Rabu, 31 Oktober 2007

Kualitas Hidup

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Harry.

Harry yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.

Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?" tanya sang profesor.
"Oh," kata Harry, "selama perang, saya kira."

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

"Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah, "katanya.
"Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."


Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas. "Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak.


www.ceritakasih.blogspot.com

Kisah Unta Pada Jaman Dahulu

Alkisah pada jaman dahulu kala , sang unta bias berbicara pada manusia.

Pada suatu hari sang unta diajak mengembara oleh majikannya , melintasi gurun gersang yang sangat panas pada siang hari , dan dingin menusuk tulang pada malam hari.

Malam itu , sang unta tidur diluar tenda , sedangkan tidur nyenyak didalam.

Tengah malan , sang unta membangunkan majikannya , dia bilang , “ Tuan saya kedinginan , ijinkanlah saya menitipkan Ujung Kaki saya masuk kedalam tenda “.


Sang majikan tidak keberatan , Ujung Kaki tidak akan mengganggu dia sama sekali.

Satu jam kemudian , sang unta kembali berkata , “ Tuan , saya sangat kedinginan , ijinkanlah Kaki Depan saya berada dalam tenda , agar besok bias berjalan membawa tuan diatas punggung saya”.


“ Benar juga “ piker sang majikan , maka ia kembali memberikan ijinnya.


Satu jam kemudian , sang unta kembali berkata , “ Hidung saya mulai berair , besok saya akan sakit dan tidak bias membawa tuan diatas punggung saya , ijinkanlah Kepala saya berada dalam tenda , saya rasa besok akan kuat kembali”.


Begitulah jam demi jam , hingga akhirnya pada pagi harinya sang unta sedang tidur nyenyak didalam tenda , sedangkan sang majikan menggigil kedinginan diluar tenda.


Dear friends , kita mengenal beberapa “ type “ manusia.


Innovator ,

Hanya 2,5 % dari populasi manusia , cepat mengambil keputusan untuk sesuatu yang baru , termasuk gesit sekali untuk join sesuatu , membeli sesuatu dll.


Early Adopter ,

Populasi 13,5 % manusia , hamper mirip dengan jenis pertama , hanya agak lambat sedikit , pake mikir dulu beberapa saat sebelum memutuskan sesuatu.


Early Majority ,

34 % dari populasi , baru bertindak setelah mendapatkan “ pencerahan “ dua – tiga kali.


Late Majority ,

34 % dari populasi , baru akan bertindak untuk join , bangkit , bergerak , membeli kalau sudah diprospek beberapa kali , dan setelah tertanam kepercayaan dalam hatinya.


Laggard ,

Hanya 16 % dari manusia yang ada , sulit berubah , sangat sulit diajak bergabung , dalam kegiatan yang baru , mengganti barang yang biasa dipakai-nya setelah hamper semua teman / sanak keluarganya mengganti produk lama dengan type baru.


Selama televisinya masih berfungsi , dia mustahil menggantinya dengan televise yang teletext , surround atau layar datar atau digital . . . . . “ masih enak kok “. katanya.


Bukan mustahil jika saat ini masih ada yang memakai computer AT dan WS 6 untuk membantu pekerjaannya , walaupun dia punya uang yang cukup untuk untuk membeli computer 1 Gb dan semua mahluk di bumi ini sudah memakai Microsoft Words.


Kisah sang unta diatas selalu kita ingat , bahwa untuk menawarkan sesuatu kepada calon pelanggan memerlukan suatu perjuangan dan masa “ inkubasi “ , serta kecerdikan.


Banyak salesman , agen asuransi , countersales otomotif , broker rumah serta profesi pemasaran lainnya yang selalu lupa bahwa FOLLOW UP dan CUSTOMER SATISFACTION adalah kunci untuk mencapai keberhasilan.

from DJODI

Ide Brilian Perlu Teknik Komunikasi Untuk Menyampaikannya

Oleh : Drs. Ponijan Liaw, MBA, M.Pd.

"You can have brilliant ideas, but if you can't get them across, your ideas won't get you anywhere."
Lee Iacocca
Anda boleh saja memiliki ide brilian, tetapi jika Anda tidak bisa mengomunikasikannya, ide Anda tidak akan ada gunanya


Betapa banyak orang pintar yang penuh dengan gagasan-gagasan brilian ketika mereka lulus dari universitas formal mau pun universitas kehidupan, yang akhirnya terbentur ketika menyampaikan ide-ide brilian tersebut. Kecepatan berpikir tidak berbanding lurus dengan kecepatan menyusun kata dan merangkai kalimat. Sering malah yang terartikulasikan berbeda dengan apa yang dipikirkan. Pemahaman konseptual yang luar biasa baiknya tidak berefleksi sama dengan pemahaman operasionalnya. Mengapa hal itu terjadi ?

Banyak faktor sesungguhnya yang menyebabkan hal itu mengemuka. Satu di antaranya adalah pemahaman teknik komunikasi yang belum memadai. Artinya, ada beberapa prosedur komunikasi yang tidak mendapatkan atensi proporsional saat komunikasi itu berlangsung. Prosedur dimaksud adalah: sistematika pesan, suara, intonasi dan pemahaman terhadap karakter dan kebiasaan lawan bicara.

Masih banyak terdapat ketidaktepatan dalam penyusunan sistematika pesan sehingga pesan dimaksud tidak jelas sampai kepada orang yang dituju. Artinya, terdapat beberapa pesan yang ketika disampaikan tidak melalui proses penyusunan skala prioritas; mana yang harus disajikan lebih dulu dibandingkan dengan yang lain. Padahal, dengan menyusun skala kepentingan, pesan akan dapat disajikan dengan sangat sistematis dan terarah. Dengan demikian, ide yang bagus akan lebih mengena dan bermanfaat. Selain itu, pemahaman terhadap karakter dan kebiasaan setiap individu yang unik belum dipahami secara baik sehingga satu gaya komunikasi diterapkan kepada semua orang yang belum tentu akan nyaman dengan gaya tersebut, sebagaimana pepatah mengatakan: if you just have a hammer, you will think every problem as a nail. Jika kita hanya memiliki martil tentu saja, setiap masalah akan dipandang sebagai paku. Artinya, satu gaya akan diterapkan secara merata, padahal belum tentu semua persoalan sama (paku semua). Mungkin ada yang besi, perak, dll. Oleh karena itu, sesuaikanlah cara berkomunikasi sesuai dengan orangnya. Ini bisa dipelajari!

Jenderal & Bebek

Oleh : Haryo Ardito

Seorang jenderal panglima perang beserta sisa pasukannya baru saja kembali dari medan pertempuran. Mereka terlihat sangat kelelahan dan nampak sebagian dari mereka terluka. Perjalanan mereka terhenti di sebuah sungai dan mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengobati prajurit yang terluka. Saat perjalanan akan dilanjutkan mereka harus menyeberangi sungai itu, air sungai nampak tenang dan membuat sang jenderal mencari-cari lokasi yang dianggapnya tepat untuk menyeberang.

Tak jauh dari tempat itu nampak seorang pengembala bebek, dan sang jenderal bertanya "Hey penggembala bebek, kami harus menyeberang sungai ini, tunjukkan disebelah mana tempat yang aman untuk kami menyeberangi sungai ini?" Si penggembala bebek tergopoh-gopoh berlari mendekati sang jenderal dan segera menunjukkan arah tak jauh dari tempatnya berdiri dimana bebek-bebeknya berada.

Sang jenderal segera menginstruksikan beberapa prajuritnya untuk menaiki kuda masing-masing dan masuk ke sungai ditempat yang ditunjukkan oleh si penggemabal bebek. Namun apa dinyana sesampai ditengah sungai, kuda yang berada di barisan paling depan terperosok dan penunggangnya terjatuh hingga nyaris hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tertolong oleh rekan-rekan prajurit lainnya.

Sang jenderal sangat marah dan segera memerintahkan para prajuritnya menangkap si penggembala bebek dan bersiap untuk memenggal kepalanya. "Hey anak muda, sungguh berani sekali kamu menyesatkan kami, hampir saja prajuritku mati gara-gara kamu" si penggembala bebek menangis ketakutan seraya memohon ampun, katanya terbata-bata "Ampun.. ampun.. Tuan.. sungguh saya tidak bermaksud mencelakakan Tuan" Sang jenderal makin geram dan berteriak "Kamu lihat sendiri, arah yang kamu tunjukkan adalah salah, sungai disana sangat dalam dan seekor kuda telah mati gara-gara kamu!"

"Ampun.. Tuan, ampun.. bukankah tadi di tempat itu bebek-bebek saya berenang dengan aman?"

Kali ini sang jenderal tertegun, sejenak berpikir lalu tersadarkan bahwa dirinya telah salah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Serta merta dia memerintahkan prajuritnya untuk membebaskan si penggembala bebek itu.

Lepaskan, Bagaikan Anak Panah

Oleh : Henry Basuki - Pengamat Budaya

Anak merupakan tumpuan harapan kita. Dia dilahirkan untuk dirawat. Sewaktu kecil perlu dilindungi walau dia memintanya. Lain halnya bila kita ingin berlindung di bawah pohon. Kita aktif "minta" dilindungi karena datang di bawah pohon termaksud.

Mengapa masalah perlindungan demikian ini lain kasusnya tidak ada orang yang tahu. Katanya "khoderat"

Bila anak mengalami ketakutan, ibu senantiasa mendekapnya. Bila memerlukan sesuatu ibu berusaha untuk mendapatkannya. Demikian besar cinta kasih ibu serta pengorbanan yang diberikan sebagai "titah" kehidupan. Ini merupakan kenyataan tanpa mendiskeditkan peranan ayah yang juga tidak dapat diabaikan. Hanya "titah"nya yang berlainan.

Bila anak menderita sakit, orangtua berusaha membuatnya sembuh. Saya baru saja menjumpai Suti, seorang ibu yang mempunyai anak menderita sakit sejak lahir. Untuk pengobatannya telah menghabiskan biaya yang cukup tinggi hingga rumah miliknya dijual sebagai pengganti biaya. Dia ingin anaknya sembuh, namun apa mau dikata, anaknya meninggal dalam waktu yang tidak begitu lama. Dia harus rela melepaskan anaknya karena kematian, tetapi hal itu tidak mudah. Dia menginginkan kehidupan anaknya, sehingga tidak mudah menghilangkan kesedihannya.

Suatu hari saya bertemu Sumi, seorang nenek yang tidak mempunyai anak kandung. Sejak muda dia ditemani cucu keponakan yang diasuhnya seperti anak sendiri. Kini Sumi sudah uzur, sering menderita sakit. Dia menceriterakan kepada saya bahwa dia sakit hati terhadap cucunya. Ketika kecil si cucu dirawat dengan susah payah, sekarang bila Sumi sakit kurang dirawat olehnya. Dia lebih mengurus istri dan anaknya. Dirasakan si cucu telah melupakan dirinya.

Beberapa hari sebelumnya saya juga bertemu dengan sang cucu. Dia mengeluh mengalami kesulitan merawat neneknya. Diceriterakan suatu hari raya Idulfitri, si nenek pernah "menghilang" ketika cucunya sekeluarga datang. Rumahnya dikunci, kuncinya dititipkan tetangga, dan menantilah sang cucu sekeluarga di rumah kosong hingga neneknya pulang.

Lain halnya yang saya jumpai pada Budi, seorang ayah. Istrinya menderita sakit sementara anak tunggalnya yang baru menikah berada di lain kota yang jaraknya sekitar 800 km. Beberapa waktu istrinya rawat inap di rumah sakit, sang ayah menelpon anaknya. Dia minta anaknya segera datang untuk merawat ibunya. Menurut pendapatnya, si anak sudah lebih mementingkan istri daripada ibu yang dulu mengusuinya. Selama anak lelakinya belum datang, batinnya sangat sedih memikirkan anak yang menurutnya kurang ajar.

Dari tiga kasus di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masih ada orang yang tidak memahami kehidupan.

Kita wajib menyadari bahwa sesuatu yang ada suatu ketika akan hilang, karena keberadaanya juga berasal dari yang tidak ada.

Seorang ibu, ayah, dan siapa saja "tertitah" untuk memelihara kehidupan. Dengan demikian tidak selayaknya mengharapkan balas jasa dari mereka yang "dipelihara" kehidupannya.

Dulu sewaktu kecil kita dirawat dan dilindungi oleh orang tua dan orang-orang yang lebih tua. Mereka melakukan hal ini karena punya rasa cinta pada kehidupan. Dengan demikian, para perawat hendaknya merawat dengan tulus, seperti tulusnya matahari memberikan sinar yang diperlukan untuk kehidupan kita. Bagaikan tulusnya bumi memberikan air untuk keperluan kita, demikian juga sebagian "milik" kita seyogyanya diberikan kepada sesama untuk memelihara kehidupan.

Bila kehidupan kita dipenuhi "keterikatan" yang sifatnya "menagih" balas jasa, maka kehidupan ini terasa tidak tenang dan tidak tentram. Kita akan merasa punya "pihutang" yang belum dibayar, Kita akan terikat oleh "pihutang" tersebut dan bila saatnya menutup mata dan tidak bernafas untuk selamanya, keterikatan masih belum putus. Ada kemungkinan kita bisa menjadi "setan gentayangan" di rumah sendiri karena masih "menagih" pada anak cucu agar "membayar" kebaikan yang kita berikan.

Lepaskanlah semua anak kita bagaikan melepaskan anak panah. Anak yang sudah berumah tangga, punya kewajiban terhadap istri/suami serta anak-anaknya sendiri. Dia berada pada sasaran masa depan.

Tidak selayaknya orangtua menuntut perhatian anaknya setelah dewasa. Walau kita punya sasaran masa depan untuk anak-anak maupun generasi penerus, sasaran tersebut akan tepat memenuhi keinginan bila kita punya kemampuan untuk mengarahkannya.

Takarlah kemampuan untuk melepaskan anak panah. Jaman mengalami kemajuan dan masa depan anak-anak terwujud berdasarkan proses kehidupan manusia itu sendiri.

Jangan inginkan anak menjadi seperti kita, mereka harus lebih baik dari kita.

Lepaskanlah anak panah agar punya manfaat bagi kemajuan teknologi masa depan dengan menghilangkan keterikatan kita pada mereka. Dengan bekal keluhuran budi serta keteladanan, dia tidak akan melupakan kita. Itulah sebabnya kita wajib bekali anak-anak dengan moral etik, budi pekerti, pemahaman agama serta keteladanan. Sebaliknya bila kita tidak bekali dengan keluhuran budi dan keteladan, masa depan menjadi carut marut. Bila kita sekarang menghadapi keadaan tidak menyenangkan sebagai akibat dari perilaku masa lampau, marilah kita tingkatkan keluhuran dan keteladanan agar masa depan tidak semakin menyedihkan.

Kartu Kredit

Ijinkan saya untuk bertanya. Apakah teman-teman punya kartu kredit? Saya yakin jawabannya iya. Trus punya berapa? 1, 2, 3, atau lebih?



Di zaman ini kartu kredit bukan barang langka lagi. Di mana-mana kita bisa menemukan iklan-iklan yang menawarkannya dengan berbagai fasilitas dan keunggulannya masing-masing. Di mal-mal dengan mudah kita ketemu tim sales dengan seragam mentereng dan agresif menawarkan ke pengunjung produk mereka dengan embel-embel: pak, mudah kok prosesnya, cuma perlu KTP aja, he he ... Tak ketinggalan, entah dari mana ada telp yang tiba-tiba mencari kita, trus menawarkan kartu kredit :)



Bagi sebagian orang, salah satu simbol kesuksesan dan kebanggaan adalah memiliki sebanyak mungkin kartu kredit. Jadi jangan heran kalau dengan mudah kita melihat orang berlomba-lomba memamerkan koleksinya. Makan di restoran: kartu kredit ini keluar. Belanja di supermarket: gesek yang itu. Beli peralatan eletronik: yang lain didayagunakan. Sampai di kalangan mereka ada pameo seperti bunyi sebuah iklan: "hari gini ... tidak punya kartu kredit?"



Namun percaya atau tidak, sindiran tersebut mengena di diri saya, he he. Sampai detik ini saya belum dan tidak pernah punya selembar kartu kredit pun. Ndak tahu kenapa yah, nggak pengen aja. Pikiran saya yang kolot dan ortodox selalu menganggap kalau saya memberanikan diri melangkah untuk memilikinya, itu sama saja menceburkan diri ke sebuah dunia yang selalu dihindari, yaitu dunia utang. Bagi saya lebih aman kalau aku pegang ATM saja. Selain karena sekarang di tempat-tempat belanja sudah menyediakan fasilitas debit, juga dengan ATM saya bisa mengerem diri dari sembarang gesek, yang ujungnya menghindari diri untuk terjerat dalam lingkaran yang istilahnya lingkaran setan he he he ...

Pengalaman teman-teman saya yang pernah terjerat di sana semakin menguatkan argumentasi. Sebut saja A, pernah mempunyai hampir 6 kartu kredit. Sebelum krisis melanda Indonesia, dia memanfaatkan kartunya untuk mengambil barang-barang elektronik, kemudian dijual lagi ke koleganya. Awalnya sih lancar, dalam artian masih untung. Namun memasuki krisis, distribusinya terjun bebas. Akibatnya bisa ditebak, kredit macet he he.



Alhasil mulai berdatanganlah yang namanya debt collector, dari semula menagih dengan lembut berubah menjadi teror mencekam. Mendengar dia menuturkan pengalamannya membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana setiap dia mendengar bunyi telp, jantungnya langsung berdetak kencang. Ketika diangkat, dampratan dengan koleksi kata-kata kebun binatang sampai ancaman harus dia terima. Hidupnya jadi kacau, berantakan, dan hidup dalam ketidakpastian.



Beruntung dia mempunyai saudara, yang menurut istilahnya menjadi juru selamatnya. Tunggakan-tunggakannya ditebus, kartu-kartunya dihancurin, dan diapun kembali ke jalan yang benar he he he ...

Pengalaman teman lain juga sama. Karena kurang cermat dan perhitungan gesek, terjerat juga dalam dunia utang. Dan, lagi-lagi datang sang penyelamat hingga membuatnya insyaf dan lebih berhati-hati lagi dalam menggunakannya.



Terlalu berat sebelah jika saya hanya melihat dari sisi negatif dari kartu kredit. Bagi sebagian orang justru kehadiran kartu kredit sangat membantu mereka. Misalnya temanku yang istrinya mau melahirkan. Awalnya dia berpikir akan lahir normal, jadi dana yang dia siapkan hanya sebatas itu. Namun ceritanya beda karena harus caesar. Alhasil, diapun menggunakan gesekan mautnya untuk menebus istri dan anaknya ha ha ha ...



Jadi intinya adalah sebuah pilihan. Kita memilikinya hanya untuk alasan gengsi, ataukah kita benar-benar membutuhkannya. Ibarat Madu atau Racun , tergantung anda menggunakannya.

* * *

"Hen ... udah apply belum rekomendasiku?"
"Belum. Tidak berminat ..."

"Gaul dong ... masa kartu kredit aja ndak punya. Kayak aku lho ..." kata temanku sambil mengeluarkan dompet.

Aku melirik, dan satu persatu kartunya dikeluarkan. Oh God ... 7 keping. Hhhh ... aku hanya bisa geleng-geleng kepala ...



Posted by DJODI ISMANTO

Selasa, 30 Oktober 2007

Belajar Lagi

Yuli sudah bekerja selama lebih dari setahun. Selama ini dia sering
merasa kurang percaya diri. Tidak seperti teman-teman lainnya. Ketika
dia baru bekerja dua bulan, masuklah seorang karyawan baru bernama
Mia.

Mia cukup menarik, lagi pula dia baru lulus dengan menyandang ijazah.
Sesuai aturan perusahaan, Mia mulai bekerja dengan masa percobaan
selama tiga bulan. Tentu saja sebagai karyawan baru, Mia dituntut
untuk belajar sebanyak-banyaknya agar bisa bekerja dengan baik.

Yuli yang bekerja satu ruangan dengannya tentu saja memperhatikan Mia
dan ingin membantunya agar cepat bisa menguasai pekerjaannya. Tapi,
sikap Mia tidak mendukung sama sekali.

Mia malah sering bermalas-malasan, banyak waktu kerjanya terbuang
untuk bicara berlama-lama di telepon dengan teman-temannya. Entah apa
saja yang dibicarakan, Yuli tidak mau mencuri dengar. Tapi
kelihatannya asyik sekali.

Sebagai teman yang baik, Yuli ingin membantu Mia. Karena itu, sebagai
karyawan yang lebih senior, Yuli kadang-kadang menegur Mia dan
menganjurkannya untuk lebih serius belajar. Bukan saja malas, Mia
juga lambat mempelajari sesuatu.

Yuli merasa heran. Dia sendiri sudah merasa dirinya sendiri kurang
cepat belajar, tapi Mia yang menurutnya lebih parah, lebih lambat
belajar, malah tenang-tenang saja. Tapi, anehnya, kalau Yuli memberi
nasihat, Mia tersinggung dan marah-marah.

Tentu saja, hasil kerja Mia tidak lepas dari penilaian atasan.
Apalagi dia masih dalam masa percobaan. Hampir setiap minggu atasan
selalu memanggil Mia dan memberikan nasihat.

Tapi atasan juga tahu persis bahwa setiap kali diberi nasihat,
dihadapannya Mia memang mengiyakan, tapi dibelakangnya dia tidak
pernah melaksanakannya. Sampai atasannya menggunakan ancaman bahwa
dia bisa gagal melewati masa percobaannya kalau malas belajar. Tapi,
tetap saja tidak ada pengaruhnya.

Perbaiki diri

Akhirnya dengan berat hati, pada akhir masa percobaan, Mia harus
berhenti bekerja. Dia dinyatakan tidak lulus. Mia sangat terkejut.
Dia tadinya mengira tidak akan mungkin diberhentikan atau dinyatakan
tidak lulus. Dengan tergesa-gesa, Mia minta agar masa percobaan bisa
diperpanjang karena dia ingin memperbaiki diri. Dengan cemas dia
berkata:"Tolong, beri saya kesempatan lagi pak. Sebulan lagi saja.
Saya mau berubah"

Tapi dengan tenang atasannya hanya menjawab:"Saya sudah memberi
kesempatan padamu selama tiga bulan. Kalau selama tiga bulan kamu
tidak mau berubah, maka saya tidak percaya bahwa kamu akan berubah
dalam waktu sebulan."

Meskipun merasa kasihan, atasannya tetap tegas dengan sikapnya.
Beliau melihat bahwa Mia tidak sungguh-sungguh mau berubah. Kalau
memang mau berubah, sejak dulu pasti sudah berubah, ketika sering
diberi nasihat dan saran. Tidak perlu menunggu sampai selesai masa
percobaan dan dinyatakan gagal.

Yuli juga merasa kasihan. Tapi apa boleh buat. Dia juga melihat bahwa
Mia memang tidak serius bekerja. Tidak mau belajar. Setiap hari hanya
santai saja. Setiap diberi tugas, dia hanya minta bantuan orang lain
untuk membantu menyelesaikan tugasnya. Untung di kantor karyawannya
cukup banyak, lebih dari 60 orang.

Setelah dibantu pun, dia tidak menjadi bisa karena sudah belajar.
Tetap saja Mia tidak berubah. Lain kali diberi tugas yang sama, tetap
saja dia tidak bisa. Bukannya belajar dan meningkatkan kemampuan, dia
malah santai.

Dari peristiwa tersebut, Yuli belajar tentang satu hal. Dia
seharusnya bersyukur karena dalam hatinya masih ada kemauan untuk
belajar lagi. Atasannya pernah berkata:"Selama kita masih mau
belajar, maka kemampuan kita akan terus meningkat."

Yuli semakin bersemangat untuk belajar lagi. Dua hari yang lalu, dia
diminta oleh atasannya agar pergi ke pabrik yang terletak di
Citeureup, Bogor, sendirian untuk rapat dengan bagian produksi
sehubungan dengan produk baru yang akan dihasilkan. Jadwal produksi
harus dipercepat karena bahan baku sudah tiba. Yuli belum pernah ke
pabrik, eh sekarang disuruh kesana, sendirian lagi.

Tapi, Yuli ingat perkataan atasannya yang menyatakan bahwa selama dia
masih mau belajar maka kemampuannya akan terus meningkat. Karena itu
dengan penuh semangat berangkatlah dia ke Bogor.

Meskipun cukup lama perjalanan ke sana, tapi ternyata tidak sulit.
Orang-orang di pabrik juga sangat baik. Segera dia berkenalan dengan
beberapa orang yang selama ini hanya didengar suaranya melalui
telepon. Selama ini mereka telah saling berkomunikasi tapi belum
pernah saling bertemu. Lucu juga sih.

"Oh, ini yang namanya Yuli......! Saya Ani yang di bagian
gudang." "Saya Yanto yang sering ditelepon oleh mbak Yuli." "Saya
Anna, sekretaris Pak Guntur, yang tadi pagi menelepon mbak Yuli."

Hal-hal yang tadinya kelihatan meragukan, ternyata setelah dijalani
menjadi mudah. Yuli yang tadinya merasa kurang percaya diri menjadi
lebih mantap. Dia semakin yakin, asalkan dia mau belajar dan mencoba,
maka pasti bisa. Betul kata atasannya. Yang penting dia harus selalu
mau belajar. Pokoknya belajar lagi dan lagi. Learn more! Everyday!
Everywhere!

Sumber: Belajar Lagi oleh Lisa Nuryanti, Managing Director Expands
Consulting

Segarkan Diri Lagi dengan De-Stress

Sometimes the most important thingin a whole day is the rest we take
between two deep breaths. (Etty Hillesum)

Apa yang mesti dilakukan pada saat merasa stres dengan situasi
ataupun pekerjaan yang Anda hadapi? Pesan sederhananya, jangan
memaksakan diri. Berhentilah sejenak. Lakukan proses yang disarankan
oleh rekan ahli nutrisi di Inggris yang saya temui baru-baru ini
dalam perjalanan liburan dan studi saya yang disebutnya sebagai de-
stress. Apakah maksudnya?

Prinsip dalam de-stress adalah, mengambil napas panjang, cukup makan,
cukup tidur, mendengarkan musik, bersantai, latihan fisik, aktivitas
sosial dan pijatan kepala. Mari kita tinjau satu demi satu prinsip de-
stress tersebut.

Ambil napas panjang
Ada kalanya kita merasa diri kita suntuk atau pun jenuh. Saat-saat
inilah lebih baik bagi kita untuk berhenti sejenak. Menarik napas.
Memberi lebih banyak oksigen bagi tubuh kita. Dalam beberapa
pelatihan yoga, ada beberapa gerakan seperti menarik napas dalam....
tahan... dikeluarkan lagi melalui mulut. Beberapa latihan pernapasan
yang sederhana sungguh memberikan energi positif bagi tubuh kita.

Cukup makan
Beberapa ahli nutrisi di Institute of Optimum Nutrition (ION), tempat
di mana saya belajar soal nutrisi dan pikiran selama di Inggris,
mengeluhkan banyak orang menjadi adrenalin junkies (kecanduan untuk
terus memacu adrenalinnya) . Mereka berusaha menurunkan stresnya
melalui kopi, rokok atau makanan dengan kadar gula tinggi.

Ada beberapa saran yang dapat diterapkan. Misalnya, mengurangi
kandungan gula dalam makanan kita. Caranya, mengganti camilan dengan
potongan buah segar. Bahkan, disarankan juga membatasi sekali
stimulan seperti kopi, teh ataupun cokelat, oleh karena kandungan
caffeine di dalamnya.

Sebaliknya ada beberapa kandungan vitamin dan mineral yang sangat
dianjurkan untuk mengurangi stres, misalkan vitamin B1, B2, B3, B5,
B6, B12, folic acid, choline, co-enzyme Q10, vitamin C, calcium,
magnesium, besi, seng serta chromium. Nah, mulai sekarang, cobalah
perhatikan kandungan-kandungan zat ini dalam makanan maupun suplemen
Anda.

Cukup tidur
Baru-baru ini, kantor berita BBC melakukan penelitian yang
menghasilkan simpulan menarik: orang yang tidur rata-rata tujuh jam,
mempunyai peluang usia lebih panjang. Namun, tidur kepanjangan juga
membuat tubuh dalam kondisi mood yang rendah serta kondisi energi di
mana orang malas melakukan apapun.

Jadi, tidur sekitar tujuh jam adalah cukup optimal, menurut
penelitian ini. Memang, tidur dibutuhkan oleh tubuh selain untuk
proses detoksifikasi, juga untuk menghasilkan zat tertentu seperti
melatonin.

Bahkan, dalam pengajaran hypnotherapy yang saya berikan, ada proses
di otak yang disebut dengan Ultra Radiant Cycle di mana selang
sekitar 90 menit, otak akan mengistirahatkan dirinya. Karena itu,
dalam situasi stres, mengambil jeda sejenak dengan melakukan cat nap,
jeda tidur 3-10 menit adalah suatu ide yang baik untuk dicoba. Dalam
pengalaman saya, ide cat nap beberapa menit ini sungguh menyegarkan.
Tapi, ingat jangan sampai kelamaan!

Mendengarkan musik
Tentu saja, ada beberapa musik yang mampu membuat suasana rileks.
Saat ini sudah banyak musik dengan tema-tema relaxing music atau pun
koleksi musik relaxing music yang bisa membuat tubuh dan pikiran
menjadi lebih segar. Bahkan, dalam beberapa teknik terapi musik,
dapat kita terapkan dalam diri kita saat menghadapi stres.

Salah satu caranya, mencari musik alunan yang lebih lembut, sehingga
gelombang otak bisa mensinkronkan musiknya. Hindari musik dengan
lagu, supaya pikiran dan imajinasi kita menjadi lebih lepas dan
bebas. Fokuskan pada perasaan saat mengikuti alunan musik tersebut.
Hal ini akan menjadi kondisi yang sangat menyegarkan untuk dicoba
pula.

Rileks
Pada saat stres, ada baiknya jika sesekali kita
melakukan 'pengendapan' pikiran dengan melihat ulang semua hal yang
kita alami dengan perspektif yang lebih 'besar' Salah satu teknik
relaksasi yang saya lakukan adalah mengambil waktu untuk tenang,
berdoa, lalu mencoba melihat segala masalah dan pikiran yang kita
alami dengan melakukan proses 'asosiasi' terhadap semua masalah
tersebut.

Terkadang, dengan melihat dari sudut pandang yang lebih dan melihat
dari big picture-nya membuat kita lebih sadar. Pada akhirnya, fakta
menunjukkan semuanya tidak serumit yang kita bayangkan.

Pelatihan
Berbagai aktivitas amat membantu kita untuk mengurangi stres. Joging
pagi, melakukan treadmill, aerobic ringan atau olahraga yang bisa
membuat tubuh kita berkeringat. Mereka terbukti mampu membuat stres
kita menurun.

Saya tertarik dengan ide dari Oscar Ichazo yang menyarankan pelatihan
yang disebut Psychocalistenics. Dalam pelatihan ini ada lima area
yang kita latih, yakni bagian kepala (pikiran), bagian dada (emosi),
bagian perut (kekuatan tubuh), bagian bawah perut (vitalitas), dan
seluruh bagian tulang belakang (spiritual).

Pijatan kepala
Pada saat stres, lakukan pelatihan ini. Cobalah untuk memijit-mijit
kepala dengan ringan. Sambil menutup mata, nikmati perasaan saat
setiap kali jari-jari menyentuh kepala dengan nyaman. Ini merupakan
salah satu teknik untuk de-stress yang baik.

Aktivitas sosial
Terakhir, cobalah teknik ini. Ada beberapa rekan saya, yang pada saat
ketika dirinya suntuk, dia keluar dari ruangannya dan menghambur
dengan orang lain. Tidak disangkal, teman maupun orang lain mampu
memberi perasaan lega, nyaman, aman, saat kita suntuk.

Bayangkan saja, saat suntuk, kita justru mengurung diri dalam kamar.
Pasti kita akan semakin tersiksa. Nah, kegiatan-kegiatan sosial,
entah membantu orang lain, bergaul dengan orang lain, menyambangi
sahabat akan membantu kita untuk menghilangkan stres. Lebih-lebih
jika orang lain mampu berbagi dengar dengan diri kita.

Nah, obat mujarabnya, praktikkan teknik-teknik de-stress ini untuk
menyegarkan (rejuvenating) diri Anda saat mengalami stres. Jangan
biarkan Anda terjerembab dalam situasi stres yang membuat Anda tidak
produktif lagi. Anda adalah tuan atas diri Anda sendiri!

Sumber: Segarkan Diri Lagi dengan De-Stress oleh Anthony Dio Martin

Senin, 29 Oktober 2007

Kita Ini Bangsa Yang Besar – Bisakah Kita Menjadi Pribadi Yang Besar Juga?

by Dadang Kadarusman

Kita mengklaim Indonesia sebagai negara yang sangat besar. Dengan jumlah pulau yang bisa mencapai 18,000 buah, dan populasi sekitar 226 juta jiwa; tidak ada yang meragukan kalau bangsa ini memang benar-benar bangsa yang besar. Tetapi sebagai individu, bisakah kita juga menjadi ‘besar’? Jika ada seloroh ‘how low can you go?’; maka sekarang pertanyaan itu menjadi ‘How big can we be?’ Kita ini bisa sebesar apa? Ironis juga jika kita tinggal disebuah negara yang begitu besar, tetapi sebagai penduduk dan warga negaranya kita hanya bisa menjadi pribadi-pribadi yang kerdil. Kerdil bukan dari perspektif postur tubuh; melainkan dari nilai dan kualitas kepribadian kita. Ironis bukan hanya karena kita seolah tidak bisa mewakili kebesaran bangsa ini; melainkan juga karena kita tidak berhasil mengoptimalkan seluruh potensi diri kita yang sudah pasti nilainya sangat tinggi itu. Tetapi, apakah memang seharusnya kita menjadi pribadi-pribadi yang besar?

Sebentar dulu; sebenarnya seberapa besar sih Indonesia ini? Kita tahu itu besar; tapi ‘sebesar’ apa? Gampang; kita bandingkan saja negara ini dengan negara lain yang kita anggap besar. Sekarang coba tentukan dulu sebuah negara yang anda anggap besar. Sebut saja nama negaranya dalam hati. Apakah Amerika Serikat masuk kedalam daftar negara yang anda anggap besar? Baiklah, jika Amerika anda anggap besar; mari kita membuat perbandingan sederhana. Caranya; ambil peta negara Indonesia. Dan ambil juga peta Amerika dalam skala yang sama. Lalu, dengan bantuan komputer letakkan peta Indonesia anda tepat diatas peta Amerika. Jika ujung paling barat Indonesia itu dipadukan dengan daerah sekitar Colorado River diujung daratan Amerika, maka ujung timurnya akan melebihi batas daratan Amerika di sekitar Manhattan Island. Bagian selatan menyentuh Houston hinggá keutara melampaui Chicago bahkan nyaris menyentuh Toronto. Siapa yang tidak kenal kebesaran nama Amerika? Nah, kira-kira sebesar itulah negara kita itu loh…..

Pertanyaannya sekarang adalah; jika sebagai negara kita ini sebesar Amerika; apakah sebagai individu kita juga bisa sebesar orang-orang Amerika? Memang, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah pendapatan perkapita, tentu kita tidak ada apa-apanya. Kita hanya bisa meraup sekitar $1,400 setahun jika dibandingkan dengan pendapatan perkapita orang Amerika yang lebih dari $40,000. Tetapi, tentu kebesaran seorang individu tidak bisa semata-mata diukur dengan nilai pendapatannya. Lagi pula, negara-negara maju lainnya pun pendapatan perkapitanya tidak sebesar itu. Kebesaran individu lebih dalam konteks kualitas diri yang dimilikinya. Oleh karenanya, pertanyaan kita tadi bisa dibuat lebih spesifik lagi; bisakah kualitas diri kita menyamai kualitas orang Amerika? Jika kita pelajar, misalnya; bisakah kualitas pelajaran atau daya nalar kita setara dengan pelajar Amerika? Jika kita seorang pekerja; bisakah kualitas pekerjaan kita sebanding dengan bule-bule Amerika? Dalam konteks itu; kita tidak boleh kalah dengan mereka. Serius.

Mengapa? Karena pada dasarnya Tuhan pasti memberi kita kemampuan yang tidak lebih rendah dari orang lainnya; terutama menyangkut kemampuan dasar untuk menjadi manusia yang bermartabat. Memang, seseorang bisa unggul dalam bidang eksakta, misalnya. Sedangkan orang lainnya lebih unggul dalam bidang sosial. Perbedaan itu hanyalah bersifat sektoral keahlian saja. Sengaja Tuhan buat begitu supaya manusia bisa saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Karena peradaban umat manusia tidak mungkin bisa dibangun hanya dari aspek matematika dan fisika saja. Oleh karenanya, jika setiap orang yang mempunyai kekurangan dan kelebihan berbeda-beda itu bisa benar-benar mengoptimalkan potensi dirinya; maka semua manusia akan sama tinggi martabatnya.

Salah satu penyebab utama; mengapa seseorang direndahkan oleh orang lain adalah karena orang ini dianggap tidak kompeten. Mengapa ada orang-orang yang tidak kompeten? Karena mereka tidak berhasil mengoptimalkan potensi dirinya. Sebab, jika dia mampu mengoptimalkannya; tidak mungkin dia tidak kompeten. Pasti dia kompeten. Ngomong-ngomong, pernahkah anda menemukan orang yang kompeten dalam bidang tertentu tapi dia dilecehkan? Tidak pernah, bukan? Setiap orang yang kompeten, pasti dihargai tinggi. Jadi, supaya kita mendapatkan martabat yang tinggi sebenarnya cukup sederhana; yaitu memiliki kompetensi yang baik. Itu saja? Belum. Itu baru setengahnya. Yang setengah lainnya apa? Perilaku yang baik. Pendek kata; jika kita benar-benar ingin menjadi orang bermartabat; ada dua hal yang perlu kita miliki; pertama kompetensi tinggi dan kedua, perilaku yang baik.

Bisakah kita memiliki kompetensi tinggi? Bisa, sejauh kita mampu mengoptimalkan potensi diri kita. Bisakah kita miliki perilaku yang baik? Bisa. Jika kita memang menghendakinya demikian. Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Pasti ada kekurangannya. Tapi, pasti juga ada kelebihannya. Tidak ada manusia yang dilahirkan dengan hanya sifat buruk. Pasti ada sisi positif yang dibawanya ketika dia dilahirkan. Kita sendirilah yang memilih apakah hendak mengoptimalkan potensi diri yang telah Tuhan anugerahkan atau tidak. Dan kita sendirilah yang menentukan untuk memilih baik atau buruknya perilaku kita.

Tetapi, jika kita memilih untuk mengabaikan potensi diri yang ada, maka ironis sekali. Karena, kebesaran bangsa yang tidak diragukan lagi ini. Kekayaan alam yang tidak ada tandingannya ini, sama sekali tidak akan memberikan manfaat apapun kepada kita. Jika kita memilihnya demikian, maka bersiap-siaplah. Kita akan menyaksikan orang-orang asing semakin rakus mengeksploitasi kekayaan alam kita. Sampai terkuras habis. Sehabis-habisnya. Sementara kita hanya bisa menjadi kuli kasar bagi mereka. Tukang angkut. Tukang gali. Tukang sapu. Tukang disuruh-suruh. Tukang apa aja dalam posisi kepegawaian yang paling rendah. Dan tentu saja mendapat upah sekedarnya. Yang untuk sekedar hidup layak saja belum tentu cukup. Dan ketika sumber daya alam kita sudah habis, jadilah kita manusia-manusia kalah yang terbuang dalam kubangan-kubangan sisa galian pertambangan. Terjerumus kedalam lubang-lubang sumur bekas pengeboran. Dan tersesat ditengah-tengah hutan gundul yang tidak lagi berpohon, dan berdedaunan. Tanpa daya. Tanpa pula harga diri yang layak untuk dibanggakan. Kita. Tidak mau. Seperti itu. Bukan?

Hore,
Hari Baru!

Catatan Kaki:
Sebuah bangsa hanya akan benar-benar besar jika individu-individu yang menjadi warga negaranya adalah orang-orang yang berkompetensi tinggi dan berperilaku agung. (Tidak terdengar seperti kata-kata mutiara, kan?)

Bila Terlanjur Berbuat SALAH

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Apalagi kesalahan yang sampai menyakiti hati orang-orang terdekat.

Namun, sebagai manusia, tak jarang kita masih juga terpeleset melakukannya.

Berikut ini tips bila kita terlanjur berbuat salah:

Jangan ditunda, karena menunda permintaan maaf bisa memperparah keadaan.
Segera melakukan penilaian jujur dan jernih, mengapa peristiwa itu dapat terjadi.
Kalau suasana masih panas, jangan melakukan tindakan apapun. Bukan tidak mungkin tindakan yang tujuannya untuk mendinginkan suasana justru berakibat sebaliknya.
Jangan terlalu gundah. Biarpun bersalah, Anda sudah meminta maaf. Sering kali kesalahan di dunia tidak berdiri sendiri. Kesalahan bisa merupakan bagian dari rangkaian peristiwa lain.
Setelah suasana membaik dan dingin, datangi orang yang Anda lukai hatinya. Sekali lagi meminta maaf, dan lanjutkan dengan mendiskusikan masalah itu dengan kepala dingin dan hati tulus. Tujuannya, perselisihan itu tidak terulang.
Kembali melakukan evaluasi dan introspeksi diri. Juga mencanangkan niat untuk lebih berhati-hati di waktu mendatang. (intisari)

udahkah Anda MENYETIR dengan Aman?

Kompas

JIKA bicara soal kondisi lalu lintas dan cara mengemudi di Jakarta, sudah pasti orang langsung mengacungkan jempol terbalik.

Apalagi di jalan-jalan sibuk, seperti di daerah Kota, Thamrin, Blok M, Kuningan, Pasar Minggu, Ciputat, Grogol, Ciledug, dan Cipulir, kemacetan selalu terjadi di jalan-jalan tersebut.

Angka kecelakaan lalu lintas yang dicatat Dirjen Perhubungan Darat menunjukkan, kecelakaan lebih parah setelah adanya reformasi. Pada tahun 1997 tercatat sekitar 34.000 orang menjadi korban kecelakaan, pada tahun 1999 korban kecelakaan sekitar 47.000 orang. Jika pada tahun 1997 korban yang meninggal mencapai 12.500 orang, di tahun 1999-2002 mencapai 10.000-15.000 orang setiap tahunnya. Adapun penyebab kecelakaan, 90 persennya adalah human error. Artinya, penyumbang terbesar kecelakaan adalah kesalahan manusia, bukan kesalahan mekanis atau faktor lainnya.

Jika ditilik lebih jauh lagi, rendahnya disiplin di jalan raya disebabkan ketidaktahuan masyarakat tentang bagaimana cara mengemudi yang baik dan aman. Seseorang yang baru belajar menyetir tidak mendapatkan pelajaran disiplin mendalam walaupun dia belajar di sekolah mengemudi. Ketika dia mengambil surat izin mengemudi di Kepolisian, petugas hanya menguji soal kemampuannya mengemudi dan mental mengemudi yang baik tidak diuji.

Soal ketidaktahuan masyarakat ini, menurut Bintarto Agung, Presiden Direktur Indonesia Defensive Driving Center (IDDC) sangat nyata. Contohnya, banyak pengemudi yang tidak tahu bahwa batas maksimal kecepatan di jalan tol dalam kota adalah 80 km per jam. "Mereka tidak tahu bahwa batas kecepatan di jalan tol dalam kota berbeda dengan jalan tol Jagorawi dan Cikampek. Kalau di Jagorawi dan Cikampek memang diperbolehkan mencapai 100 km per jam," kata instruktur lembaga pelatihan mengemudi yang aman ini.

Bintarto mencontohkan, di Australia setiap akhir minggu terus-menerus ditayangkan iklan layanan masyarakat tentang mengemudi yang aman. Padahal, penduduk Australia sudah mempunyai kesadaran disiplin berlalu lintas yang tinggi. Di Indonesia iklan layanan masyarakat soal ini jarang sekali ditayangkan.

INFRASTRUKTUR memang kurang memadai, penegakan hukum di jalan raya juga tidak serius. Namun, jika setiap pengguna jalan berdisiplin dan waspada, pastilah kemacetan dan kecelakaan bisa dihindari.

Menurut Bintarto, pengemudi yang baik harus selalu memakai 4A, yakni alertness (kewaspadaan), awareness (kesadaran), attitude (tingkah laku), dan anticipation (mengharapkan). "Seorang pengemudi itu harus selalu mengharapkan yang tidak diharapkan. Dengan demikian, dia akan selalu waspada, sadar, dan berhati-hati dalam tingkah laku mengemudinya," kata Bintarto.

Cara mengemudi yang demikian disebut defensive driving, maksudnya perilaku mengemudi yang bisa membantu menghindari masalah lalu lintas. Cara mengemudi ini berbeda dengan safety driving. Defensive driving lebih menitikberatkan pada sikap mental mengemudi, sedangkan safety driving menitikberatkan pada keterampilan mengemudi.

"Contoh yang paling tepat adalah pembalap. Seorang pembalap sangat terampil mengemudi. Namun, belum tentu dia berhati-hati di jalan umum, karena bisa saja dia ngebut di jalan raya. Adapun pengemudi defensive tidak hanya terampil, tetapi juga mempunyai sikap mental positif yang menjauhkannya dari bahaya di jalan raya," papar Bintarto.

Sikap defensive driving antara lain selalu mengecek kendaraan sebelum pergi. "Jika mobil Anda harus bekerja keras, ceklah tekanan ban setiap hari. Tetapi, jika hanya dipakai untuk pergi ke kantor dan tidak berkeliling, ukurlah tekanan ban setiap 4-6 hari. Ukurlah tekanan ban itu ketika ban dalam keadaan dingin. Jadi, Anda harus mempunyai alat pengukur ban di mobil. Kemudian, tambahkan udara sesuai kekurangan ketika ban masih dingin. Jangan ketika dia sudah panas karena mobil sudah dijalankan ke tempat pompa ban," kata Bintarto menjelaskan.

Tekanan ban yang tidak pas ini, kelebihan atau kekurangan, bisa menyebabkan pecah ban. Risiko paling ringan adalah memperpendek umur ban dan mobil berjalan tidak stabil.

Ketika di jalan, ingatlah bahwa berkendara di jalan umum berarti harus berbagi jalan dengan orang lain. Oleh karena itu, bersikaplah yang sopan, menaati peraturan lalu lintas, dan tidak terpancing untuk situasi di jalan. "Misalnya, jangan terpancing orang yang memaksa ingin mendului. Perbedaan waktu antara mengebut dan tidak mengebut tidak sampai lima menit. Dengan ngebut, berarti kita sudah merisikokan diri kita ke dalam situasi berbahaya," kata Bintarto sambil mengingatkan untuk memakai sabuk pengaman.

Jagalah selalu jarak dengan mobil di depan. Caranya, jika kecepatan kita sudah sama dengan mobil di depan, carilah alat bantu statis di pinggir jalan seperti tiang listrik atau pohon. Ketika mobil di depan melewati pohon tersebut, mulailah berhitung seribu satu, seribu dua, seribu tiga, dan seterusnya. Jika ketika mobil kita melewati pohon tersebut hitungannya sudah melebihi seribu tiga, maka kita berada di jarak yang aman.

Jangan mengobrol masalah serius dengan penumpang karena akan memecah konsentrasi mengemudi. Demikian juga dengan pemakaian telepon genggam.

"Walau pengemudi sudah memakai hands-free, dia tetap membahayakan diri, karena menelepon dapat mengganggu konsentrasi di jalan," tegas instruktur di IDDC ini. (ARN)

Menangis & TERTAWA Sama Sehatnya

Tertawa, juga menangis, itu bagian dari spektrum emosi yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hanya saja ada yang pelit, ada yang boros tertawa. Tetapi jangan pelit-pelit karena tertawa dan menangis bermanfaat bagi kesehatan.

Siang hari itu terasa menyesakkan. Udara panas dan suasana mencekam menambah beban bagi Robert, yang sedang tegang menghadapi ujian skripsinya. Pemuda ini tampak panik menerima bombardir pertanyaan dari para penguji. Keheningan ruang ujian tiba-tiba pecah oleh ledakan tawa para penguji. Rupanya, untuk mencairkan suasana seorang penguji usil mengajukan pertanyaan yang jauh melenceng dari materi ujian. Menyadari apa yang terjadi, Robert pun ikut tertawa lepas. Habis itu ia kelihatan santai dan bisa menguasai diri serta lulus dengan predikat memuaskan.

Meningkatkan kekebalan tubuh

Itu hanya salah satu bukti manfaat nyata dari tertawa. Dengan tertawa, Robert bisa berpikir secara jernih dengan menggunakan akal sehatnya.
Tertawa, juga menangis, menurut dr. W.M. Roan, seorang psikiater senior, itu pencerminan emosi manusia, yang merupakan bagian dari spektrum emosi yang meliputi kesedihan, kegembiraan, kekagetan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan. Ekspresi diri tidak hanya berwujud gerakan, tetapi juga berupa berbagai reaksi emosional yang bermacam-macam itu.

Tidak hanya manusia, hewan pun bisa menunjukkan perasaan gembira dan sedih dengan berbagai kegiatan dan gerakan. Anjing, misalnya, jika gembira, buntutnya ke atas dan bergoyang-goyang atau kegiatan otot-ototnya meningkat. Tetapi hewan tidak bisa tertawa dan menangis. Meskipun anjing bisa berkaing-kaing, itu bukan menangis walau ekuivalen dengan menangis. Karena itu, banyak ahli tertarik untuk membahas ihwal tertawa dan menangis, termasuk dampaknya bagi kesehatan.

Dampak tertawa ini bahkan pernah bikin geger dunia kedokteran.

Norman Causins, seorang redaktur Saturday Review di AS, menderita penyakit aneh dan langka. Penderita penyakit ini bakal tersiksa dan merasakan sakit yang luar biasa, meskipun hanya menggerakkan sedikit bagian tubuhnya. Menurut dokter, kesembuhan bagi Norman sangat kecil, 1 : 500. Berbagai obat sudah dicoba, tetapi kesehatannya tak kunjung membaik.

Suatu ketika Norman terilhami sebuah kalimat yang dulu ditulis oleh seorang raja yang hidup sekitar 2.000 tahun lalu, "Hati yang puas, obat yang sangat ampuh."

Atas persetujuan dr. William Hitzig yang merawatnya, Norman menggantikan semua obat yang diminumnya dengan banyak tertawa plus mengonsumsi vitamin C. Berbagai film komedi dia tonton, sehingga ia bisa tertawa terbahak-bahak. Pada hari kedelapan setelah menjalani terapi tersebut ia sudah bisa menggerakkan jempolnya tanpa rasa sakit. Juga tertawa selama 10 menit bisa membuat dia tidur pulas selama 2 jam. Akhirnya, penyakitnya berangsur sembuh, kemudian hilang sama sekali. Pengalamannya itu kemudian dibukukan dalam An Anatomy of Illness.

Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University di California, AS, pernah bilang, tertawa bisa mengurangi peredaran dua hormon dalam tubuh, yaitu efinefrin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit. Dalam riset lain dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menemukan bukti bahwa rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah tertawa. Tidak itu saja, kekebalan tubuh pun bisa meningkat.

Mengapa kita tertawa

Tertawa itu pada dasarnya sehat kalau dilakukan oleh orang-orang yang normal. Tetapi kalau tawa itu dicetuskan oleh seseorang yang mengalami gangguan jiwa, dengan sendirinya tidak sehat, karena tawa itu untuk bereaksi terhadap halusinasi akan perasaan yang tidak-tidak.
Misalnya, pada pasien jiwa remaja putri, pemikiran pertama yang timbul pasti soal seksual, sehingga hal ini kadang-kadang menggelitik dan membuat dia tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi sendiri. Ini sesuatu yang nggak beres.

Pada orang normal, tertawa itu sebetulnya suatu reaksi terhadap keadaan krisis, berupa suatu perubahan yang tidak terduga. Kondisi itu bisa tercetus dalam keadaan yang mengagetkan, menyenangkan, atau menyedihkan. Krisis itulah yang membuat orang bisa tertawa. Konkretnya, kalau Anda sedang serius mendengarkan sesuatu, tahu-tahu hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Anda duga, Anda bisa tertawa terbahak-bahak. Kalau Anda merencanakan sesuatu yang baik, tapi suatu saat gagal, Anda bisa menangis.

Aspek-aspek emosi, termasuk tertawa, "diatur" oleh pusat emosi di dalam struktur otak yang dinamakan sistem limbik (limbic system). Sistem yang juga berhubungan dengan aspek-aspek tingkah laku tertentu ini bentuknya seperti lingkaran sehingga oleh seorang ahli bernama Papez
dinamai lingkaran bergema.

Papez menemukan hal ini karena ketika intinya dirusak, orang yang bersangkutan menunjukkan suatu emosi yang tidak tepat atau kacau. Artinya, secara tidak sengaja orang ini bisa mudah marah, tetapi gampang pula tertawa terbahak-bahak meski tidak ada yang lucu. Itu karena lingkaran yang juga merupakan pusat emosi manusia itu terputus. Kalau salah satu bagian dari lingkaran ini rusak, memori orang itu juga akan hilang. Itu juga yang terjadi pada orang pikun, karena salah satu bagian lingkaran ini rusak.

Dalam keseharian ada orang yang mudah tertawa, namun ada juga yang tidak. Misalnya, dalam menonton lawakan. Ada dua hal penyebabnya. Pertama, mungkin orang sudah mengetahui materi gurauannya sehingga dia tidak menghadapi keadaan krisis yang bisa mencetuskan tawa. Kedua, orang melihatnya tidak dari sudut kejenakaan, tetapi dari sesuatu yang diinterpretasikannya sebagai hal yang tidak lucu atau biasa saja.

Bukan berarti kelompok yang tidak gampang tergelitik "urat tawanya" itu tidak memiliki sense of humor. Sense of humor itu berbeda-beda bagi beberapa orang. Contohnya, di Indonesia seorang pelawak harus berpakaiaan lucu, yang mukanya aneh, yang semuanya harus lucu, sehingga orang sudah tertawa dulu sebelum dia melucu. Tetapi pelawak di negara lain, pakaiannya tidak aneh-aneh, tapi ngomongnya sangat witty (cerdas dan menggelitik - Red.).

Melatih organ-organ tubuh

Untuk mencari bukti yang lebih kuat dan akurat tentang manfaat tertawa bagi kesehatan, dr. Cogan melakukan studi eksperimental terhadap dua kelompok mahasiswa.
Kelompok pertama mendengarkan kaset lawak dan kelompok kedua mendengarkan kaset kuliah matematika atau kelompok yang sama sekali tidak mendengarkan apa-apa. Terhadap para kelinci percobaan itu sebelum dan sesudahnya dilakukan uji kepekaan terhadap rasa sakit. Ternyata mereka yang mendengarkan kaset lawak memperlihatkan peningkatan ke-
mampuan dalam menahan rasa sakit.

Sementara itu dr. William Foy dari Universitas Stanford bilang, tertawa terbahak-bahak amat bermanfaat bagi orang sehat. Hasil penelitiannya menunjukkan, tertawa terpingkal-pingkal akan menggoyang-goyangkan otot perut, dada, bahu, serta pernapasan, sehingga membuat tubuh seakan-akan sedang joging di tempat. Sesudah tertawa demikian tubuh terasa rileks
dan tenang, sama seperti orang habis berolahraga.

Tertawa juga akan melatih diafragma torak, jantung, paru-paru, perut, dan membantu mengusir zat-zat asing dari saluran pernapasan. Di samping itu tertawa sangat ampuh untuk meringankan sakit kepala, sakit pinggang, dan depresi.

Ihwal dampak tertawa dalam penyembuhan suatu penyakit, dr. William Frey, seorang pakar biokimia dan direktur Dry Eyes and Tears Research Center di Mineapolis, AS, menyatakan tertawa akan menggerakkan bagian dalam tubuh, mengaktifkan sistem endokrin sehingga mendorong penyembuhan suatu penyakit. Menurut hipotesisnya, tertawa akan merangsang otak untuk memproduksi hormon tertentu yang pada akhirnya akan memicu pelepasan endorfin (zat pembunuh rasa sakit) yang diproduksi oleh tubuh.

Penelitian Prof. Dr. Lucille Namehow, seorang pakar yang menangani proses penuaan dari Connecticut, AS, menyodorkan fakta bahwa tertawa bisa membantu mereka yang sudah tua renta untuk tetap awet tua, sementara yang muda tetap awet muda, serta mempererat hubungan antara anggota keluarga.

Karena dianggap memberikan dampak positif, maka di AS kini banyak dokter yang menerapkan terapi tertawa dalam proses penyembuhan para pasien mereka.

Sembuh berkat menangis

Sementara itu dr. William Frey pernah mencoba melakukan penelitian terhadap "tetesan air mata".
Penelitian yang dilakukan Frey dan jurusan psikiatri di Universitas Minnesota berlangsung 10 tahun lalu. Ia memasang iklan di koran kampus untuk menarik kalangan mahasiswa. Frey menawarkan AS $ 10 untuk mereka yang bersedia meneteskan air mata untuknya dengan cara memutarkan film-film sedih yang sangat sentimental.

"Ternyata dari sekian banyak film, hanya dua film berdasarkan kisah sejati yang sanggup menguras air mata kebanyakan penonton karena tersentuh perasaannya," kata-nya.

Prey juga mengakui, terapi sebagian pasiennya dilakukan melalui tontonan film sedih. "Sebagian pasien saya sembuh setelah meneteskan air mata sepuas-puasnya," katanya.

Hasil penelitian Frey yang menarik adalah, pria sengaja menahan air matanya agar tampak perkasa dan jantan. "Sebenarnya, pria dan wanita tidak berbeda dalam pengalaman emosinya. Jadi pria juga bebas untuk menangis agar jiwanya tidak tertekan," katanya.

Hal senada diungkapkan dr. W.M. Roan, "Itu hanya suatu social acceptability. Lelaki diajari tidak boleh menangis, dia harus tahan. Kalau perempuan menangis itu biasa. Jadi itu ‘kan kultur saja. Padahal tidak begitu juga. Pria, karena sesuatu yang sulit, juga bisa menangis. Dalam kondisi tertentu ia bisa menangis tersedu-sedu seperti anak kecil."

Meskipun dianggap baik, tertawa sebenarnya masih bisa digolong-golongkan. Ada tawa yang genuine (asli atau tulus), ada yang palsu, ada juga yang sekadar untuk basa-basi. "Jadi dalam hal ini menangis dan tertawa itu masing-masing bisa dibedakan secara nuansa: yang asli, naluriah, spontan, menuju ke yang tidak spontan, dibuat-buat, sampai yang palsu. Jika dibuat gradasi, antara ujung yang satu dengan ujung yang lain itu berbeda banyak. Tapi yang di tengah-tengah itu susah membedakannya, sehingga kita bisa salah duga," jelas Roan.

Namun ia mengingatkan, "Kalau seseorang tertawa pada proporsi yang benar, itu artinya sehat, tapi kalau terlalu banyak ketawa, justru sebaliknya."

Makanya, sering-seringlah tertawa demi kesehatan jiwa dan raga. Mumpung tertawa belum kena pajak. (intisari)

Pacaran itu Apa Sih..?

SETELAH pubertas, banyak pertanyaan kita seputar pacaran. Apa sih pacaran itu? Kenapa kita pacaran? Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Pacaran ini biasanya mulai muncul pada masa awal pubertas. Perubahan hormon dan fisik bikin kita mulai tertarik pada lawan jenis. Proses "sayang-sayangan" dua manusia lawan jenis itu merupakan proses mengenal dan memahami lawan jenisnya dan belajar membina hubungan dengan lawan jenis sebagai persiapan sebelum menikah untuk menghindari terjadinya ketidakcocokan dan permasalahan pada saat sudah menikah. Masing-masing berusaha mengenal kebiasaan, karakter atau sifat, serta reaksi-reaksi terhadap berbagai masalah maupun peristiwa.

Kalau masa pacaran kita manfaatkan dengan baik dapat menjadi ajang untuk melihat masalah yang potensial yang akan muncul dari perbedaan diri kita dan doi yang berbeda latar belakang kehidupan sehingga nantinya kita dan doi siap mengantisipasi kalo timbul permasalahan yang tidak dikehendaki.

Kedewasaan kita dalam berpacaran bisa dilihat dari kesiapan untuk bertanggung jawab. Ini dapat dilihat dari kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan peran, membagi waktu, perhatian, dan tanggung jawab antara belajar, pekerjaan rumah, dan pacaran. Kesiapan untuk berbagi dengan orang lain, menghadapi permasalahan pacaran, dan tetap bisa mengendalikan diri dan memenuhi nilai-nilai yang dianut dalam berhubungan dengan lawan jenis.

Tahapan pacaran

1. Tahap ketertarikan

Dalam tahap ini tantangannya ialah bagaimana mendapatkan kesempatan untuk menyatakan ketertarikan dan menilai orang lain. Munculnya ketertarikan kita sama doi, misalnya, karena penampilan fisik (doi cakep/cantik, tinggi), kemampuan (pintar), karakteristik atau sifat misalnya sabar, coolabis, dan lain-lain. Menurut para ahli, umumnya cowok pada pandangan pertama lebih tertarik pada penampilan fisik. Sedangkan cewek lebih karena karakteristik atau kemampuan yang dimiliki cowok.

2. Tahap ketidakpastian

Pada masa ini sedang terjadi peralihan dari rasa tertarik ke arah rasa tidak pasti. Maksudnya, kita mulai bertanya-tanya apakah doi benar-benar tertarik sama kita atau sebaliknya apakah kita benar-benar tertarik sama doi. Pada tahap ini kita mendadak ragu apakah mau melanjutkan hubungan atau tidak. Kalau kita enggak mampu memahami tahapan ini, kita akan mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya.

3. Tahap komitmen dan keterikatan

Pada tahap ini yang timbul adalah keinginan kita kencan dengan seseorang secara eksklusif. Kita menginginkan kesempatan memberi dan menerima cinta dalam suatu hubungan yang khusus tanpa harus bersaing dengan orang lain. Kita juga ingin lebih rileks dan punya banyak waktu untuk dilewatkan bersamanya. Seluruh energi digunakan untuk menciptakan saling cinta dan hubungan yang harmonis.

4. Tahap keintiman

Dalam tahap ini mulai dirasakan keintiman yang sebenarnya, merasa lebih rileks untuk berbagi lebih mendalam dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan merupakan kesempatan untuk lebih mengungkapkan diri kita. Tantangannya adalah menghadapi sisi yang kurang baik dari diri kita. Tanpa pemahaman yang baik bahwa cowok dan cewek mempunyai reaksi yang berbeda terhadap keintiman, kita akan mudah mengambil kesimpulan yang salah bahwa terlalu banyak perbedaan antara kita dan doi untuk melanjutkan hubungan.

Pacaran, cinta, dan seks

Berpacaran tidak selalu berarti seks. Cinta yang muncul dalam hubungan seks di luar nikah sifatnya semu. Mengandalkan hubungan pada hal yang sifatnya semu tentu saja sangatlah lemah.
Pacaran yang berorientasi pada seks akan mengganggu proses adaptasi karena dalam kancah seks semuanya tampak bagus-bagus saja. Kedua pihak sama-sama memelihara yang manis-manis saja.

Secara faali, cowok lebih gampang tancap gas dan telat nginjak rem, sedangkan cewek biasanya masih dalam kondisi sadar saat cowoknya sudah lupa daratan. Inilah sebetulnya saat yang tepat untuk menginjak rem kuat-kuat. Pengendalian diri dalam hal ini sering kali gagal. Oleh karena itu, lingkungan harus diciptakan agar rem tidak telat diinjak.

Kondisi lingkungan yang tidak mendukung, antara lain: berdua saja di tempat yang jauh dari keramaian, tertutup, bebas gangguan, atau gelap. Di tempat seperti ini iman sering kali melemah, moral dan akal sehat tak berfungsi.

Dampak pacaran

Bagi kita, pacaran memiliki dampak positif maupun negatif:

* Prestasi sekolah

Pacaran bisa menurunkan atau meningkatkan prestasi belajar kita. Prestasi meningkat biasanya karena semangat belajar yang naik akibat ada pacar yang senantiasa memberikan dorongan dan perhatian atau karena ingin membuktikan kepada orangtua bahwa meskipun kita pacaran prestasi belajar kita tidak terganggu.

Prestasi belajar bisa menurun jika ada permasalahan yang cukup berat hingga mengganggu konsentrasi dan gairah untuk belajar atau lebih senang menghabiskan waktu bersama sang pacar daripada belajar.

* Pergaulan sosial

Pergaulan sosial dengan teman sebaya maupun lingkungan sosial sekitar bisa menjadi meluas atau menyempit. Pergaulan menjadi sempit kalau kita lebih banyak menghabiskan waktu hanya berdua, enggak gaul lagi dengan teman lain. Makin lama biasanya kita menjadi sangat bergantung pada pacar kita atau sebaliknya dan tidak memiliki pilihan interaksi sosial lainnya.

Hubungan dengan keluarga pun biasanya menjadi renggang karena waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan pacar.

* Bisa stres

Hubungan dengan pacar tentu saja tidak semulus yang semula diduga karena memang ada perbedaan karakteristik, latar belakang, serta perbedaan keinginan dan kebutuhan. Hal itu menyebabkan banyak sekali terjadi masalah dalam hubungan. Biasanya hal itu akan menguras energi dan emosi serta menimbulkan stres hingga dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.

* Berkembang perilaku baru

Pacaran dapat bermakna munculnya perilaku yang positif atau sebaliknya muncul perilaku negatif. Pacaran bisa membantu orang mengembangkan perilaku yang positif kalau interaksi yang terbentuk bersifat positif, sedangkan interaksi yang kurang mendukung tentu saja lebih memungkinkan terbentuknya perilaku negatif.

Misalnya, pacaran dengan orang yang jago motret. Maka, bukan tidak mungkin kita akan tertular barang sedikit. Atau pacaran dengan orang yang sangat peduli sama orang lain dan penolong, maka kita yang tadinya cuek bisa saja tertular. Begitu pula pada kelakuan yang negatif.

Pacaran yang sehat dan bertanggung jawab:

1. Saling terbuka, mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasan kita terhadap tingkah laku pacar. Siap nerima kritik dan kompromi.

2. Menerima pacar apa adanya yang dilandasi oleh perasaan sayang. Tidak menuntut sesuatu yang berada di luar kemampuannya.

3. Saling menyesuaikan. Kalau dalam proses ini terlalu sering ribut, maka perlu mempertimbangkan kemungkinan berpisah.

4. Tidak melibatkan aktivitas seksual karena dapat mengaburkan proses saling mengenal dan memahami satu sama lain.

5. Mutual dependensi, masing-masing merasakan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, diharapkan kita dan pacar mampu melengkapi kekurangan, sedangkan kelebihan yang dimiliki diharapkan mampu menutupi kekurangan pasangan.

6. Mutual respect, saling menghargai satu sama lain dalam posisi yang setara.

Yahya Ma’shum & Chatarina Wahyurini PKBI Pusat (Sumber: Modul 2PKBI)

Ibu yang HEBAT

Wanita 40 Tahun, Melakukan Operasi CESAR Sendiri!

si bayi lahir dalam keadaan sehat
Seorang wanita yang tinggal di daerah pedalaman Meksiko membedah rahimnya sendiri dengan pisau dan melahirkan bayi laki-laki sehat.

Kisah sensasional yang terjadi dua tahun lalu itu, diterbitkan dalam "International Journal of Gynecology and Obstetrics" edisi Maret 2004, lengkap dengan gambar torehan pada perut si wanita.

Kondisi si bayi dan ibunya yang berusia 40 tahun baik-baik saja. Keduanya selamat meskipun harus berkendaraan selama delapan jam menuju rumah sakit terdekat sesudah menjalani "operasi" yang gagah berani itu. Sebelumnya, si ibu juga harus menunggu beberapa jam untuk mendapatkan bantuan perawat lokal.

Ketika wanita itu ditanya, "Mengapa Anda nekat melakukan operasi sendiri?" "Tidakkah Anda tahu tindakan itu bisa mengakibatkan kematian?" Si ibu dengan tenang menyahut, "Ya, tetapi saya ingin menyelamatkan bayi saya," ujar Dr. Rafael Valle, ahli kandungan dari Northwestern University mengutip jawaban si ibu.

"Itu benar-benar tindakan heroik bagi saya," lanjut Valle, yang mengetahui kasus ini dari rekan sejawatnya.

Kasus serupa pernah pula terjadi di tempat lain, namun baru kali ini si bayi dan ibunya selamat.

Wanita pemberani ini digambarkan tinggal di rumah yang sangat kotor, tanpa penerangan listrik dan air bersih. Sebelumnya, ia pernah kehilangan bayinya ketika melahirkan. Khawatir hal yang sama terulang kembali, ia nekat melakukan operasi cesar sendiri untuk anaknya yang kesembilan ini.

Tak seorang pun menemani atau menyaksikan saat ia membedah perutnya. Sebelumnya, ia menenggak tiga gelas kecil minuman keras untuk mengurangi rasa sakit.

"Ketimbang bayi saya mati (lagi) dalam kandungan, mendingan saya menggunakan kemampuan saya menyembelih binatang untuk mengeluarkan bayi saya," jelas si ibu. Kemampuannya memang patut diacungi jempol, sama sekali tak ada pendarahan berlebihan dalam "operasi" itu. Sebelum tak sadarkan diri, ia masih sempat menyuruh salah seorang anaknya memanggil perawat.

Perawat kemudian datang ke rumah dan menjahit perut si ibu menggunakan benang dan jarum biasa. Setelah itu, barulah si ibu dan bayinya dibawa ke rumah sakit terdekat di Oaxaca. Benar-benar ibu yang hebat...(kompas/zrp/AP)

Menata Keuangan Tatkala Hidup Sendiri

Oleh: Elvyn G Masassya, pengamat investasi dan keuangan

TIDAK seorang pun di dunia ini yang ingin bercerai, kecuali karena keterpaksaan dan atau tengah mengikuti kecenderungan "tidak waras". Namun, saya percaya umumnya manusia ingin hidup damai, termasuk dengan pasangannya.

Akan tetapi, bagaimana jika realitas bicara lain dan saat ini Anda termasuk kelompok orang yang hidup sendiri; bercerai dengan pasangan atau akan bercerai dengan pasangan Anda? Apa implikasinya terhadap kehidupan keuangan Anda dan bagaimana pula menyiasatinya?

Selain memberi dampak secara psikologis dan emosional, perceraian paling tidak akan mengakibatkan Anda kehilangan sebagian aset. Harta yang Anda peroleh setelah menikah tentunya harus dibagi sesuai dengan hukum yang berlaku. Lebih dari itu, jika selama ini Anda dan pasangan Anda sama-sama bekerja atau memiliki penghasilan, tentunya setelah bercerai penghasilan Anda akan berkurang. Yang ada tinggal penghasilan pribadi masing-masing pihak. Implikasinya, suka tidak suka, Anda mesti menata lagi keuangan Anda, meninjau ulang tujuan keuangan, dan merancang kembali perencanaan keuangan setelah Anda hidup sendiri. Atau paling tidak selama Anda belum mendapatkan pasangan baru.

Pertama, antisipasi kondisi keuangan saat ini, baik dalam aset maupun kewajiban. Hitung ulang kembali aset bersih Anda berdua. Dengan kata lain, aset mesti lebih dulu dikurangi dengan kewajiban. Ini sangat substansial sebab banyak pasangan yang lupa ketika terjadi perceraian yang akan dibagi bukan cuma harta, tetapi juga kewajiban. Misalnya, pasangan Anda memiliki utang terhadap bank. Ketika utang itu diajukan, Anda turut menandatangani surat pernyataan. Maka, kendati Anda berpisah, tetap saja Anda berkewajiban menyelesaikan kewajiban tersebut. Kecuali ada kesepakatan di antara kedua belah pihak bahwa utang tersebut menjadi tanggung jawab salah seorang. Namun, kalau ceritanya seperti ini, pihak kreditor harus diberi tahu dan utang tersebut mesti "didudukkan" kembali secara hukum. Yang paling bagus sebenarnya adalah selesaikan dulu kewajiban kepada berbagai pihak, barulah sisa aset yang ada dibagi kepada kedua belah pihak sesuai hukum yang berlaku.

MASIH dalam konteks kondisi keuangan, Anda mesti segera memiliki tabungan atas nama pribadi jika selama ini rekening Anda di bank dalam bentuk rekening bersama atau qq dan selama ini penghasilan Anda dimasukkan ke dalam rekening tersebut. Ini penting sebab jika pembagian aset Anda pascaperceraian akan dilakukan melalui proses pengadilan, selama masa tunggu tersebut Anda akan sulit untuk "mengotak-atik" rekening yang ada karena salah satu pihak belum tentu akan mengizinkan.

Di sisi lain, jika selama ini Anda menggunakan kartu kredit secara bersama atau memegang kartu tambahan, segera informasikan kepada penerbit kartu kredit untuk menghentikan kartu kredit Anda dan ajukan yang baru atas nama Anda pribadi secara tunggal. Untuk kewajiban tersisa terhadap kartu kredit yang lama, tentunya mesti diselesaikan secara bersama pula.

Kedua, berkaitan dengan pembagian aset bersih secara adil dan sesuai hukum yang berlaku, tentunya Anda mesti menyebutkan seluruh perolehan pendapatan, aset, dan kewajiban secara transparan kepada pengacara-jika Anda menggunakan pengacara-atau pihak yang menjadi mediator.

Untuk itu, Anda mesti menyiapkan segala dokumen terkait, misalnya, slip gaji, perkiraan aset yang Anda miliki sebagaimana tertera pada formulir pembayaran pajak yang Anda atau pasangan Anda lakukan selama paling tidak lima tahun terakhir, dokumen mutasi rekening tabungan di bank, polis asuransi, dokumen kredit, dan dokumen lainnya. Ini penting sebab jika ada salah satu dokumen tercecer, akan memberi dampak lanjutan setelah perceraian terjadi. Bukan sekadar kemungkinan nilai aset berkurang, tetapi yang lebih celaka adalah kewajiban yang meningkat.

Ketiga, siapkan dukungan keuangan untuk buah hati Anda. Jangan lupa, yang berpisah adalah Anda dan pasangan Anda, tetapi anak Anda tetap saja menjadi bagian hidup Anda untuk selama-lamanya. Jadi, langkah berikutnya yang mesti diantisipasi adalah bagaimana menyiapkan kepastian keuangan untuk masa depan anak Anda. Jika Anda memiliki polis asuransi, pastikan bahwa yang berhak menerima uang pertanggungan adalah anak Anda dan preminya tetap akan dibayarkan oleh Anda ataupun mantan pasangan Anda.

Keempat, tentukan tujuan keuangan pribadi yang baru. Dalam hal ini, Anda mesti mendapatkan gambaran terlebih dahulu berapa nilai aset yang menjadi hak Anda. Selanjutnya, Anda dapat membuat target pencapaian aset yang baru dan merancang bagaimana cara mencapai tujuan keuangan tersebut.

Jika Anda memiliki cukup banyak aset tersisa, ada baiknya mealokasi aset yang lebih relevan dengan karakteristik pribadi Anda. Bukan tidak mungkin selama ini pasangan Anda termasuk orang yang suka mengambil risiko, sementara Anda lebih senang menghindari risiko atau sebaliknya.

Bila selama ini Anda memberi toleransi terhadap karakteristik personal pasangan Anda karena berkaitan dengan masa depan bersama, namun setelah masa depan bersama tersebut tidak mungkin dicapai lagi karena perceraian, tentunya Anda berhak membuat perencanaan keuangan termasuk keputusan investasi yang lebih sesuai dengan diri Anda.

YANG terbaik sebenarnya adalah jangan sampai bercerai. Perceraian, kendati diperkenankan, tetap saja akan menuai berbagai persoalan baru. Namun, kalau hal itu tetap tidak bisa dihindari, mesti pula dipahami bahwa perceraian bukanlah kiamat.

Dalam konteks keuangan, Anda mesti membuat tujuan keuangan yang baru berdasarkan kemampuan Anda sendiri dan tidak lagi bertumpu pada pasangan Anda sebagaimana selama ini Anda lakoni. Selain itu Anda mesti realistis dan rela merevisi gaya hidup Anda yang berkaitan dengan kondisi keuangan pascaperceraian. *

Asyiknya Mengenali TIPE Kepribadian

Kompas

SEORANG ibu sempat merasa habis akal menghadapi anak sulungnya, yang menurut dia amat keras kepala dan egois. Kalau si anak menginginkan sesuatu, hal itu seakan harus segera terwujud.

Ketika si ibu berbicara panjang lebar dengan harapan si anak paham alasannya menolak keinginan si anak, yang muncul justru kemarahan si anak.

ANAK perempuan itu merasa ibunya tak mau memahami dirinya, dan cenderung hanya menyalahkan dia saja. Sementara orangtuanya merasa malas bicara dengan si anak untuk sementara waktu karena merasa lelah sehabis marah-marah. Menurut si anak, ibunya cenderung hanya memerhatikannya saat dia di mata ibunya membuat kesalahan. Padahal, dia merasa sudah berusaha mengerjakan kewajibannya semaksimal mungkin.

"Konflik semacam itu biasanya dimulai dari hal sehari-hari, yang bisa berkepanjangan kalau tidak segera dicarikan jalan keluarnya. Apalagi kalau orangtua suka membandingkan kondisi anaknya itu dengan anak yang lain, atau bahkan dengan dirinya sendiri saat seusia anaknya," kata dr Aisah Dahlan pada seminar dan pelatihan "Parenting Skill Training" di Perguruan Islam Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta, Rabu (14/4).

Mengibaratkan orang bercermin, biasanya yang dilihat orang adalah keburukan dari dirinya di depan cermin. Misalnya, merasa hidung kurang mancung atau kulit tidak mulus merata. Jarang orang memerhatikan kebaikan pada dirinya. Hal serupa biasanya juga berlaku ketika orang melihat individu lain, entah itu teman, pasangan, atau anak. Seseorang cenderung melihat keburukan atau kekurangan orang lain, bukan sebaliknya.

Dari pengalamannya sebagai konselor pencandu narkoba, Aisah mendapati bahwa salah satu unsur yang penting dalam hubungan antarmanusia, terutama antara orangtua dan anak, adalah memahami tipe kepribadian masing-masing individu. Dengan pemahaman pada kelebihan dan kekurangan individu itu, diharapkan komunikasi bisa terjalin lebih baik.

"Personality atau kepribadian itu hanya salah satu unsur dari perilaku. Selain kepribadian, perilaku seseorang itu juga dipengaruhi oleh fungsi yang beragam, dan lingkungan yang juga berbeda-beda. Kalau fungsi dan lingkungan, banyak sekali variasinya, seperti pola asuh, budaya, pendidikan agama, dan umur. Maka kepribadian itu seperti anatomi tubuh, ada wujud alamiahnya dan unsur genetikanya. Ini bisa dipelajari," tutur Aisah yang juga menjabat sebagai Kepala Unit Narkoba RS Bhayangkara Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri.

Pengenalan tipe kepribadian akan membuat orang lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, sekaligus bisa lebih memahami dirinya sendiri. "Dalam hubungannya dengan anak, tanpa pengetahuan pada tipe kepribadian, bisa sering terjadi konflik, kebutuhan emosi anak tidak terpenuhi, dan orangtua tetap pada cara membandingkan si anak dengan individu lain. Jadinya akan kontraproduktif," ujarnya.

MENGUTIP beberapa penelitian di luar negeri, Aisah mengatakan bahwa unsur genetika itu tidak hanya diturunkan orangtua pada ciri fisik anak, tetapi juga pada kepribadiannya. Jadi, kepribadian yang muncul pada diri anak sebenarnya merupakan "cermin" dari orangtuanya.

Mencermati apa yang dikemukakan penulis asal AS, Florence Littauer, Aisah mengatakan, ada empat tipe kepribadian dasar yaitu: Sanguinis (kepribadian populer), Koleris (kepribadian kuat), Phlegmatis (kepribadian damai), dan Melankolis (kepribadian sempurna).

Masing-masing tipe kepribadian dasar itu punya kelebihan dan kekurangan. Misalnya, orang bertipe kepribadian Sanguinis biasanya ekspresif dan suka bicara, sedangkan orang Koleris umumnya impulsif dan suka mengontrol. Adapun orang yang berkepribadian Melankolis biasanya menghendaki segalanya sempurna dan orang Phlegmatis cenderung lebih santai dan cinta damai.

"Tujuan utama orang Sanguinis adalah populer, sedang orang Melankolis suka bekerja secara kronologis dan sempurna. Maka, jangan heran kalau anak Anda ada yang suka memencet odol seenaknya saja, sementara anak yang lain begitu rapi memencet odol mulai dari bagian ujung terdalamnya," ujar Aisah.

Namun, ada pula individu yang berkepribadian campuran dari tipe-tipe dasar tersebut. Misalnya, berkepribadian campuran tipe Sanguinis dan Koleris dengan ciri, antara lain mudah bergaul dan optimistis, atau campuran antara Phlegmatis dan Melankolis yang menghasilkan individu dengan cara bicara lembut dan tidak pemarah.

"Setiap individu sebaiknya mengenali dirinya termasuk tipe kepribadian dasar yang mana, apa kelebihan dan kekurangannya. Setelah memahami diri, biasanya orang akan dengan mudah pula memahami kepribadian orang lain. Dengan demikian, kemungkinan konflik bisa dijauhkan," kata Aisah.

Aisah mencontohkan, pada anak berkepribadian Sanguinis, orangtua bisa mendekatinya dengan memberi pujian lebih dulu, baru ditunjukkan kesalahan atau kekurangannya. "Kalau Anda langsung marah-marah pada anak Sanguinis, dia akan merasa diserang. Anak Sanguinis suka dipuji, jadi lebih efektif kalau Anda memuji dulu kelebihannya, baru tunjukkan kesalahan atau kekurangannya," tuturnya.

Kalau anak Sanguinis suka dipeluk, anak bertipe Koleris sebaliknya. Dia akan merasa risih dan menganggap orangtua memperlakukannya bak kanak-kanak. "Anak Koleris biasanya spontan, tidak suka hal monoton, tidak emosional, suka mengatur, dan punya komitmen tinggi," kata Aisah menambahkan.

Sementara orang bertipe Phlegmatis cenderung suka menunda-nunda pekerjaan, tidak merasa perlu banyak bicara, dan cinta damai. "Misalnya si ibu mengatakan A, maka anak Phlegmatis cenderung langsung mematuhinya. Namun, untuk anak Koleris, mungkin diperlukan sikap yang lebih tegas daripada sekadar memberitahu dia," ujarnya. (CP)

Pintu Keberhasilan: Keberuntungan Atau Kerja Keras?

by Dadang Kadarusman

Kita kadang menyebutnya sebagai ‘hoki’. Itulah keberuntungan. Ada orang yang begitu yakin bahwa segala sesuatu itu bergantung pada keberuntungan. Ada pula yang sama sekali tidak mempercayainya. Tidak jarang keberuntungan dianggap sebagai sesuatu yang tidak lebih dari sekedar cerminan sikap inferioritas orang-orang yang bisa saja berhasil, sekaligus calon kambing hitam bagi orang-orang yang gagal. Orang berhasil yang rendah diri menganggap bahwa keberhasilannya itu ‘hanyalah sebuah keberuntungan’ belaka. Sementara orang-orang gagal dapat dengan mudahnya mengatakan; ‘saya kurang beruntung, makanya saya gagal’. Sesederhana itu. Ada dua pandangan ekstrim disini. Pertama, kemasabodohan dan kedua, ketergantungan terhadap sebuah keberuntungan. Sebagian orang menganggap bahwa kemasabodohan membawa penganutnya kepada sikap pencaya diri yang berlebihan. “Ini hasil kerja keras gue. Nothing to do with keberuntungan!”. Orang ini semata-mata mengandalkan unsur kasat mata. Cenderung agak ‘kering’ dari unsur ruh atau spiritualitas. Sedangkan sebagian orang lainnya berpikir bahwa ketergantungan kepada keberuntungan menyebabkan penganutnya cenderung kurang indipenden. Bahkan sekalipun mereka sebenarnya memiliki kemampuan teknis yang memadai, namun, sering dikendalikan oleh keraguan atau kekhawatiran; “Jangan-jangan keberuntuangan tidak sedang berpihak pada saya”. Tetapi, benarkah keberhasilan kita sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keberuntungan? Ataukah, justru keberuntunganlah yang menyebabkan kita berhasil?

Setiap orang tentu boleh saja menentukan pilihannya sendiri. Apakah hendak menjadi orang dari kelompok pertama, atau kedua. Tetapi, mari kita lihat sekali lagi apakah kita benar-benar sudah menentukan pilihan secara tepat. Fokusnya bukanlah kepada apakah pandangan yang satu lebih tepat dari pandangan yang lainnya. Melainkan, apakah kita sudah menempatkan pandangan kita itu secara tepat. Itu saja. Boleh jadi kedua pandangan ekstrim itu benar adanya. Dan jika kita bisa menempatkan keduanya – apapun pilihan kita – pada tempat dan situasi yang tepat, itu pasti akan menjadi kekuatan yang sangat sulit untuk digoyahkan.

