Selasa, 17 Juni 2008

Simfoni di Dalam Diri

Ada sebuah institusi sosial yang menyelamatkan peradaban dalam waktu
lama sedang mengalami keruntuhan. Institusi itu bernama keluarga.
Disebut menyelamatkan peradaban karena di keluarga kita lahir,
bertumbuh, menjadi tua, dan akhirnya mati. Lebih dari itu, di
keluarga juga sebagian besar kekurangan disempurnakan.

Bersamaan dengan runtuhnya bangunan keluarga (melalui perceraian,
menurunnya respek masyarakat, dan semakin minimnya tokoh yang
menjadi contoh dalam hal ini), di mana-mana kehidupan ditandai oleh
lingkungan yang semakin panas.

Di kantor panas oleh perebutan kekuasaan, di jalan panas oleh
kemacetan, bahkan sebagian tempat ibadah pun sudah mulai kehilangan
kesejukan. Sejumlah media cetak, radio, dan televisi hanya
memberitakan sesuatu yang panas. Yang sejuk-sejuk tidak termasuk
dalam klasifikasi berita. Jadi, tidak terbayang panasnya wajah
peradaban. Di satu sisi cuaca di luar memanas, di lain sisi keluarga
mulai kehilangan atap yang menyejukkan.

Lahan penerimaan

Ketika sayur-sayuran ditanam kemudian gagal bertumbuh segar, manusia
otomatis mencari sebabnya pada kekeliruan-kekeliru an kita sendiri.
Namun, begitu berhadapan dengan orang lain, terlalu sering dalam
kehidupan, manusia mencari kesalahannya pada orang lain. Bukan
mencari kekeliruan-kekeliru an yang kita lakukan, sebagaimana ketika
berhadapan dengan tetumbuhan.

Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, tidak elok bila menimpakan
seluruh kekeliruan kepada Descartes yang mengultuskan "aku" mulai
ratusan tahun lalu, pada kapitalisme yang membuat semuanya jadi
materialistik. Serupa dengan logika sayuran tadi, mari kita cari
sebab-sebab dalam diri yang membuat semua ini terjadi.

Bila diandaikan dengan daun kelapa yang bergoyang, goncangan
kehidupan manusia sekarang memang jauh lebih keras. Bahayanya, sudah
tambah berguncang kemudian berpegangan pada sesuatu yang bergoyang
kencang.

Di dalam diri, manusia labil oleh ketersinggungan, kemarahan,
kecemburuan. Pada saat yang sama, nyaris semua hal luar (termasuk
rumah dan keluarga) mengalami guncangan-guncangan . Oleh karena
itulah, membangun rumah dan keluarga yang sejuk menjadi sebuah isu
penting pada zaman ini.

Sebagaimana rumah sesungguhnya, kekokohannya bergantung pada
seberapa kuat fondasinya. Bila boleh jujur, kenapa fondasi banyak
rumah keluarga demikian keropos, karena dimulai dengan keserakahan
hanya mau kelebihan, menolak kekurangan. Belajar dari sinilah, maka
penting menata ulang rumah keluarga dengan belajar saling menerima
kekurangan.

Rumah mana pun akan indah menawan bila setiap kali pulang ke rumah
kita saling menyirami. Seperti pohon yang kekeringan di musim
kemarau (konflik di kantor, macet di jalan), demikianlah keadaan
emosi tatkala pulang ke rumah. Betapa indahnya kemudian bila kita
saling menyirami di rumah (baca: menerima kekurangan). Inilah bibit-
bibit cinta yang menawan. Cinta yang mekar dari kesadaran bahwa
semua punya kekurangan, semua membutuhkan siraman-siraman.

Mengalir bersama simfoni

Sulit membayangkan mekarnya bunga-bunga cinta kalau hubungan dimulai
dengan harapan orang harus sempurna. Sebagaimana alam yang memeluk
dualitas sama mesranya (musim hujan rumput menghijau, musim kemarau
bunga-bunga bermekaran), cinta baru mulai tumbuh dalam totalitas.
Dalam kelebihan ada kekurangan, dalam kekurangan ada kelebihan (love
as a totality).

Kebanyakan kecelakaan kehidupan (perceraian, peperangan,
perkelahian, kerusuhan) berasal dari mau kelebihan tidak mau
kekurangan. Bila ada seribu laki-laki berkumpul, kemudian ditanya
siapa yang mau menerima kecantikan dan kebaikan istri, kemungkinan
besar semua orang akan angkat tangan. Namun, bila ditanya, siapa
yang mau menerima (maaf) kecerewetan dan kekerasan istri, jika ada
yang menaikkan tangan, dengan mudah dituduh kurang waras. Atau
sekurang-kurangnya dicurigai menjadi ketua dewan pembina ISTI
(ikatan suami terinjak-injak istri).

Di tengah hamparan bahan-bahan kosmik seperti ini, suatu sore
seorang putri bertanya kepada papanya tentang rumah (home), terutama
setelah lama ia lelah mencari. Dengan tersenyum papanya
berbisik, "Home is not a place. It is a journey. Those who totally
flow with the journey, they're at home already." Rumah indah
kehidupan bukanlah tempat, ia adalah perjalanan itu sendiri. Siapa
yang mengalir penuh harmoni dengan keseharian, ia sudah sampai di
rumah.

Seperti belum jelas dengan jawaban tadi, putri ini bertanya lagi,
apa cahaya penerangnya agar rumah ditemukan? Dengan lembut papanya
berbisik, "The light is not outside. It is within your love. Those
who are full of love see light everywhere." Cahaya penerangnya tidak
di luar. Ia tersembunyi dalam keseharian yang penuh cinta. Siapa
saja yang melangkah dengan penuh cinta, perjalanannya terang
benderang.

Lebih dari sekadar terang, sebagaimana pengalaman para master,
kehidupan menjadi seperti simfoni indah yang dibentuk berbagai alat
musik. Benar-salah, sukses-gagal, semuanya mengukir keindahan.

Ada yang bertanya, bila ada simfoni di dalam diri, lantas siapa
dirigennya? Bertanya tentu tidak dilarang. Namun, yang perlu
diwaspadai, siapa yang menunggangi pertanyaan. Kerap ada keraguan,
kadang ada ketakutan, ada waktunya pertanyaan didorong
keingintahuan, sering pertanyaan ditunggangi kecurigaan. Keraguan,
ketakutan, apalagi kecurigaan, hanyalah tanda bahwa seseorang masih
jauh dari rumah. Keingintahuan adalah pikiran yang lapar. Dalam
banyak kehidupan, pikiran lapar adalah awal keguncangan- keguncangan.

Jadi, bisa dimaklumi bila para guru yang sudah lama tinggal di
rumah, menyatu dengan rumah, hanya mengenal dua bahasa, silent and
smile. Senyuman pertanda persahabatan dengan kehidupan. Keheningan
tanda tidak ada lagi yang diragukan.

Mungkin itu sebabnya Zenkei Shibayama memberi judul karyanya A
Flower does not talk. Bunga mekar dalam keheningan, layu dalam
keheningan. Bisa jadi ini juga alasan tatkala murid-muridnya
berselisih paham, Buddha Gautama memilih berdiam diri di hutan
bersahabatkan gajah dan pepohonan. Perhatikan apa yang ditulis Rumi
dalam Masnavi: The wages of religion are love, inner rapture. Upah
buat mereka yang tekun berjalan ke dalam adalah cinta, rasa
terpesona dari dalam yang tidak terucapkan.

Inilah simfoni di dalam diri. Simfoni yang membuat batin
beristirahat sempurna dalam hening. Apa yang ditakuti manusia
sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingya.

Sumber: Simfoni di Dalam Diri oleh Gede Prama, Bekerja di Jakarta,
Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun