Kamis, 19 Juni 2008

Sportivitas


"Lebih baik belajar dari satu orang yang telah menjalankan
sportivitas daripada belajar ke seratus orang yang hanya bisa omong
belaka."
-- Knute Rockne, pelatih sepakbola Amerika

JANGAN salahkan sepak bola bila dalam bulan ini banyak karyawan yang
datang ke kantor dengan mata sembap, kekurangan darah seperti
vampir yang sedang diet. Sudah banyak yang paham, ini adalah buah
dari turnamen sepak bola Piala Eropa yang tengah digelar di Austria
dan Swiss hingga akhir bulan ini. Di sana para bintang dunia di
lapangan hijau tengah beraksi. Teramat sayang untuk dilewatkan.
Meski hasilnya banyak deadline yang ketabrak, termasuk message of
monday yang sedang Anda baca ini. Beruntunglah publik penggila sepak
bola di negeri ini. Semua tontonan gratis,
kecuali tentu saja tagihan listrik yang harus dibayar. Tontonan
gratis ini sungguh bernas. Penonton setia tidak hanya disuguhi
permainan atraktif, pergerakan bola yang fantastis, tetapi juga ini
yang penting, sikap teladan dari para aktor di lapangan. Semua
tunduk pada aturan permainan. Ingat penyerang ganteng Italia, Luca
Toni, yang golnya dianulir wasit saat melawan Rumania? Dalam tayang
ulang terlihat jelas bahwa Toni tidak berada dalam posisi off-side.
Artinya, gol itu sah. Coba andai saja Toni berlaku seperti
konstituen yang kalah dalam Pilkada di berbagai daerah. Dapat
diperkirakan, jidat sang wasit benjol kena kepruk. Namun nyatanya
tidak, ia menghormati keputusan wasit meski dengan hati yang dongkol
sebesar telor bebek. Nah, inilah nilai luhur dari olahraga. Setiap
atlet yang bertarung dengan sendirinya menyerap semangat ini. Mereka
menerima kekalahan, juga menerima kemenangan. Semua sudah terwadahi
dalam aturan permainan. Andai hal itu tak mereka punyai, sangat
mungkin pertandingan sepak bola memakan waktu berjam-jam atau bahkan
sehari penuh, karena tim yang satu tak mau menerima kekalahan. Sepak
bola adalah salah satu warisan besar yang ditemukan manusia. Walau
keras, toh semangat sportivitas adalah segalanya.

Sportivitas pada mulanya memang lebih akrab untuk terminologi olah
raga. Pada hakekatnya, sportif adalah suatu sifat kesatria, mau
mengakui keunggulan pihak lain, menerima kegagalan dan kekalahan,
memahami dan mengerti perbedaan yang muncul, serta menjunjung tinggi
kejujuran dan keadilan. Namun kini, kata 'sportif' digunakan secara
umum, termasuk dalam dunia politik dan juga bisnis.

Tanggal 8 Juni 2008, Museum Gedung Nasional, Amerika, sebuah acara
penting berlangsung. Hillary Clinton, calon presiden dari Partai
Demokrat melakukan pidatonya yang bersejarah di hadapan dua ribu
pendukungnya. Hari itu, untuk pertamakalinya, Hillary Clinton
mengakui kekalahannya dari pesaing utamanya, Barack Obama sebagai
nominee calon presiden Amerika dari Partai Demokrat. Dalam
pidatonya, Hillary mengatakan, "Saya mendukung Obama dan memberikan
dukungan penuh kepadanya. Hari ini, saya mengucapkan selamat
kepadanya atas kemenangannya dan pertarungan luar biasa yang
dijalaninya. " Senator Hillary tidak hanya mengakui kekalahannya,
tetapi juga mendukung penuh bagi kandidat presiden Amerika dari
Partai Demokrat, Barack Obama. Hillary menyatakan akan habis-habisan
melakukan apa pun agar Obama terpilih menjadi presiden. Sikap yang
ditunjukkan Hillary patut diacungi jempol. Hillary bukan hanya
bersikap sportif, dengan mengakui kekalahannya, tetapi juga berpikir
ke depan untuk secara bersama-sama dengan Obama, memenangkan pemilu
dari partai yang sama.

Sikap yang ditunjukkan Hillary, tak beda jauh ketika Al Gore kalah
dalam pemilihan presiden melawan penantangnya George W. Bush. Gore
kalah bukan karena telah selesainya hasil perhitungan suara
dilakukan. Mahkamah Agung Amerika akhirnya memutuskan sengketa
perhitungan suara yang terjadi. Ketika tahu Gore akhirnya kalah
dalam pemilihan presiden, dalam pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia
baru saja menelepon George Bush untuk menyampaikan bahwa ia menerima
kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush
sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup
puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan
keputusan Mahkamah Agung sehari sebelumnya, yang memenangkan Bush
sebagai Presiden, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan
menerimanya. Bahkan Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu
dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh,
suatu ajakan yang sangat simpatik melihat betapa kisruh dan
tegangnya selama 36 hari terakhir dalam proses perhitungan suara
pemilihan presiden sebelumnya.

Sikap sportif tak hanya berlaku bagi mereka yang kalah dalam suatu
pertarungan, tetapi juga sebaliknya. Anda masih ingat si leher besi
Mike Tyson? Mike Tyson merupakan petinju legendaris di zamannya.
Kemenangan Tyson sebagian besar dilakukan dengan memukul KO lawannya
sebelum pertandingan berakhir. Ketika Tyson menggulung lawan-
lawannya, tak ada apresiasi kemenangan yang gegap gempita dari
Tyson. Setelah meng-KO lawannya, Tyson cukup tenang, datar dan
menghampiri lawannya serta memberikan pelukan persahabatan yang
hangat. Seolah Tyson hendak mengatakan, ini hanyalah sebuah
permainan.

Sikap sportif inilah yang harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-
hari kita. Baik dalam lingkungan rumah, kantor, dunia bisnis ataupun
dalam dunia politik. Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita
tunjukkan dengan bersikap jujur dan terbuka terhadap pasangan dan
anak. Mau menerima masukan, kritik, bahkan dari anak sekalipun.
Serta, ini juga yang penting, mau bertanggung jawab terhadap semua
perbuatan yang dilakukannya. Dalam dunia bisnis misalnya, menerima
kekalahan dalam proses tender. Atau mengakui keunggulan produk
pesaing yang ternyata memang lebih baik dan berkualitas.

Bagaimana dalam dunia kerja? Selalu ada kompetisi dengan aturan main
yang tak seragam di dunia kerja. Mulai dari cara yang paling halus,
hingga yang paling kasar sekalipun. Tetapi tetap saja, dalam
menghadapi kompetisi tersebut, Anda harus bersikap sportif. Sikap
sportif dalam pekerjaan, dapat Anda tunjukkan dalam kerjasama dengan
rekan kerja lainnya. Jangan pernah ragu untuk membantu rekan yang
sedang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Di
lingkungan kerja pun, Anda harus tetap saling menghormati atas
setiap perbedaan yang muncul. Sikap toleransi terhadap sesama rekan
kerja juga harus ditumbuhkan. Sikap ini merupakan bentuk penghargaan
terhadap setiap perbedaan kekuatan dan kelemahan. Diharapkan, dengan
sikap ini mampu menumbuhkan dan menggerakkan sikap sportif rekan
kerja lainnya.

Dengan mengembangkan nilai sportivitas bagi setiap individu,
diharapkan yang muncul adalah pribadi-pribadi yang tangguh. Pribadi
yang unggul dalam menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, keterbukaan
dan kebersamaan dalam kehidupan. Masalah-masalah bangsa ini
sesungguhnya dapat kita atasi secara maksimal dan optimal, bila
semua pihak mau bersikap sportif.

Alangkah indahnya bila persaingan Anda di kantor diakhiri dengan
acara tukar-tukar kaus seperti di lapangan sepakbola, atau
mendatangi lawan yang terkapar di ring setelah tersungkur knock out
atau memberikan karangan bunga ucapan selamat atas kemenangan sang
lawan dalam Pilkada. (160608)

Sumber: Sportivitas oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun