Senin, 02 Juni 2008

Belajar dari Tom and Jerry


"Mumpung kita masih muda, harus gesit, kreatif, dan (sedikit)
jujur."
--- Warung Kopi Prambors

WADUH! Harga BBM naik lagi. Banyak orang yang tak suka dengan
pengumuman dari Pemerintah ini. Aksi unjuk rasa pun pecah di mana-
mana. Mereka yang tidak ikutan berdemonstrasi, bukannya tenang-
tenang saja. Mereka, kaum ibu, yang kesulitan mengatur uang belanja.
Suami, yang berjumpalitan mencari tambahan penghasilan, dan siapa
pun menjadi gundah gulana. Ah, di negeri ini, naiknya harga bahan
bakar minyak adalah musibah bagi sebagian besar masyarakat. Padahal,
yang naik harga BBM, eh sampai selembar daun kangkung pun ikut
melejit. "Ya iya la yah ikut naik, bawanya kan kan pake mobil ke
pasar, emang jalan kaki," kata penjual sayur berkilah.

Meratap? No way man! Kini, setelah marah, kesal, dan mungkin sedikit
tersedu-sedan, yang hanya bisa dilakukan adalah bergegas untuk
bersiasat. Dalam keadaan serba sulit saat ini, hanya ada dua
pilihan. Kita makin trengginas dengan ide-ide kreatif yang
dituangkan dalam kehidupan sehari-hari? atau justru kita menyerah?
yang bisa-bisa membuat kita menjadi beringas. Tinggal pilih.

Namun daripada menyerah, mendingan menjadi gila dengan banyak ide.
Dalam situasi sulit seperti saat ini, ide-ide yang kelihatannya
gila bahkan mengada-ada, malah kalau dipraktekkan bisa membawa
manfaat yang besar. Kalau kata pelawak legendaris, Almarhum Asmuni,
bukanlah hil yang mustahal. Anda pernah menonton film Tom and Jerry?
Lucu bukan? Personifikasi kartun ternama dari Walt Disney tersebut
menggambarkan kagak ada matinye bagi Si Tom dan Jerry, yang selalu
muncul dengan ide-ide kreatifnya, walau sudah digencet habis.
Semangat memunculkan ide gila dari Tom and Jerry bisa Anda contoh.

Terus terang, tak ada ide baru yang baru disini. Barangkali dari kita sudah ada yang melakukannya. Walau sesungguhnya lebih banyak menjadi wacana saja. Intinya, kreatif dan gesit. Apa saja misalnya?

Bersepeda ke Kantor
Polusi ah. Iya sih, tapi masker penutup hidung sudah banyak dijual
para pedagang. Untungnya banyak kok. Dari segi materi, ini
hitungannya. Kalau Anda naik mobil, katakanlah Anda mengeluarkan
uang sebesar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 untuk pembelian bensin, yang
biasanya cukup untuk 1 hari. Itu pun untuk kendaraan dengan cc di
bawah 1500. Jadi dalam sebulan, Anda mengeluarkan 20.000 atau
25.000 dikali 25 hari kerja, sebesar 500.000 hingga 625.000. Dalam
setahun Anda mengeluarkan 6 hingga 7,5 juta. Bagaimana kalau naik
motor? Lebih murah memang. Hitungan seorang biker didapat hasil
seperti ini. Seminggu hanya keluar duit 50 ribu. Jadi dalam sebulan
kira-kira Anda mengeluarkan 50.000 dikali 4 minggu sebesar 200 ribu,
atau dalam setahun kira-kira 2,4 juta. Bagaimana dengan sepeda? Ya,
paling efeknya terhadap makan yang kita sikat. Tapi tetap murah to?
Kalau pun rumah Anda berada di provinsi Banten, sedangkan kantor
Anda di Jakarta Utara, banyak siasatnya. Setelah menggenjot pedal ke
sebuah tempat, tinggalkan sepeda itu lalu sambung dengan kendaraan
umum. Bayangkan, kalau Anda naik sepeda ke kantor, berapa biaya yang
dapat dihemat. Bukan hanya hemat uang, Anda pun jadi sehat. Jika
kantor Anda berjarak kurang dari 10 kilometer, maka bersepeda
menuju ke kantor adalah pilihan yang cerdas. Dengan kecepatan 3
hingga 5 kilometer per jam, maka Anda sudah sampai kantor dalam
waktu 2 jam. Waktu yang cukup dalam berolah raga. Tak ada bedanya
kalau Anda bermacet ria selama dua jam di jalan. Ide ini bukan hanya
wacana semata, sebuah LSM di Jakarta berhasil menggandeng beberapa
sekolah untuk melaksanakan program Sepeda untuk Sekolah. Siswa-siswa
dalam menuju sekolahnya dengan menggunakan sepeda. Tapi jangan lupa,
gunakan helm pengaman, dan Anda harus berhati-hati di jalanan kota
Jakarta atau kota besar lainnya terhadap kemacetan dan lalulintas
yang kadang tidak tertib. Juga sediakan lampu di sepeda, bila Anda
harus pulang dimalam hari.

Singkirkan Kartu Kredit Anda
Anda punya kartu kredit lebih dari 5? Atau 10? Jangan ragu untuk
memotongnya. Pikirkanlah sejenak, apakah benar-benar Anda
membutuhkan kartu kredit? Bayangkan jika Anda berhasil memotong 5
saja kartu kredit, Anda sudah dapat menghemat iuran tahunan yang
besarnya bervariasi antara 90.000 hingga 150.000 untuk jenis biasa
atau silver. Jenis platinum? Ini lebih wow lagi besarnya. Biasanya
berkisar antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Nah, Anda bisa
bayangkan berapa penghematan yang bisa Anda lakukan dengan memotong
kartu kredit Anda? Kalau Anda sayang, sisakan satu saja, itu pun
kartu kredit dengan fasilitas gratis iuran tahunan.

Manfaatkan Halaman
Eh, ini kayak zaman Soeharto saja ya? Dulu ada istilah apotek hidup
dan warung hidup. Halaman yang tersisa bisa ditanami dengan tumbuhan
yang berguna, misalnya tomat atau cabe. Beberapa Pemda sudah
menganjurkan warganya untuk melakukannya. Gang dan lahan sempit
sekitar rumah-rumah dapat dimanfaatkan untuk pot-pot tanaman
bernilai ekonomi dan mudah dirawat. Dengan rajin menanam, bukan
hanya dapat menambah penghasilan, juga untuk mengurangi beban
konsumsi sendiri. Ambil contoh cabe rawit. Buah pedas ini mudah
ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Padahal kita
tahu, harga cabai dipasaran tergolong tinggi. Dengan bertanam pun,
ada hal lain yang bisa dipetik, Anda jadi rajin berkebun dan
bercocok tanam.

Bongkar Isi Rumah
Bongkarlah dan periksa isi rumah Anda. Apa yang Anda temukan? Barang
rongsokan atau barang yang masih layak dipakai? Mungkin kedua-
duanya. Bila barang bagus yang masih bisa dipakai, kenapa tidak
dijual saja? Bukankah menghasilkan uang. Bila Anda simpan, barang
tersebut menjadi idle, atau dengan kata lain, mubazir. Bila barang
rongsokan yang tak punya nilai jual, maka Anda dapat membereskan
atau membersihkannya. Jadi toh, Anda untung juga, karena rumah jadi
terlihat lebih rapi dan resik.

Ganti Pola Makan
Anda biasa makan nasi setiap harinya? Tapi tahukah Anda, bahwa nasi
sesungguhnya dapat diganti dengan makanan lain? 100 gram nasi setara
dengan 3 buah kentang rebus berukuran sedang, setara dengan 4 lembar
roti tawar, setara dengan 10 biji crackers, setara dengan 1 mangkuk
mi berukuran sedang. Jadi Anda bisa memilih mana yang lebih murah
dengan tidak mengurang gizi yang dikandung. Bagaimana dengan
kandungan zat lain yang dibutuhkan. Harga telur memang mahal. Satu
butir telur setara gizi proteinnya dengan semangkuk susu. Atau 1
liter susu mengandung protein setara 4 butir telur. Nah, Anda bisa
membeli susu kalau harga telur dirasakan mahal. Nah, sebenarnya
masih banyak lagi, makanan pengganti yang nilai kandungan gizinya
sebenarnya setara. Jadi, Anda bisa mengubah-ubah pola makanan Anda
tanpa mengurangi nilai gizi yang diperoleh dan tentunya pun Anda
jadi berhemat.

Kurangi atau Hentikan Dugem dan Liburan
Anda biasa melakukan dugem atau hang out dengan teman atau kawan
kerja Anda? Nonton film, bowling, ngedance, clubbing, atau hanya
sekedar makan di mall. Dalam seminggu, mungkin Anda melakukannya
sekali, di akhir pekan. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu?
Atau mungkin juga Anda meluangkan waktu untuk berlibur ke mall atau
luar kota dengan keluarga di akhir pekan? Nah, Anda bisa mengubah
kebiasan-kebiasan boros tersebut. Kalau perlu, dugem atau hang out
dihentikan. Carilah hiburan yang murah meriah. Liburan pun tak harus
ke luar rumah. Anda bisa juga melakukan liburan di rumah bersama
keluarga, misalnya berkebun, mengisi dan mengganti kolam, mengganti
warna cat rumah, mengajak anak belajar memasak, atau memotong dan
membersihkan sayuran.

Ide lainnya? Silakan Anda tambahkan sendiri, semakin banyak ide yang
bisa dilakukan itulah yang menjadi kunci kemenangan di masa yang
sulit ini. Jangan mau kalah sama Tom dan Jerry. Selamat mencoba.
(260508)


Sumber: Belajar dari Tom and Jerry oleh Sonny Wibisono, penulis,
tinggal di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun