk periode 2005-2010.

Ahok teramat istimewa. Ketika daerahnya tak memiliki cukup dana
untuk memenuhi kebutuhannya, dia tidak lantas mentok akal lalu
mengadu pada pemimpin yang lebih tinggi. Tahu apa yang
dilakukannya? Pendidikan di daerahnya, mulai dari sekolah dasar
hingga sekolah menengah atas, dia bebaskan dari biaya alias gratis.

Dari mana dia mendapatkan biaya untuk itu? Ini yang luar biasa. Ahok
melakukan inisiatif yang sesungguhnya. Dia memotong tunjangan
jabatannya. Inisiatif lainnya dia berunding dengan para guru.
Hasilnya, dana bantuan operasional sekolah alias BOS dipakainya
tidak lagi untuk memperbaiki pagar sekolah tapi dialihkan membiayai
pendidikan gratis tersebut.

Kreativitas atau inisiatif pun dilakukan di bidang kesehatan. Lagi-
lagi, Ahok memotong sebagian besar tunjangan jabatannya. Orang
menjadi sakit karena dia tidak memiliki cukup untuk mencapai standar
hidup sehat. Itulah yang ada di kepalanya. Nah, karena itu pula yang
menyebabkan para pasien tak bisa datang ke dokter.

Dia pun membebaskan biaya pengobatan pada warganya, mulai dari
puskesmas hingga rumah sakit di Pangkal Pinang, Ibu Kota Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung. Dengan cara itu, pasien puskemas
meningkat sampai 300 persen dari 20 orang menjadi 60 orang per hari.

Dua cerita itu jelaslah betapa inisiatif merupakan hal penting bagi
siapa pun dan di mana pun. Inisiatif yang keluar dari tindakan
seseorang akan menentukan kualitas manusia itu sendiri. Alangkah
kacaunya bila semua keputusan, apalagi dalam sebuah keadaan yang
genting, harus menunggu perintah dari atasan, dengan alasan tidak
ingin dianggap salah.

Dalam pekerjaan dan kehidupan yang kita jalani, diperlukan tindakan
inisiatif. Inisiatif perlu dilakukan tanpa harus menunggu dahulu
apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus melakukan. Pada
akhirnya, apa pun inisiatif yang dilakukan seseorang, akan sangat
berguna bagi kebanyakan orang lain. Sekecil apa pun tindakan yang
dilakukan, sudah jelas akan menghasilkan manfaat yang luar biasa.
Selain itu, dengan berinisiatif, menunjukkan sebuah keberanian untuk
bertindak. (140708)

Sumber: Melakukan Inisiatif oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di
Jakarta

Till The Death Do Us Apart

Till The Death Do Us Apart

“Sekali di Udara Tetap di Udara.”
-- Motto Radio Republik Indonesia

MASIH ingat iklan deodoran di tahun 1980-an? Singkat tapi luar biasa indahnya. ‘Setia Setiap Saat’ begitu bunyi iklannya. Deodoran berbentuk stik dan bola di ujungnya itu digadang-gadang ampuh untuk menghilangkan bau badan sampai kapan pun juga, alias setiap saat.

Soal benar atau tidaknya, si pembuat iklan atau produk tersebut sudah punya jawaban tersendiri. Kalau baru sepuluh menit bau badan sudah muncul, pasti terjadi sesuatu. Apaan tuh? Salah pemakaian atau si pengguna deodoran terlalu aktif. Keringat meluncur deras, alhasil, aroma tak sedap dari ketiak pun menyembur.

Setia pada akhirnya memang menjadi kosa kata yang bisa diperdebatkan dengan buih busa di mulut alias menjadi dialog yang bisa tidak berkesudahan. Terlalu banyak hal yang bisa mempengaruhinya.

Kesetiaan bukanlah harga mutlak dari sebuah ikatan. Bagaimana seorang karyawan dapat menjadi setia pada perusahaannya, bila dia mengetahui si bos ternyata tidak jujur dalam mengumumkan laba yang diterima kantornya. Padahal dia sudah mati-matian mendatangkan keuntungan bagi perusahaannya.

Begitu pula dalam sebuah ikatan kasih sayang atau lebih sakral: perkawinan. Ikatan itu tentu didasari oleh sebuah kesepakatan di antara dua pelakunya. Mereka sepakat untuk bersatu dan berbagi peran untuk mencapai sebuah tujuan.

Nah, kalau di antara kesepakatan itu sudah dilanggar, entah karena sakit atau lain hal, sehingga tujuan bersama tidak lagi bisa dicapai, apakah keliru untuk tidak sepakat lagi? Alhasil, jalan perpisahan atau perceraianlah yang diambil. Bukankah perpisahan juga merupakan bentuk kesepakatan untuk tidak sepakat lagi? Pilihan yang sulit tapi merupakan jalan keluar yang pahit, tapi tetap lebih baik ketimbang harus bersama namun salah satu pasangan sudah merasakan tidak ada lagi kecocokan.

Alangkah sulitnya memahami sebuah ketidaksetiaan seseorang yang berada di luar dunia kita. Toh, hanya mereka berdua yang menjalaninya. Tentu tidaklah mudah bagi kita untuk menjaga kesepakatan itu bila kita sendiri yang menjalaninya.

Itulah yang terjadi ketika seorang perempuan muda menggugat cerai suaminya yang sudah tua renta, yang merupakan artis veteran di tahun 1980-an. Padahal sebelumnya, dalam sebuah wawancara di televisi, perempuan muda itu mengatakan, dirinya akan mencintai dan tetap setia pada pasangannya. Jangan hanya mencintai pasangan ketika gagah dan masih berkecukupan saja, begitulah kira-kira pernyataannya ketika itu sebelum ia menggugat cerai suaminya.

Tentu orang luar melihatnya dalam kaca mata yang berbeda. Apalagi infotainment, kalau dipisah-pisahkan per kata, berarti ‘info’ yang menghibur, tapi menghibur untuk siapa sebenarnya? justeru menggempur penontonnya dengan tayangannya itu, makin menyudutkan si perempuan tersebut.

Cap negatif pun tercetak, ia dikatakan sebagai perempuan yang tidak setia. Padahal, tentu banyak faktor yang menyebabkan si wanita itu menjadi ‘tidak setia’, seperti yang diembuskan infotainment. Namun, siapa pun lebih suka menjauh ketimbang berempati.

Bagaimana pun ketidaksetiaan menjadi makanan yang lezat untuk digunjingkan. Sebaliknya, kesetiaan yang diagung-agungkan malah menjadi sekadar nyanyian sepi.

Anda masih ingat dengan Christopher Reeve? Reeve merupakan aktor utama pemeran Superman. Reeve menikah dengan model cantik, Dana Charles Morosini, April 1992. Dana tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Ia lulus dengan predikat cum laude di Middlebury College.

Pernikahan yang dijalani Dana Reeve pada awalnya berjalan begitu menyenangkan. Mereka dikarunia satu orang anak. Hingga akhirnya di tahun 1995, setelah 3 tahun menikah, Christopher Reeve mengalami kecelakaan yang mengubah perjalanan hidup pasangan itu selanjutnya. Reeve terjatuh dari kuda. Kecelakaan itu menyebabkan Reeve mengalami kelumpuhan yang menyebabkan ia harus terus berada di atas kursi roda.

Dana Reeve membuktikan kesetiaan terhadap suaminya dengan merawatnya penuh kesabaran, tanpa menggerutu. Dana sepenuhnya sadar, bahwa ia tidak dinafkahi lagi secara lahir bathin oleh suaminya, walau saat itu usianya baru 34 tahun. Setelah merawatnya tanpa lelah sedikitpun selama 9 tahun, Dana harus berpisah juga dengan suaminya. Christopher Reeve menghembuskan nafas terakhir pada 10 Oktober 2004. Sepeninggal Reeve, Dana tetap membesar anak tunggalnya dengan penuh kebaikan dan kesabaran. Atas dedikasinya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya, tahun 2005, American Cancer Society menganugerahinya ‘Mother of The Year Award’. Bahkan sejak suaminya lumpuh, Dana menjadi pembicara motivasi bagi para penyandang cacat dan lumpuh. Dana akhirnya menyusul suaminya karena kanker paru-paru, ia meninggal pada 6 Maret 2006, atau 2 tahun setelah suaminya meninggal.

Aktor Superman Christopher Reeve dalam hidupnya benar-benar mendapat karunia yang luar biasa. Ia menikahi Superwoman yang sesungguhnya. Dana Reeve memang terlahir cantik, cerdas, dan kaya. Dana bisa menikah kapan saja kalau ia mau. Kesetiaan terhadap suaminya telah membuktikan kisah kasihnya yang luar biasa.

Kesetiaan Dana atau ketidaksetiaan perempuan yang disebut di atas intinya adalah cermin dari ketahanan mental seseorang dalam menjalani dan mempertahankan komitmen-komitmenny a terhadap pasangan atau sesuatu yang diyakininya. Pada akhirnya, kita juga, manusia yang menjalaninya, yang bisa menjawabnya dengan pilihan dan sikap. (280708)

Sumber: Till The Death Do Us Apart oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
__._,_.___

Aji Mumpung Yuk!

“Mumpung berkuasa, berbaktilah kepada rakyat.”

-- Evita Peron, Mantan Ibu Negara Argentina, 1919-1952

MUMPUNG dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti ‘kebetulan’. Atau bila kita telaah lagi, bisa juga berarti ’saat masih ada kesempatan’. Mumpung ada uang bisa berarti ’kebetulan ada uang’ atau ’saat masih ada kesempatan memiliki uang’. Mumpung masih muda? Ya, saat masih berusia muda. Begitu sajalah gampangnya.

Lalu kemudian berkembang kata ’aji mumpung’ yang selalu saja konotasinya negatif. Mumpung masih jadi pejabat, bikinlah keputusan yang menguntungkan kolega, sanak famili, atau malah untuk diri sendiri. Contoh untuk yang satu ini bejibun. Di koran, radio, apalagi di televisi hampir tiap hari muncul si penganut aji mumpung.

Di televisi juga kita lihat wanita muda yang cantik luar biasa terlihat pontang-panting mencari sumber pemasukan. Bermain sinetron dia hayuh aja, menjadi presenter juga siapa takut. Eh, sampai-sampai menyanyi, meski suaranya kurang merdu, juga dijabanin. Yang terakhir, banyak pula artis yang mencoba peruntungan di dunia politik. Tak sedikit politisi yang kebakaran jenggot, karena lahannya ikut-ikutan diserobot. Banyak memang yang meragukan kemampuan si artis. Tanpa pengalaman apa-apa, mereka kemudian masuk daftar calon bupati. Wah, keren banget.

Apakah salah hal itu? Tentu saja tidak. Namun seperti kebanyakan orang, kadang pula kita jatuh kecewa dengan tindakan dan perilaku mereka. Aya naon? Karena kita tahu kapasitas mereka untuk itu belumlah cukup. Kalaulah mereka dicomot masuk dalam politik, semata karena mereka hanyalah dijadikan penarik suara alias vote getter yang umum terjadi di mana-mana.

Nah, sekarang marilah kita lihat diri kita sendiri. Apakah tubuh kita masih tegap? Apakah kaki dan tangan kita masih mampu berlari mengejar bus atau bergelantungan di kereta listrik yang selalu sesak? Lalu bagaimana dengan semangat kita? Masih banyakkah stoknya?

Setelah mendapatkan jawaban itu semua, yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, segeralah dan ayo kita ber-aji mumpung persis seperti pejabat yang koruptor atau selebriti yang menyikat apa saja pekerjaan yang datang padanya.

Mumpung kita masih memiliki penghasilan, sisihkanlah paling tidak untuk masa depan nanti kelak. Atau bila berlebih, segera cari mereka yang membutuhkan untuk kita bantu. Di negeri yang makin semrawut ini, tentulah tidak sulit untuk mendapatka mereka yang memang membutuhkan bantuan.

Mumpung kita masih muda, perbanyaklah kesempatan untuk mengejar cita-cita yang sudah lama mengendap dalam diri kita. Segeralah mengusir kemalasan yang ada. Karena pada intinya, waktu tidak pernah berhenti. Orang yang lengah, selalu menyadari saat dirinya belum banyak mengalami kemajuan dibandingkan dengan teman-temannya.

Mumpung masih ada umur, banyak-banyaklah berbuat amal. Mumpung orangtua masih hidup, bahagiakanlah mereka, walau hal itu mungkin menunda kesenangan kita. Mumpung uang masih berkecukupan, berilah pendidikan yang terbaik untuk anak. Mumpung menjadi Ketua RT, layanilah warganya dengan baik, walau tidak digaji sekalipun. Mumpung kita mempunyai kelebihan, berbagilah terhadap sesama. Dan tentu saja, mumpung kita masih hidup, berbuatlah sesuatu yang bermakna untuk lingkungan dan orang-orang sekitar kita.

Semua adalah aji mumpung, dan siapapun tentu sepakat bahwa untuk aji mumpung yang seperti ini, tak ada satu orang yang akan menghalanginya. Semakin lekas kita berbuat sesuatu, agar kesempatan itu tidak segera berlalu, kian beruntunglah kita dalam mengisi hidup ini.

Nah, sekarang, setelah membaca tulisan ini, bila Anda berada di depan monitor, segeralah selesaikan pekerjaan, mumpung bos belum datang. Jangan ditunda ya. Bila jam istirahat telah tiba, segera telpon suami, isteri, atau anak, walau hanya sekedar mengatakan ’i love you’ saja. Yah, mumpung jam istirahat kan. Setelah semua urusan selesai, Anda pun bisa melakukan kegiatan lain yang tentu saja Anda senangi dan bermanfaat bagi Anda di masa nanti. Buruan, mumpung masih ada waktu. (040808)

Sumber: Aji Mumpung Yuk! oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri

“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”

-- Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916

SEWAKTU masih kecil, mungkin Anda pernah mendengar kisah adaptasi yang berjudul ‘The Little Engine That Could’? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak menuju bukit dengan perlahan dan tersendat-sendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.” Kereta pun terus bergerak naik perlahan hingga tiba di atas bukit dengan selamat.

Pelajaran sederhana yang dapat diberikan dalam cerita tersebut ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Jika seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir dengan menyedihkan.

Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan hal yang sama. William Arthur Ward, seorang penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.

Kisah heroik sang lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia . Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang terus menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya akan kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan tentu saja diiringi oleh kerja keras yang tidak mengenal lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi yang luar biasa.

Hendrawan pun membuktikan kemampuannya setelah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Pada tahun itu juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Dan pada tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.

Percaya akan kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal umur, pekerjaan, status, dan jenis kelamin sekalipun.

Generasi sekarang mungkin hanya mengenal nama Mak Erot. Seorang tokoh pengobatan legendaris khusus laki-laki yang kini telah tiada. Nama lain yang tak kalah kesohornya yang hampir mirip adalah Mak Eroh. Generasi sekarang mungkin tak mengenal nama ini. Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya. Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.


Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan dirinya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda lagi. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucunya.

Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, sejenis linggis pendek.

Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.

Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.

Dua kisah di atas memberikan hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang kita miliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percayalah akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju. (210708)

Sumber: Percaya Pada Kemampuan Diri Sendiri oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Sisi Gelap Perlu Diwaspadai

"Beware of you dark side" (Yoda Master, Star Wars)

Setiap orang mempunyai suatu sisi gelap. Itulah yang sering
dikatakan orang. Bahkan, seorang humoris dan penulis terkenal
Amerika, Mark Twain, sampai-sampai mengatakan, "Everyone is a moon
and has a dark side he never shown to anybody" (Setiap orang adalah
seperti bulan, mempunyai sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan
kepada orang lain).

Tampaknya, apa yang dikatakan Mark Twain sangatlah benar. Bahkan,
lebih dari sekadar perlu disadari, sisi gelap ini sangatlah perlu
diwaspadai. Masalahnya, dalam kondisi tak terkendali, bagian inilah
yang serin merampas kegemilangan dan kesuksesan yang dirintis susah
payah bertahun-tahun.

Kita ambil contoh saja, mulai dari seorang atlet, artis, politikus
hingga seorang pemuka agama yang punya repu-tasi begitu tersohor,
akhirnya dirusakkan oleh sisi gelapnya sendiri. Biasanya masyarakat
umum mulai menghujat dan menjauhi mereka, tatkala sisi gelap ini
terungkap. Dan, sampai kapan pun sisi gelap ini akan terus menjadi
misteri yang menarik untuk diungkap.

Bicara soal sisi gelap ini memang menarik. Masih ingatkah Anda
dengan kisah legendaris terkenal yang berjudul Dr Jekyll dan Mr Hyde
karya sastrawan Inggris terkemuka, Robert Louis Stevenson?

Dalam kisah ini diceritakan soal seorang dokter terkemuka yang
mempunyai dua sisi kepribadian. Pada suatu saat, dia adalah seorang
dokter yang menolong dan membantu orang, menyelamatkan nyawa orang.
Namun, setelah meminum ramuan tertentu, dia pun berubah menjadi
seorang malaikat maut pencabut nyawa yang berbahaya.

Masih mempunyai hubungan dengan kisah ini, adalah film box office
beberapa tahun lalu yakni Star Wars. Dalam salah satu kisahnya yakni
serial Return of The Sith, diceritakan soal bagaimana seorang Jedi
yang hidupnya terhormat bernama Anakin Skywalkers yang kemudian
berubah menjadi pria yang ganas dan berbahaya.

Dua sisi

Kedua tokoh ini pada dasarnya mengingatkan kita soal dua sisi dalam
kehidupan kita. Itulah sebabnya salah satu psikolog terkenal, Carl
Gustav Jung, menyebutkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat
bagian yang disebutnya dengan shadow (bayangan).

Shadow ini berisi pribadi sisi gelap yang merupakan kumpulan
insting, naluri, dan dorong-dorongan negatif dalam kehidupan kita.
Bagaimana nyatanya shadow ini bersemayam pada diri setiap orang,
perhatikanlah kedua kisah nyata ini.

Pertama, ada seorang ulama yang setiap hari berbicara soal agama dan
memberikan kuliah soal moralitas. Akhirnya, begitu banyak orang
mengaguminya karena sering tampil di depan publik dengan retorikanya
yang begitu menggugah dan meyakinkan, khususnya jika dia mulai
bicara soal moralitas.

Pengikutnya bahkan berkembang dan fans-nya banyak. Namun, tanpa ada
yang tahu, si ulama ini ternyata banyak membohongi pengikutnya
dengan mengutip uang dari mereka-mereka yang dengan tulus
mendermakan uang untuk membantu proyek sosialnya. Akhirnya,
kebohongan ini pun terkuak. Saat ketahuan, ternyata sudah bermiliar
rupiah dikutip oleh ulama ini dari pengikutnya. Dia pun akhirnya
dikucilkan.

Kisah kedua menyangkut seorang direktur sebuah perusahaan yang
kehidupannya membingungkan bagi orang-orang di sekitarnya. Di depan
publik, si direktur yang juga banyak berbicara di forum-forum
nasional ini banyak berbicara tentang manajemen yang jujur dan penuh
integritas.

Dia pun mengajari orang soal bekerja sebagai ibadah dan menasihati
orang soal keagamaan. Namun, di sisi lain, orang-orang sekitarnya
mengetahui bahwa dirinya sangat manipulatif bahkan biasa
menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan.

Nah pembaca, kedua kisah ini menggambarkan contoh bagaimana sisi
gelap bekerja pada diri setiap orang, tidak peduli betapa terhormat
dan bagaimanapun situasinya. Kenyataannya ini yang terkadang jarang
disadari dan bahkan kadang sulit ditoleransi oleh orang-orang, saat
sisi gelap ini muncul ataupun terungkap.

Bagaimana menyikapi sisi gelap pada diri kita dan orang lain? Hal
terpenting, seperti diungkap oleh psikolog yang berbicara soal sisi
gelap ini, yakni Carl Jung adalah kesadaran dan penerimaan bahwa
setiap orang memiliki shadow-nya sendiri-sendiri.

Inilah bagian sisi yang oleh agama dan ajaran religius kita
kerapkali disebut juga sebagai dosa. Karena itu, perlu dipahami
bahwa sangat mudah bagi setiap orang untuk terjebak dalam sisi
gelapnya. Namun, menyadari kecenderungan ini bukannya kita lantas
harus tunduk pada sisi gelap ini. Dalam film Star Wars, Anakin
Skywalker yang berubah menjadi jahat, digambarkan dengan bagus
tatkala dia membiarkan sisi gelap mengambil alih kendali atas
hidupnya.

Bagi banyak orang, perjuangan melawan sisi gelap ini merupakan suatu
pertempuran yang paling menarik dalam sebagian besar dari perjuangan
kehidupan manusia. Realita menunjukkan selalu terjadi pertempuran
antara sisi gelap dan sisi terang dalam diri kita hingga memunculkan
salah satu pemenang.

Untuk itulah, seorang penulis yang juga seorang clinical
hypnotherapist Kyle Varner dari Maryland, memberikan tip cara
menyikapi secara positif sisi gelap kita ini. Pertama, menurutnya
adalah menyadari kecenderungan adanya sisi gelap kita. Tidak ada
seorang pun yang luput dari sisi gelap ini. Justru dikatakan mereka
yang paling menggembar-gemborka n bahwa dirinya tidak berada dalam
sisi gelap ini, merupakan mereka yang paling mudah terjerumus dalam
lubang sisi gelap ini. Karena itu, pertama-tama adalah menyadari
pola (pattern) kecenderungan sisi gelap diri kita ini.

Langkah kedua adalah berusaha tidak melawan, tetapi merenungkan
mengapa muncul sisi-sisi gelap tersebut. Di balik sisi gelap
tersebut umumnya ada kebutuhan dan keinginan yang mungkin belum
terpenuhi, atau tepatnya unfinished business dalam kehidupan kita.
Memang sisi gelap tersebut bukannya harus diikuti, tetapi disikapi
secara positif bahwa sisi gelap menunjukkan kemanusiaan kita yang
nyata. Realita menunjukkan semakin kita melawan semakin besar
dorongan dalam diri kita, semakin kita merasa kalut dan terjebak
semakin jauh. Menurut Kyle Verner, dengan menyadari dan menerima
sisi gelap ini terlebih dahulu, barulah kita bisa belajar
mengendalikannya.

Hal ketiga adalah mengarahkan energi sisi gelap tersebut untuk
meraih kualitas hidup kita. Di satu sisi kita mengakui bahwa kita
mempunyai kecenderungan negatif yang muncul dari sisi gelap
tersebut, tetapi hal itulah yang sebenarnya bisa menjadikan hidup
kita lebih kuat. Khususnya jika kita mampu mengendalikan bahkan
menaklukkan sisi gelap tersebut.

Banyak tokoh yang setelah bergumul melawan sisi gelap mereka,
akhirnya justru mencapai kualitas diri yang jauh lebih luar biasa.

Sumber: Sisi Gelap Perlu Diwaspadai oleh Anthony Dio Martin

Mengelola Stres

“Ketika Anda berbicara tentang pendidikan, karir, atau jasa, Anda sedang berbicara tentang kehidupan. Dan kehidupan harus dinikmati. Kehidupan mestinya menyenangkan.”

-- Barbara Bush, mantan Ibu Negara Amerika

DAMPAK krisis keuangan di Amerika terhadap perekonomian global semakin serius. Bahkan Bank Indonesia mengakui krisis yang terjadi di luar prediksi mereka. Saham di Bursa Efek Jakarta diberitakan rontok secara drastis pada awal Oktober kemarin. BEJ pun menutup perdagangan saham selama tiga hari. Pemerintah mengatakan bahwa krisis keuangan di AS akan memberi dua dampak kepada Indonesia , keterbatasan likuiditas dan perlambatan ekonomi. Dampak tersebut akan dirasakan dalam kurun waktu enam bulan hingga satu tahun.

Tetapi, belum enam bulan berjalan, dampak itu sudah terasa di sebagian sektor. Yang paling membuat pening kepala pertama kali, tentu saja para pemangku kepentingan perusahaan dan pemilik saham begitu tahu sahamnya jeblok. Di beberapa daerah, para pengusaha yang mengekspor kerajinannya ke Amerika dan Eropa dikabarkan mengalami penurunan pengiriman barang secara drastis. Hal ini menyebabkan beberapa pengusaha merumahkan karyawannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sementara itu, pedagang barang elektronik kesulitan mendapatkan pasokan barang menyusul kenaikan harga akibat naiknya harga dolar. Sedangkan sebagian turis mancanegara dikabarkan membatalkan kunjungannya ke Indonesia .

Memang ada yang tenang-tenang saja melihat krisis global yang terjadi saat ini. Tetapi, tidak sedikit pula yang ketar-ketir melihat situasi ini. Daya beli masyarakat memang cenderung menurun seiring kenaikan harga BBM yang terjadi pada bulan Mei lalu. Kenaikan harga BBM ini tentu juga mengakibatkan efek domino terhadap naiknya kebutuhan pokok, barang dan jasa lainnya. Sayangnya, kenaikan BBM ini tidak disertai dengan kenaikan pendapatan masyarakat. Nah, dengan ditambah krisis global yang terjadi saat ini, membuat sebagian masyarakat menjadi semakin was-was dan tidak sedikit pula yang menjadi stres.

Stres? Betul. Jika hal ini terjadi, tentu saja akan menambah panjang deretan penderita stres di negeri ini. Mengingat penderita gangguan kejiwaan di negara ini mengalami peningkatan yang signifikan semenjak harga BBM naik. Bahkan WHO sendiri mengingatkan, krisis keuangan global yang terjadi saat ini, bisa membuat banyak orang mengalami depresi, stres, gangguan kejiwaan dan mudah putus asa.

Stres yang dialami seseorang, sejatinya sesuatu hal yang sulit untuk dihindari. Stres memikirkan beban hidup. Stres di tempat kerja atau stres karena sebab lain. Masalahnya adalah bagaimana mengelola stres dengan baik agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan jiwa dan tubuh. Stres yang tak terkendali akan memicu naiknya tekanan darah dan berisiko terkena serangan jantung. Stres dapat pula menaikkan kadar kolesterol dalam darah. Kondisi ini yang nantinya membuat pembuluh darah tersumbat, sehingga penderita rentan terhadap stroke.

Bagaimana tanda-tanda stres dapat dikenali? Ada sejumlah sinyal yang sesungguhnya dapat Anda rasakan ketika Anda mengalami stres, seperti: mudah tersinggung, naiknya tekanan jantung, meningkatnya tekanan darah, merasa berkeringat atau sering menggigil, sulit tidur, sakit kepala, sakit pencernaan, sakit di leher, sakit punggung bagian bawah, mengalami sakit yang tidak biasa, pergi ke toilet lebih sering dari biasanya, lebih banyak merokok dan minum, merasa gelisah tanpa sebab, kehilangan selera makanan, kesenangan atau bahkan seks, selalu dirundung kesedihan, menjadi pelupa, atau gejala-gejala lain yang tidak biasanya

Pada hakekatnya, stres dapat dikendalikan secara dini bila seseorang menyadari datangnya stres di awal. Bagaimana mengelola stres yang terjadi pada diri kita? Beberapa saran berikut semoga dapat membantu Anda.

Melakukan perawatan terhadap tubuh


Anda dapat mengusir stres dengan memanjakan tubuh Anda. Apa saja misalnya? Berendamlah di air hangat. Hal ini dapat membuat Anda merasakan rileks sekaligus mengendurkan otot-otot yang kaku. Pijatan yang lembut di tangan, kaki, dan wajah juga dapat membuat peredaran darah menjadi lancar. Untuk mata Anda, taruhlah irisan buah ketimun di mata sembari terpejam. Anda bisa juga menyalakan lilin amoterapi. Dan dengan diiringi musik alunan lembut, tutup mata anda, dan bayangkan hal-hal yang menyenangkan dalam hidup. Atau Anda dapat juga melakukan pedicure atau facial.

Berolahraga, melakukan meditasi atau yoga

Anda dapat melakukan olahraga yang ringan seperti jogging, jalan sehat, aerobik atau angkat beban. Olahraga membuat tubuh Anda menjadi segar dan sehat, sehingga Anda dapat berpikir dengan jernih. Jika Anda dapat berpikir dengan jernih, maka Anda dapat melihat dan menyelesaikan masalah dengan lebih baik. Anda bisa juga melakukan meditasi atau yoga. Dengan yoga, tubuh akan lebih rileks. Bagaimana bila ketegangan menunjukkan kenaikan yang signifikan? Ambillah nafas dalam tiga hitungan, kemudian keluarkan juga dalam tiga hitungan. Secara bertahap lakukan dengan menaikkan hitungan menjadi lima, enam, tujuh dan seterusnya.

Membaca buku dan mendengarkan musik

Luangkanlah waktu untuk rileks dengan membaca buku atau mendengarkan musik.

Menyingkir dari rutinitas

Menyingkir dari rutinitas? Tentu saja. Jangan berpikir ini hal yang sulit. Anda bisa melakukannya secara sederhana. Mencuci pakaian, menyetrika pakaian, berkebun. Atau bisa juga melakukan rekreasi yang murah meriah dengan keluarga atau teman sejawat.

Makan dan minum dengan baik dan benar

Konsumsilah menu secara seimbang terutama yang memiliki kandungan serat seperti sayuran dan buah. Kurangi pula mengkonsumsi gula rafinasi. Dan ingat, kurangi rokok, alkohol, dan kafein. Orang yang bersahabat dengan alkohol, kafein, nikotin seringkali tak dapat melawan stres. Perbanyaklah minum air putih. Tubuh bisa jadi tak mengalami dehidrasi walau tubuh tak merasa haus. So, saat Anda ke kamar mandi, pastikan urin Anda berwarna terang. Dan jangan lupa, tidurlah dengan cukup.

Sesungguhnya, krisis ekonomi yang terjadi hanyalah bagian dari sekian banyak masalah yang dihadapi manusia. Walau begitu, tetap saja harus disikapi secara arif dan legowo. Krisis global saat ini bisa jadi jauh dari perkiraan banyak orang. Oleh karena itu dalam diri seseorang, harus tertanam kesadaran bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan. Hal-hal yang di luar perkiraan sebelumnya. Ini penting, agar kita tidak kecewa nantinya jika ternyata rencana-rencana yang sudah diatur jauh meleset dari harapan. Kekecewaan itu mungkin menghalangi tujuan yang telah kita tetapkan di awal. Untuk menghadapi hal-hal seperti ini, mental kita harus sudah siap. Inilah sesungguhnya pondasi dasar dalam menghadapi stres yang terjadi. Mental yang siap, kuat, dan tahan uji.

Betapapun beratnya badai krisis, tetap harus kita hadapi dengan bijak. Karena, walau katakanlah ada bagian yang hilang akibat krisis tersebut, kita patut bersyukur bahwa masih terdapat kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Kita masih bisa hidup dengan sehat, gaji yang dibayar cukup, dan kelebihan lainnya yang mungkin orang lain belum tentu dapatkan.

Dan pada akhirnya, kunci dalam menghadapi stres sesungguhnya bagaimana Anda dapat menikmati hidup ini, ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan, serta selalu bersyukur atas segala yang diberikan olehNya. Dan terakhir, berdoalah untuk selalu memohon kepadaNya agar senantiasa Anda diberi petunjuk dalam menjalani hidup ini. (131008)

Sumber: Mengelola Stres oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Ketetapan Hati

Bertahun-tahun silam, ada seorang pemuda dari kota Malang Jawa
Timur, berbekal pendidikan kelas 6 SD pun tidak tamat, dia mencoba
mengadu nasib ke ibukota, sesampai di Jakarta dia mendapat pekerjaan
sebagai seorang salesman di sebuah perusahaan sabun.

Saat itu, film-film action kungfu dari Hongkong dan Taiwan sedang
gencar masuk ke Indonesia. Karena merasa punya bekal ilmu kungfu,
body menawan dan wajah yang oke, pemuda itu pun punya mimpi dan
mencanangkan tekadnya, ingin menjadi seorang bintang film laga di
Indonesia. Pengorbanan yang tidak tanggung-tanggung- pun dilakukan
dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun sayang, nasib baik
belum memihak kepadanya, kenyataan tidak seindah impian, kegagalan
pun harus ikhlas diterimanya.

Waktu terus berjalan, kegagalan yang lalu tidak menyurutkan
langkahnya. Impian menjadi bintang film tambah menguat, bahkan
target lebih besar ditancapkan, yakni ingin menjadi bintang film
kungfu di Hongkong, persiapanpun dilakukan dengan lebih baik, Dari
latihan fisik lebih keras dan doa pun mengiringi surat lamaran
dengan foto-foto action yang di kirim ke perusahaan Eterna Film di
Hongkong.

Tidak beberapa lama kemudian, surat balasan datang, memberitahu
bahwa ia diterima menjadi bintang film di Hongkong.

"Ya Tuhaaann... impianku jadi kenyataan!" teriaknya kegirangan.
berita gembira itu pun langsung menyebar. Segala persiapan dia
lakukan.

Saat menikmati kegembiraannya, tiba-tiba sebuah surat datang
kembali. Beritanya sungguh menyedihkan. Akibat cuaca buruk yang
berkepanjangan, terpaksa syuting film harus ditunda sampai batas
waktu yang tidak ditentukan.. .perasaan sedih spontan
menyelimutinya. .tubuhnya lemas, lunglai karena tidak ada kepastian
kapan akan berangkat. Kegembiraan pun langsung berubah menjadi
kemuraman.

"Apakah ini pertanda memang aku tidak ditakdirkan jadi bintang film
di Hongkong?"keluhnya dalam hati. Batin pemuda itu terus bergejolak,
antara tetap bertahan dengan impian besarnya untuk jadi bintang film
atau menyerah

Perasaan pemuda itu tidak menentu. Pikirannya goncang. Tarikan kuat
di hatinya untuk terus bertahan bertarung sangat keras dengan godaan
untuk menyerah. Tiba-tiba, dia ingat kata-kata motivasi yang sering
diajarkan oleh ayahnya, " Selama gunung masih menghijau, jangan
takut kehabisan kayu bakar." sontak, kata pepatah motivasi itu
langsung kembali membangkitkan semangatnya. "Aku harus bertahan. Aku
pasti bisa menjadi bintang film di hongkong, Aku tidak boleh
menyerah dan tidak akan menyerah! Ketetapan hatiku tidak akan
goyah!!!"

Tiga bulan kemudian.. dengan ketetapan hati yang dilandasi kebulatan
tekad untuk tetap bertahan itu, akhirnya panggilan untuk berangkat
main film datang. Pemuda itu berhasil menggapai impiannya, menjadi
bintang film Hongkong yang mengambil lokasi syuting di Taiwan.

Sungguh, kemenangan perang batin yang luar biasa, Keyakinan kuatnya
untuk menjadi bintang film terjawab sudah. Proses perjuangan yang
dilandasi ketetapan hati itu akhirnya mengkristal, menjadi sebuah
kekayaan mental dan menjadi karakter bagi pemuda tadi, sehingga
berguna di kemudian hari dan menjadi bekalnya meraih sukses di
berbagai bidang yang dia tekuni.

Pembaca yang budiman,

KETETAPAN HATI, mutlak dimiliki bagi setiap orang yang ingin meraih
kesuksesan. Kualitas dan kapasitas manusia untuk bertahan dalam
badai kehidupan sangat ditentukan oleh keuletan dan ketetapan hati
yang dimiliki. Saat kita telah memilih untuk bertahan, hati nurani
pun pasti akan ikut berbicara. Dan, jika diperkuat dengan tindakan
nyata, maka kekuatan ketetapan hati seperti itu akan didengar oleh
Tuhan. Dan Tuhanpun pasti akan membantu mewujudkan impian kita
melalui cara-Nya, yakni dengan cara yang terbaik dan sering tidak
terduga-duga.

Dan, inilah sebuah kebahagiaan sekaligus kebanggaan bagi saya,
Sebab, orang yang mengalami dan yang paling tahu tentang kisah
tersebut, yakni pemuda tadi, adalah saya sendiri Andrie Wongso.

Kuatkan tekad, tetapkan hati. Raih kesuksesan !! sebab Success is my
right!!!

Sumber: Ketetapan Hati oleh Andrie Wongso

Saya Mau Berubah

Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak
kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan
membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktekkan di
kehidupan mereka lebih lanjut. Di antara mereka, beberapa orang
tampak mengalami kemajuan yang berarti. Mereka yang merasakan
manfaat dan sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut,
memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang
diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Dia mulai melakukan anjuran
yang diajarkan dan mengalami perubahan cara pandang dan
kebiasaannya. Dikesehariaannya, dia berusaha terus menyemangati diri
sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh
perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya.... perubahan
yang luar biasa dikehidupannya! Mengalami kemajuan dan bersyukur!

Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga
tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat
rencana sedetil mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana
yang dibuat tetaplah rencana. Blok mental karena kebiasaan yang
dijalani selama ini yakni malas, menunda, tidak bisa menerima
penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara
pandangnya yang negatif terhadap sekelilingnya menyebabkan dia
kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan disekelilingnya
yang dituduh tidak mendukung dia.

Akhirnya, saat ditanya, Anda pernah mengikuti seminar
motivasi? "Oya. Saya pernah mengikutinya, seminar yang bagus,
pesertanya banyak dan pembicaranya hebat tetapi apa yang diajarkan
tidaklah mudah untuk dijalankan. Karena sukseskan milik orang-orang
tertentu, dan sayangnya saya bukanlah orang itu."

Kelompok yang lain lagi. Setelah mengikuti seminar, dia pun mulai
mencoba membuat perubahan. Sayangnya, upayanya tidak terlalu kuat
sehingga saat orang-orang disekililingnya tidak menyukai perubahan
yang dicobanya, dia pun merasa dijauhi dan tidak diterima
dilingkungannya. Akhirnya, sudah bisa ditebakkan?

Pembaca yang budiman,
Seminar sehebat apapun, teknik secanggih apapun, rumus teori seampuh
apapun, selamanya tidak akan mampu merubah manusia jika manusia itu
sendiri tidak mau merubah dirinya sendiri!

Bagi saya kehidupan adalah ruang kuliah atau tempat belajar tanpa
batas, bagi pembelajar sejati setiap orang bisa menjadi guru bagi
dirinya sendiri, bagi pembelajar tulen cepat sekali menyerap apa
yang terjadi disekelilingnya dan dengan cerdas mampu mencerna
sebagai bahan belajar untuk kemajuan karier dan hidupnya.

Jadi akhirnya semua kembali pada diri sendiri, bagaimana kita
mengelola pikiran dan sikap mantal dalam menghadapi perubahan,
sekaligus secara tegas mau berubah hingga mampu mengaktualisasikan
diri sampai ke puncak kesuksesan.

Sumber: Saya Mau Berubah oleh Andrie Wongso

Memenangkan Perjuangan Hidup

"Life is struggle. The one who enjoys this struggle is the real
winner. – Hidup adalah perjuangan. Siapapun yang menikmati
perjuangan tersebut adalah pemenang sejati."

Anupama Kamble Pada bulan November 2007, saya kembali mengunjungi
kota Banda Aceh untuk meresmikan kantor cabang yang baru dan
menyelenggarakan kegiatan sosial pada sebuah yayasan anak yatim
piatu. Saat berjalan-jalan di kota tersebut, saya teringat
kedahsyatan tsunami meluluh lantakkan semuanya, termasuk korban jiwa
lebih dari 200 ribu. Kedahsyatan kekuatan tsunami nampak jelas dari
kapal PLN seberat 2600 ton yang terseret sepanjang 7 kilo meter ke
tengah kota dan menindih lebih dari 30 orang.

Saat itu empati masyarakat di Indonesia maupun manca negara sangat
besar untuk membantu korban bencana. Semua orang peduli dan ingin
menolong, tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, dan latar
belakang, dan lain sebagainya. Saya dapat merasakan begitu besar
kepedulian dan cinta kasih masyarakat negri ini kepada orang lain.

Walaupun masyarakat belum sepenuhnya terlepas dari trauma pasca
bencana, saya meilhat masyarakat disana sudah bangkit. Banyak proyek
pembangunan dilaksanakan. Diantaranya adalah proyek pembangunan
Perkampungan Persahabatan Tiongkok – Indonesia, berupa 765 rumah
sederhana bantuan dari Tiongkok yang berlokasi di atas bukit.
Kegiatan ekonomi disana melaju cepat, bahkan jalanan di Banda Aceh
mulai macet.

Saya terpana menyaksikan kemajuan Aceh yang sangat pesat tersebut.
Saya kagum pada ketangguhan mental masyarakat menghadapi tantangan
hidup sedahsyat tsunami Desember 2004. Itulah salah satu `badai'
yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan hidup manusia.
Tetapi sebenarnya manusia juga mempunyai potensi yang super hebat
untuk memenangkan perjuangan hidup tersebut dengan berbagai cara.

Salah satu cara memenangkan perjuangan hidup adalah memperkuat
mental, dengan menjadikan tantangan hidup sebagai latihan mental.
Semakin tinggi kesulitan hidup yang berhasil kita lewati, maka
mental kita juga semakin kuat. "Problems are to the mind is what
exercise to the muscles, they toughen and make strong. – Masalah-
masalah merupakan latihan otot-otot pikiran agar mereka menjadi
lebih kuat," Norman Vincent Peale. Mental yang kuat lebih dapat
diandalkan untuk memenangkan perjuangan hidup.

Memiliki visi yang benar dan jelas sangatlah penting untuk
memenangkan perjuangan hidup. Banyak orang tidak berhasil
menggunakan potensi yang sangat besar dalam dirinya, karena mereka
mengabaikan visi atau impian. Sebaliknya, semangat kita untuk
bangkit dan maju akan jauh lebih besar setelah mempunyai visi yang
benar dan jelas.

Dalam setiap medan perjuangan, kemenangan hanya dapat diperoleh jika
kita mempunyai peta kemenangan berdasarkan visi yang jelas.
Perencanaan tersebut akan sangat membantu memperhitungkan setiap
tindakan yang akan ditempuh. Jika kita konsisten melaksanakan
rencana tersebut pasti kita berhasil menjadi pemenang dengan
prestasi-prestasi atau karya-karya terbaik.

Keyakinan yang kuat adalah bagian penting lainnya setelah
menciptakan visi. Karena keyakinan yang kuat dapat meraih kemenangan
akan membuat seseorang mampu memetik pelajaran berharga dan
bertindak lebih hati-hati, ketika harus berhadapan dengan kegagalan.
Cara seperti ini memperbesar kemungkinan kemenangan segera tercapai.

Keyakinan juga sangat penting untuk membantu kita berpikir jernih
dan positif. Misalnya kita tidak meratapi kekurangan atau sombong
dengan kelebihan. Sebaliknya, kita menjadikan kekurangan maupun
kelebihan tersebut sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri
dan bekerja lebih giat agar segera memenangkan perjuangan hidup.

Entah apa visi rakyat di Aceh sehingga mereka begitu optimis, karena
saya melihat mereka tidak berlama-lama meratapi kemalangan dan
kepedihan akibat tsunami. Sebagian besar masyarakat sudah aktif
membangun kehidupan mereka kembali. Ini nampak dari antusiasme
mereka mengerjakan masing-masing peran dan tanggung jawab.

Selain kerja keras, kita juga perlu bekerja cerdas dan ikhlas.
Sementara itu dibutuhkan pula landasan keimanan dan kejujuran. Etos
kerja semacam itu merupakan salah satu cara jitu memenangkan
perjuangan hidup.

Guna memenangkan perjuangan hidup dibutuhkan pula empati atau
kepedulian terhadap manusia lain maupun lingkungan. NAD dan Sumatra
Utara terpuruk akibat bencana alam, dan saat itu banyak orang
berduyun-duyun memberikan pertolongan dalam aneka rupa bentuk.
Perlahan-lahan masyarakat korban bencana bangkit, dan semua itu tak
lepas dari dukungan dari orang lain. Begitupun empati kita terhadap
orang lain akan mempererat hubungan sosial sehingga saling
mensinergi satu sama lain diantara kita untuk meraih kemenangan
bersama.

Layaknya pertandingan, memenangkan perjuangan hidup butuh persiapan,
yaitu melakukan perubahan positif sedari sekarang. Misalnya
menggunakan waktu lebih efektif, sehingga masih tersisa beberapa jam
untuk berlatih meningkatkan kemampuan dan memperluas wawasan dengan
ilmu pengetahuan. Berbenah diri terus menerus, sekalipun dalam skala
kecil, merupakan salah satu cara penyempurnaan agar menang melawan
tantangan hidup.

Sangat banyak yang bisa kita lakukan untuk memenangkan perjuangan
hidup. Kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan adalah satu hal yang
pasti kita dapatkan jika berhasil. Kemajuan pesat di Aceh adalah
salah satu contohnya, maka pastikan Anda ada di urutan berikutnya.
Jadi tetaplah bersemangat dan menikmati perjuangan hidup Anda.

Sumber: Memenangkan Perjuangan Hidup oleh Andrew Ho, seorang
pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan

Para ahli ekonomi dan keuangan sepakat, akar meledaknya busa sabun
moneter di Amerika Serikat adalah ketamakan akan uang. Kredit
perumahan yang awalnya baik karena didasarkan pada kreditor prima
menjadi awal terbentuknya gelembung hampa spekulasi.

Uang memperanakkan uang, menjauh dari yang riil, menggelembung
menebarkan janji memikat. Ketika pecah, kehampaan siap menyeret
dunia ke jurang kekosongan. Di balik itu, ketamakan akan uang adalah
penyebab utama.

Bagaimana menyikapi ketamakan? Sokrates, pemikir Yunani abad ke-5
SM, bapak segala filsafat, mengatakan, kenalilah dirimu sendiri dan
jangan berlebih-lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia
tahu jati dirinya adalah jiwanya (bukan hartanya). Bila jiwa diakui
sebagai yang terpenting dari manusia, dan diberikan prioritas, maka
terhadap segala sesuatu, diri sejati itu akan mengatakan, jangan
berlebihan, cukupkan dirimu.

Utama sama dengan sukses

Maksim ini terlalu moralistik? Pada titik tertentu iya,
meski "moral" di sini harus dimaknai bukan dalam arti baik dan
jahat. Bagi Sokrates, keutamaan (arete) tidak pertama-tama judgement
moralistik. Keutamaan adalah excellency, kinerja optimal sesuatu,
atau katakanlah kesuksesan.

Penting ditekankan, keutamaan dalam filsafat Yunani belum
ditunggangi pemahaman modern tentang moral dan agama. Keutamaan
adalah optimalnya inti kemanusiaan, tidak lebih dan tidak kurang.
Penjelasan ini urgen karena masyarakat modern justru lebih concern
secara instingtif pada kesuksesan hidup daripada kepada moral atau
agama! Inilah ironi kita: di mulut berteriak "moral dan agama mesti
ditegakkan", tetapi setiap hari yang diupayakan hanya kesuksesan
hidup. Maka, tanpa meminggirkan pentingnya moral dan agama, mari
kita tilik makna kesuksesan hidup tawaran pemikir Yunani 25 abad
yang lampau.

Bagi Sokrates, keutamaan pisau adalah mengiris. Pisau bersifat
optimal kalau mampu mengiris. Tumpul, pisau tidak excellent, tidak
sukses. Bagaimana dengan manusia? Keutamaan manusia ada pada
jiwanya. Manusia optimal, sukses adalah manusia yang hidup dengan
memprioritaskan jiwanya. Inilah bagian pertama maksim, "kenalilah
dirimu sendiri". Kita hanya menjadi manusia sukses sejauh mengakui
bahwa jiwa adalah orientasi hidup kita, bukan harta benda.

Seperti makan, minuman, dan seks, uang adalah sesuatu yang kita
nafsui secara tak terbatas. Nafsu (epithumia) makan memasukkan kita
dalam lingkaran lapar-makan-kenyang-lapar lagi dan seterusnya.
Demikian juga seks dan uang. Nafsu digambarkan murid Sokrates
(Platon) sebagai gentong bocor: seberapa pun air dimasukkan, selalu
minta diisi.

Sokratisme tidak membuang makan, minum, seks, dan uang. Itu semua
berguna bagi hidup manusia. Namun, justru karena bersifat
utilitarian, ia tidak pernah menjadi tujuan dalam diri sendiri.
Hidup manusia terarah pada sesuatu yang lain: jiwanya.

Dan persis pada jiwanya inilah nafsu terdapat! Selain nafsu-nafsu
itu, Platon membuat kita sadar, jiwa juga memiliki rasa bangga diri,
hormat diri (thumos). Harga diri ambisinya juga tak terbatas, ia
bisa membuat manusia lupa segalanya. Harga diri bisa membuat orang
nekat.

Survival yang menjadi tugas penting nafsu bisa diluluhlantakkan oleh
harga diri. Harga diri, yang berguna bagi pemaknaan hidup, bisa
membuat manusia menghancurkan diri, sesuatu yang tidak pernah
dianjurkan Sokrates dan Platon.

Rasio manusia

Tahu bahwa diri sejati adalah jiwanya, tahu bahwa jiwanya memiliki
nafsu dan harga diri, maka pentinglah unsur-unsur itu diberi tahu
agar "jangan berlebih-lebihan". Makan boleh, mencari uang boleh,
tetapi jangan berlebih-lebihan. Merasa bangga, berani menentang arus
juga boleh, tetapi "secukupnya" saja.

Apa arti secukupnya? Minimalis? Siapa yang bisa mengatakan "sudah
cukup" atau belum? Jawabannya ada di jiwa. Selain nafsu dan harga
diri, jiwa kita memiliki rasio. Akal budi akan mengatakan kepada
nafsu dan harga diri yang tak terbatas untuk "cukup, tahu batas".

Bagaimana rasio bisa melakukannya? Tidak ada resep yang mudah.
Manusia yang tidak melatih mengendalikan nafsu dan harga diri
terbiasa menidurkan rasio sehingga ia tak mampu mengatakan "cukup".
Rasio hanya bisa mengatakan "cukup" manakala ia terbiasa
bernegosiasi dengan mereka. Inilah filsuf, pencinta kebijaksanaan.
Lalu, bagaimana? Tiap orang harus memilih, lingkaran yang
memerosokkan atau lingkaran yang membawa ke kebaikan. Pilihan
terakhir membuat orang hidup berkeutamaan atau sukses. Manusia
sukses adalah dia yang memilih memprioritaskan rasionya untuk
mengendalikan ketamakan tanpa batas yang konstitutif di dalam
jiwanya.

Belajar bijaksana

Berhadapan dengan ketamakan kapitalisme modern, kita berhadapan
dengan tembok paradoksal. Kapitalisme terbiasa hidup tanpa
pengendalian diri sehingga dari dirinya sendiri tidak bisa
mengatakan "cukup". Harus ada pihak luar yang mengatakannya.
Syukurlah, otoritas negara berani mengatakan "cukup". Semoga
kapitalisme mau belajar. Sebuah harapan paradoksal karena
memasukkan "kendali negara" dalam sistem kapitalisme dianggap bunuh
diri "isme" itu sendiri.

Atau, sudah saatnya belajar bijaksana? Waspada dengan kredo kita
tentang kapitalisme? Mengapa pebisnis dan penanggung jawab ekonomi
negeri ini seakan lalai sila "keadilan sosial", horizon ultima
sistem ekonomi bangsa?

Semoga kita tidak mudah percaya begitu saja hanya karena suatu
ajaran tampak canggih dan dari negeri hebat, semoga kita lebih
mengenali "diri kita sendiri" sehingga hidup bersama di republik ini
memiliki makna dan penuh sukses.

Menjadi manusia utama, yang sukses hidupnya, adalah harapan kita
semua. Syukur-syukur ditambahi agamais dan moralis. Namun, en deça
(lebih di bawah lagi) dari sikap itu, keutamaan dalam arti rasional
dari Sokrates adalah apa yang kita butuhkan saat ini.

Sumber: Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan oleh A Setyo Wibowo,
Pengajar di STF Driyarkara Jakarta; Alumnus Universitas Paris-I,
Sorbonne, Perancis

Jumat, 31 Juli 2009

Berani Mengambil Risiko

“Kapal akan aman bila berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk itu.”

-- Grace Murray Hopper, ahli matematika, penemu teknologi komputer, 1906-1992



MEJA itu terisi oleh empat orang dengan empat cangkir kopi panas. Farid mengundang kawan-kawan dekatnya untuk minum kopi di sebuah kedai kopi di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sambil sesekali menghirup kopi panas dihadapannya, Farid bercerita bahwa dirinya seminggu yang lalu baru saja terkena PHK. PHK, yang kata para pengamat ekonomi, akibat dampak krisis global yang terjadi saat ini. Untungnya, seperti kata Farid, ia masih diberi uang pesangon oleh perusahaannya. Dalam curhatnya, ia mengatakan akan mencoba melakukan usaha dari uang pesangon yang diterimanya.



Tapi ada satu hal yang membuat Farid bimbang. Ia tak siap mengambil risiko kehilangan semua modal pesangonnya bila ternyata usahanya merugi. Risiko? Betul. Satu kata yang kelihatannya menjadi momok bagi sebagian orang.



Bicara mengenai risiko, seperti kata William J. Bernstein dalam bukunya ‘The Four Pillars of Investing', “Risk, like pornography, is difficult to define, but we think we know it when we see it.” Risiko, seperti pornograpi, sukar untuk didefinisikan, tapi kita akan mengetahuinya bila kita telah melihatnya. Begitu pula risiko, kita akan mengetahui dan merasakannya bila kita telah menjalaninya.



Seperti Farid, banyak orang memang merasa tak nyaman dalam mengambil risiko. Takut mengambil risiko justeru dapat mengakibatkan batu sandungan. Hal itu malah menghambat mereka untuk dapat berkembang lebih baik dalam menjalani hidup, usaha, atau karir mereka sendiri.



Sebaliknya, bila berani mengambil risiko, artinya kita telah berani menjalani kehidupan itu sendiri. Juga menunjukkan bahwa kita yakin akan mendapatkan suatu pelajaran berharga dari setiap risiko yang diambil. Tentu saja bukan berarti melangkah tanpa perhitungan yang matang. Satu rahasia orang-orang yang telah sukses, seperti yang mereka ungkapkan, adalah bahwa mereka sering mengambil risiko dalam bertindak.



Lantas, mengapa sebagian orang enggan untuk mengambil risiko? Jawabannya sederhana. Mereka takut gagal, berpikir tak dapat melakukannya, atau merasa belum mahir dan berbakat. Keberanian mengambil risiko, sesungguhnya lebih menunjukkan kepada karakter dan mental seseorang. Bukan pada besar kecilnya risiko yang dihadapi. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari peristiwa yang datang menghampirinya, tapi dari respon yang ia berikan dari peristiwanya itu sendiri.



Kunci utama dalam mengatasi ketakutan dalam mengambil risiko ialah percaya diri dan selalu berpikir positif. Dengan percaya diri, hal itu akan menambah energi yang ada dalam diri kita sebelum benar-benar bertindak. Dan dengan berpikir positif, akan membuat langkah kita menjadi ringan dalam bertindak.



Yakinlah, bahwa ketika kita telah memutuskan untuk mengambil risiko, akan ada jalan yang terbuka bagi kita nantinya. Jangan takut bila gagal. Karena ada setiap pelajaran yang dapat dipetik, entah gagal ataupun sukses, terhadap risiko yang kita ambil.



Orang yang telah berhasil mencapai sesuatu, seringkali tidak menyangka sebelumnya kalau sebenarnya ia mampu melakukannya. Padahal asal ada keinginan yang kuat, mereka dapat melakukan sesuatu, yang katakanlah, bahkan di luar perhitungan mereka sendiri sebelumnya.



Jadi, bila ada tantangan menghampiri kita, sambutlah dengan semangat dan antusias yang tinggi. Bila ada peluang yang dapat mengubah hidup Anda menjadi lebih baik, jangan takut untuk mengambil risiko. Diana Ackerman, penulis kondang asal Amerika mengatakan, “I don't want to get to the end of my life and find that I lived just the length of it. I want to have lived the width of it as well.” Atau dengan kata lain, "Saya tak ingin di akhir hidup saya dan menyadari bahwa saya hanya menjalani panjangnya saja. Saya pun ingin menjalani lebarnya."



Ackerman benar. Luasnya kehidupan merupakan panjang kali lebar kehidupan itu sendiri. Kadang kita tidak menyadari, bahwa ketika kita menjalani kehidupan saat ini, kita telah mengambil risiko-risiko di dalamnya. Ya, apapun kehidupan yang terjadi. Yang sebenarnya tak hanya terkait masalah ’survival’ ekonomi semata. Ada risiko politik, manajemen, inovasi, dan risiko-risiko lainnya.



Sebuah kapal memang akan terlihat besar, indah, dan gagah ketika berada di pelabuhan. Tetapi kapal diciptakan tidak untuk berada di pelabuhan. Sebuah kapal akan bermakna dan memiliki nilai, ketika ia berada di tengah samudra luas, dalam mengarungi lautan, menghadapi terjangan ombak, dan melewati rintangan badai. Ketika sang kapal telah mencapai tujuan, ia telah menjalankan satu tugasnya dengan baik. Perjalanan berikut telah menantinya. Begitu seterusnya.



Sama halnya dengan sebuah kapal. Bila Anda tak mau menerima tantangan dan mengambil risiko, maka Anda tak akan merasakan dan menikmati getar kemenangan dan kesuksesan, kecuali getir kekalahan dan kepahitan hidup Anda. (151208)



Sumber: Berani Mengambil Risiko oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Ubah Proyektor Pikiran supaya Jiwa Sehat

Sering kali tanpa sadar, kita berbuat hal yang merupakan proyeksi
dari yang ada di pikiran sendiri, maka tidak heran kita akan
menganggap orang lain berkelakuan buruk, padahal kita sendiri yang
tidak mampu melihat kekurangan diri, kita melihat orang lain lebih
bodoh, padahal kita sendiri yang kurang pengetahuan.

Pepatah mengatakan "kuman di seberang lautan tampak, gajah di
pelupuk mata tidak kelihatan" Kesalahan, keburukan dan kebodohan
orang lain menjadi hal yang sangat besar di mata kita, padahal
keburukan, kesalahan, dan kebodohan kita sendiri ternyata lebih
besar dari apa yang kita tuduhkan kepada orang lain.

Mengapa pula kita mampu berpikir orang lain lebih negatif daripada
kita sendiri, para ahli jiwa meneliti dan mendapat kesimpulan bahwa
dalam pribadi seseorang sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan
mendasar, dan di antaranya adalah dorongan ingin berkuasa untuk
pembentukan sebuah harga diri seseorang.

Jika dorongan ambisi ingin berkuasa dalam bentuk apa pun selalu
tertekan atau terpendam, maka jiwa akan berkompromi untuk membentuk
suatu cara sebagai kompensasinya, yaitu berekspresi untuk menutup
kekurangan diri sendiri, sering melancarkan manipulasi emosi orang
di sekelilingnya. Di sinilah kita mendapat kenyataan, banyak orang
yang mempunyai kebiasaan mencemooh kekurangan orang lain, menepuk
dada seolah dirinyalah yang paling hebat, padahal itu bentuk
kekurangan yang diproyeksikan keluar.

Bagi orang yang selalu berpikir negatif dan tidak bisa berpikir
realistis atau berakal sehat, maka perasaan rendah diri yang sudah
terbentuk akan semakin berat menekan harga dirinya, jika perasaan
rendah diri ini terus menerus tidak mendapat saluran, akan
menimbulkan rasa jengkel, baik pada diri sendiri maupun pada orang
lain. Akibatnya, lahirlah sikap iri hati, dengki, dan yang paling
berbahaya suka menjadi orang yang sombong untuk menutupi
kekurangannya dia bisa bertindak sok tahu, sok berani, sok ngatur,
sok ngebos, sok jagoan, dan sebagainya.

Hal ini juga akan menimbulkan juga kebencian dari lingkungannya
sendiri. Sebab, biasanya orang yang dihinggapi perasaan rendah diri
sering menjengkelkan bagi lingkungannya sendiri baik keluarga,
teman, atau masyarakat pada umumnya.

Ubah Proyektor

Pepatah berkata "buruk muka, cermin dibelah", makna yang terkandung
adalah, kita sering lupa pada keadaan sendiri, tapi senang
menyalahkan orang lain.

Kreativitas pikiran yang tertekan, bisa berakibatkan memunculkan
sikap agresif. Manusia dari alamnya bersifat kreatif, maka jika
kreatifnya di tekan dengan ego yang kuat, energi yang keluar akan
mencari jalan yang destruktif, di mana inherent power, yaitu
kekuatan dari manusia itu bisa memberikan proyeksi keadaan dirinya
sendiri.

Hati-hati dengan unsur kreativitas di pikiran kita, sering kita
terkurung dalam alam pikiran sendiri, seolah menciptakan naskah
skenario versi diri sendiri, dan terproyeksi keluar menjadi sikap-
sikap agresif. Sikap agresif sangat bagus jika dalam konteks
positif, tetapi sangat merugikan diri sendiri jika dilaksanakan
dalam konteks negatif, sikap menyerang, mencaci dan mencemooh akan
membalik jadi bumerang untuk citra diri sendiri.

Sangat penting untuk mengubah kerja proyektor dalam diri kita,
supaya proyeksi yang keluar mendukung untuk membangun citra diri
agar positif, maka jangan bandingkan dengan apa yang orang lain
sudah perbuat atau alami. Silakan tiru hal positif yang dia buat,
tetapi jaga pikiran kita untuk tidak masuk dalam pikiran yang membanding-bandingk an, di mana jika kedapatan kita selalu kalah bersaing dalam bangunan citra diri dengannya, hal ini hanya akan menimbulkan cemoohan pada batin sendiri.

Jika ditekan sedemikian rupa, proyeksi yang keluar adalah apa yang
menjadi kekurangan atau kebodohan kita. Di sinilah penting sekali
kita mengukur segalanya menurut tongkat yang realistis.

Sebelumnya, buat tujuan yang bisa terjangkau, tujuan yang tidak
realistis biasanya hanya menimbulkan kemarahan pada diri sendiri.
Kita harus 'tahu diri' untuk mau becermin pada apa yang kita punya, yang kita alami, bukan berusaha menjadi orang dalam khayalan. Jika kita memang tidak mampu bersaing dengan orang yang membuat kita jengkel, karena dia memang lebih menarik, lebih pintar, lebih ramah, sementara kita selalu bersikap arogan, senang mencemooh. Sebab itu, kita harus sadar untuk menerima kenyataan yang ada pada diri sendiri.

Komunikasi itu 'kendaraan' untuk bisa kerjasama. Dalam masyarakat
proses pelajaran berarah belajar berkomunikasi, untuk sukses kita
harus mengubah proyektor dalam diri sendiri, yaitu respek dengan
diri sendiri dan kepada yang lain berarti;

(1) Respek dengan lingkungan, (2) Respek dengan privacy pribadi
orang lain, kebutuhan mereka pribadi dengan ruang fisik dan milik,
(3) respek dengan berbagai pandangan, filsafat, kepercayaan orang,
sekte, gaya hidup, etnik dan budaya, keyakinan dan kepribadian. 4)
Resep dari kemungkinan dari fisik (seperti cacat) Tidak adanya
respek, maka yang terjadi interaksi menuju ke konflik dan
permusuhan.

Jika kita tidak mau mengubah proyektor yang sudah berjalan dengan
salah, maka jangan bingung jika proyeksi jiwa kita tidak
pernah 'sehat', karena kita hidup dalam alam hayalan.

Ilusi tentang seseorang yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri,
kesan 'menggila' akan keluar dan terlihat oleh umum, tentu saja jika
hal ini terjadi, citra diri kita hancur dengan ulah sendiri.

Merubah mesin proyektor yang menghasilkan proyeksi diri, perlu sikap
fleksibilitas berarti mempunyai kekuatan untuk menyesuaikan
perubahan situasi dan menerimanya, dan juga menerima pendapat,
tentang diri sendiri. Berubah termasuk di dalamnya, dan cara lain
mengenal diri sendiri, kekuatan, dan kelemahan kita.

Dari kekuatan yang kita punya jalankan untuk menolong kelemahan
kita, dan belajar mengaku kelemahan dan bersiap dengan akibatnya.
Itu cara belajar untuk menjadi jiwa fleksibel.

Sumber: Ubah Proyektor Pikiran supaya Jiwa Sehat oleh Lianny Hendranata