Apa yang bisa kita lakukan disini adalah belajar dari kedua jenis manusia dengan kedua pandangan yang berbeda itu. Pertama, mari kita belajar dari orang yang tidak percaya pada keberuntungan. Mereka yang tidak percaya keberuntungan mempunyai sikap kemandirian yang mengagumkan. Mereka adalah pengambil resiko yang berani. Dan semangatnya, tidak mudah dipatahkan. Ketika orang-orang dari jenis ini menghadapi kegagalan, maka apa yang mereka katakan kepada dirinya sendiri adalah:”Gue kurang persiapan.” atau ”Gue mesti berusaha lebih keras lagi.” Atau ”Lain kali akan gue coba lagi”. Mereka begitu percaya bahwa jika mereka melakukannya dengan lebih baik lagi, maka mereka pasti akan berhasil. Mereka juga bukanlah orang-orang yang bermental ’blamming’. Menyalahkan orang lain. Jika mereka gagal, maka menyalahkan orang lain atas kegagalannya bukanlah gaya mereka. Sekalipun orang lain bahkan memang melakukan sesuatu untuk mengganjalnya dari perjuangan meraih keberhasilan; orang-orang dari jenis ini tetap tidak terpancing menyalahkan orang lain. Mereka, dengan sangat mengagumkannya, mengatakan:”Gue kurang hati-hati dengan kemungkinan itu. Lain kali, gue tidak bakal bisa dikibulin lagi”.

Perhatikan sekali lagi; pandangan mereka selalu mengarah kepada ’perbaikan’ dari dalam diri mereka sendiri. Introspeksi, jika anda ingin menyebutnya demikian. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan orang-orang dari jenis ini selalu bersemangat untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Mereka tidak mungkin pernah berdiam diri dari ’memperbaiki diri’. Semangat mereka, tidak pernah padam.

Berada ditengah-tengah orang yang seperti ini, anda akan dilingkupi oleh sikap optimis. Sungguh, tak kan pernah anda temui orang-orang dari jenis ini dihantui oleh pesimisme. Mereka bahkan selalu mampu menemukan sisi optimistik dari situasi yang paling sulit sekalipun. Dan mereka, tidak akan pernah berhenti, hingga mereka benar-benar berhasil. Berada ditengah-tengah mereka. Membuat anda tertular dahaga untuk berbuat. Berusaha. Memperbaiki diri. Dan bangkit lagi. Dan bangkit lagi.

Dalam konteks kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai keberhasilan kita; bagaimanapun situasinya. Berapapun harganya. Sesulit apapun kondisinya. Seberat apapun tantangannya. Kita pantas belajar dari manusia jenis ini. Dan jika kita bisa meniru mereka; apakah ada kemungkinan kita akan gagal? Tidak. Pasti kita berhasil. Karena mereka yang terus-menerus memperbaiki diri. Pantang menyerah. Bangkit. Dan bangkit lagi. Bagi mereka; keberhasilan itu merupakan sebuah keniscayaan. Sebuah kepastian.

Bagaimana dengan jenis manusia kedua? Apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Perhatikan. Doa bagi mereka bukanlah sekedar sesuatu yang diucapkan melalui lidah saja. Mereka memasukkan doa-doa kedalam hati mereka. Lalu dari hati, doa-doa itu dilarutkan kedalam darah mereka. Melalui darah itu doa-doa itu berjalan menelusuri arteri coronary. Terus menuju kedalam jantung. Kemudian jantung mereka, memompa darah penuh doa itu menyembur melalui aorta. Lalu sang darah berpisah-pisah disetiap cabang dan pesimpangan pembuluh, menuju ketempat dimana mereka masing-masing ditugaskan untuk mengunjunginya, dijaringan perifer. Dan diferifer itu mereka melemparkan doa-doa yang dibawanya itu kesetiap pintu sel-sel tubuh mereka. Seperti tukang koran yang lewat didepan rumah; lalu melemparkan koran yang dibawanya kehalaman rumah kita. Lalu sel-sel itu menyantap sang doa, hingga mereka menjadi kuat oleh cahaya spiritualitas yang mengkilau. Maka jadilah tubuh orang dari jenis ini dipenuhi oleh doa-doanya. Hati mereka dipenuhi doa. Darah mereka dipadati doa. Jantung mereka dijejali doa. Daging mereka diliputi doa. Tulang-tulang mereka diselaputi doa. Dan, bukankah doa itu merupakan kata lain dari sebuah pengharapan? Mereka berharap agar sang maha kuasa memberi mereka apa yang mereka inginkan. Dan ketika Tuhan mengabulkan permintaan mereka, mereka mengatakan: ”Keberuntungan sedang berpihak kepada saya”.

Perhatikan sekali lagi; pandangan mereka selalu mengarah kepada ’keyakinan’ bahwa Tuhan akan mengerahkan kekuatan alam semesta untuk membantu mereka meraih keberhasilan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan orang-orang dari jenis ini selalu yakin bahwa keberhasilan akan menjadi milik mereka. Mereka tidak akan bertindak tanpa keyakinan untuk bisa berhasil. Jika mereka belum yakin bisa berhasil, maka mereka akan terlebih dahulu mempersiapkan diri untuk kesempatan dan waktu yang tepat. Mereka sangat cermat dalam menghitung waktu. Sebab bagi mereka, sesuatu yang dilakukan terburu-buru; tidak akan mungkin membawa keberhasilan. Agar berhasil, mereka memperhitungkan kapan saat yang tepat untuk memulai suatu kegiatan.

Berada ditengah-tengah orang yang seperti ini, anda akan dilingkupi oleh sikap cermat yang bersumber kepada nilai-nilai spiritualitas teramat kental. Bersama mereka, ketika anda berdoa, anda tidak sekedar mengucapkannya begitu saja; tanpa mengerti makna doa-doa yang anda panjatkan. Anda benar-benar meresapi doa itu. Dan bagaikan sebuah mantra; doa menguatkan jiwa dan raga anda. Sehingga anda benar-benar siap untuk memetik keberhasilan yang anda dambakan itu. Sungguh, tak kan pernah anda temui orang-orang dari jenis ini dihantui oleh kegamangan. Ketika mereka tahu saatnya tepat, mereka akan melakukannya dengan seluruh kemampuan disertai keyakinan bahwa alam semesta mendukung dibelakang mereka. Dan mereka tidak akan pernah melakukan sesuatu kecuali mereka tahu; bahwa mereka akan berhasil. Berada ditengah-tengah mereka. Membuat anda tercerahkah untuk selalu berpegang teguh pada tali pertolongan Tuhan. Berdoa. Berusaha. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai sebuah tindakan. Dan menyelesaikannya dengan akhir yang manis.

Baiklah. Sekarang anda simpulkan sendiri. Dari kedua jenis manusia ekstrim itu; mana yang pasti akan berhasil? Kelompok pertama. Baiklah, jika anda yakin bahwa kelompok pertama akan menjadi manusia-manusia paling berhasil; silakan belajar kepada mereka. Tapi ingatlah, ada banyak orang yang mengaku bagian dari jenis manusia kelompok pertama. Padahal tidak benar-benar demikian. Mereka kelihatannya optimistis. Penuh semangat. Berani mengambil resiko. Tetapi, ketika mereka dihadang oleh kegagalan yang berulang-ulang, maka mereka berputus asa. Hati-hatilah dengan yang seperti ini. Mereka bukan kelompok manusia jenis pertama yang kita bicarakan tadi. Tidak asli. Mereka hanya berpura-pura. Mereka mengaku-aku dirinya begitu, padahal tidak. Sebab, seperti sudah kita bahas dimuka, manusia dari kelompok pertama bukanlah orang-orang yang berputus asa.

Jika anda yakin bahwa kelompok kedua akan menjadi manusia-manusia paling berhasil; silakan belajar kepada mereka. Tapi ingatlah, ada banyak orang yang mengaku bagian dari jenis manusia kelompok kedua. Padahal tidak benar-benar demikian. Mereka kelihatannya spiritualis. Penuh perhitungan akan ketepatan waktu. Bertindak dengan keyakinan yang tinggi. Tetapi, ketika mereka dihadang oleh kegagalan yang berulang-ulang, maka mereka menyalahkan Tuhan yang tidak mau memberikan keberuntungan. Hati-hatilah dengan yang seperti ini. Mereka bukan kelompok manusia jenis kedua yang kita bicarakan tadi. Tidak asli. Mereka hanya berpura-pura. Mereka mengaku-aku dirinya begitu, padahal tidak. Sebab, seperti sudah kita bahas dimuka, manusia dari kelompok kedua bukanlah orang-orang yang menyalahkan Tuhan atas nasib yang mereka miliki.

Dan…., termasuk kelompok yang manakah anda?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Jika manusia boleh mengejar kesempurnaan; maka itu tiada lain adalah mendekatkan diri kepada Tuhannya, seraya mengoptimalkan semua potensi diri yang telah Tuhan anugerahkan kepada dirinya.

Sabtu, 27 Oktober 2007

Menjadi Diri Sendiri

Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, di puncak sebuah mercusuar, tampak lampu mercusuar yang gagah dengan sinarnya menerangi kegelapan malam. Lampu itu menjadi tumpuan perahu para nelayan mencari arah dan petunjuk menuju pulang.

Dari kejauhan, pada sebuah jendela kecil di rumah penjaga mercusuar, sebuah lampu minyak setiap malam melihat dengan perasaan iri ke arah mercusuar. Dia mengeluhkan kondisinya, “Aku hanyalah sebuah lampu minyak yang berada di dalam rumah yang kecil, gelap dan pengap. Sungguh menyedihkan, memalukan, dan tidak terhormat. Sedangkan lampu mercusuar di atas sana, tampak begitu hebat, terang dan perkasa. Ah….Seandainya aku berada di dekat mercusuar itu, pasti hidupku akan lebih berarti, karena akan banyak orang yang melihat kepadaku dan aku pun bisa membantu kapal para nelayan menemukan arah untuk membawanya pulang ke rumah mereka dan keluarganya.”

Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, petugas mercusuar membawa lampu minyak untuk menerangi jalan menuju mercusuar. Setibanya di sana, penjaga itu meletakkan lampu minyak di dekat mercusuar dan meninggalkannya di samping lampu mercusuar. Si lampu minyak senang sekali. Impiannya menjadi kenyataan. Akhirnya ia bisa bersanding dengan mercusuar yang gagah. Tetapi, kegembiraannya hanya sesaat. Karena perbandingan cahaya yang tidak seimbang, maka tidak seorang pun yang melihat atau memperhatikan lampu minyak. Bahkan, dari kejauhan si lampu minyak hampir tidak tampak sama sekali karena begitu lemah dan kecil.

Saat itu, lampu itu menyadari satu hal. Ia tahu bahwa untuk menjadikan dirinya berarti, dia harus berada di tempat yang tepat, yakni di dalam sebuah kamar. Entah seberapa kotor, kecil dan pengapnya kamar itu, tetapi di sanalah lebih bermanfaab. Sebab, meski nyalanya tak sebesar mercusuar, lampu kecil itu juga bisa memancarkan sinarnya menerangi kegelapan untuk orang lain. Lampu kini tahu, sifat iri hati karena selalu membandingkan diri dengan yang lain, justru membuat dirinya tidak bahagia dan memiliki arti.


Pembaca yang budiman,
Hidup kita tentu akan menderita jika merasa diri sendiri selalu lebih rendah dan kecil. Maka, tidak akan tenang hidup jika kita selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menganggap orang lain lebih hebat. Apalagi, jika kita kemudian secara membuta mencoba menjadi orang lain.
Meniru orang memang sah dan boleh saja. Namun, belajarlah dari orang lain dari sisi yang baik saja, tentu dengan tanpa mengecilkan dan meremehkan diri sendiri.
Karena itu, apapun keadaan diri, kita harus senantiasa belajar bersyukur dan tetap bangga menjadi diri sendiri. Selain itu, kita juga butuh melatih dan memelihara keyakinan serta kepercayaaan diri. Dengan menyadari kekuatan dan kelebihan yang kita miliki, dan mau berjuang selangkah demi selangkah menuju sasaran hidup yang telah kita tentukan, ditambah bekal kekayaan mental yang kita miliki, pastilah kemajuan dan kesuksesan yang lebih baik akan kita peroleh.

Jadilah diri sendiri! Be your self!
Salam sukses luar biasa!!!