Senin, 30 Juni 2008

Bicara Cermat, Komunikasi Efektif

"Aku begini, engkau begitu, sama saja."
-- Broery Marantika dalam 'Aku Begini Engkau Begitu'


DI HOTEL sejuta cerita terjadi. Ingat Trio Warkop DKI? Dalam sebuah
filmnya, ada adegan yang geli bin kocak. Alkisah, Dono menjadi
petugas front office di sebuah hotel. Kasino kerabat karibnya, yang
berperan sebagai manajer hotel, berada disampingnya. Lalu seorang
bule datang menghampiri untuk mengambil kunci. Tentunya si petugas
hotel dengan ramah memberikan kunci. "OK, thank you," ujar si bule.
Sebagai orang Timur yang tahu sopan santun dan menjaga nama baik
hotelnya, Kasino pun membalas dengan ramah, "Come back." Maksudnya,
terima kasih kembali. Si bule yang tadinya mau ngeloyor cabut, balik
badan kembali. Namun si bule melihat Kasino dan Dono tenang-tenang
saja. Dia pun hendak beranjak pergi lagi. Tak kalah sopan, dia
berujar sekali lagi, "Thank you." Lagi-lagi Kasino membalas, "Come
back." Begitu seterusnya.

Rasanya perut ini langsung kejang. Lucu bin kocak. Si bule yang
polos dan si Melayu yang sopan, beradu santun tapi malah runyam
akibatnya. Persoalan komunikasi memang bahan guyonan paling gayeng.
Di mana pun akan menjadi lelucon nan gurih. Lawakan Srimulat pun
bisa bertahan, salah satu resepnya karena mereka pintar membelit-
belitkan kata sehingga menjadi humor yang segar.

Namun dalam dunia nyata pun, hal itu bisa saja terjadi. Kisah nyata
ini menimpa Yudono, seorang pemuda asal Semarang, Jawa Tengah. Pada
suatu hari, Yudono bepergian ke Inggris. Dia menginap di sebuah
hotel. Nah, kali ini si bule yang menjadi 'Dono'. Sebelum
menyerahkan kunci kamar, si resepsionis pun bertanya. "What is your
name?" Pertanyaan yang sopan bukan? "Yudono," jawab si pemuda itu
dengan enteng. Dari mimiknya, si bule menunjukkan keterkejutan yang
sangat. Ia pun berkata,"Yes, I know." Sekali lagi, si bule bertanya.
Jawabannya tentu saja tak berubah, karena memang namanya Yudono.
Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali. Di kuping si bule, mungkin
kata yang terdengar: "You don't know." Kontan si bule gusar bin
tersinggung. "I know. That is why I am asking you," ujarnya sambil
geregetan. Tak kalah geregetannya, Yudono pun menunjukkan paspornya.
Urusan pun selesai. Eh, sekarang skor berubah: 1-1. Bukan cuma si
Melayu yang terlihat sepertinya salah yang bisa membuat si bule
kebingungan. Tapi juga bisa sebaliknya. Si bule yang pendengarannya
salah tangkap, si Melayunya yang kelimpungan.

Miskomunikasi dalam skala yang kecil, teramat enak untuk dimainkan.
Toh akibatnya tidak terlalu runyam. Paling banter juga mangkel, tapi
setelah itu terbitlah tawa. Hanya kalau persoalan yang serius,
akibatnya sungguh luar biasa. Ini cerita yang lain.

Pada tahun 1996, dunia mencatat terjadinya kecelakan terburuk
sepanjang sejarah penerbangan. Saudi Arabian Airlines dengan Nomor
Penerbangan 763, merupakan pesawat Boeing 747 yang menerbangi trayek
Delhi, India menuju Dhahran, Arab Saudi. Pesawat ini mengalami
kecelakaan fatal karena bertabrakan di udara dengan Air Kazakhstan
dengan Nomor Penerbangan 1907, yang pada saat bersamaan menerbangi
trayek Shymkent, Kazakhstan menuju Delhi, India. Kecelakaan tersebut
menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 316 penumpang dan 33
awak. Lo, kok bisa terjadi tabrakan? Ternyata terjadi salah mengerti
komunikasi antara pilot pertama dan pilot kedua. Disuruh belok ke
satu sisi, malah belok ke sisi yang lain. Begitulah kira-kira.
Alhasil, kedua pesawat itu berciuman di udara. Tragis memang. Hanya
karena salah menangkap makna kata.

Dari tiga kisah ini bolehlah kita berkesimpulan, komunikasi akan
efektif tercapai bila pesan telah sampai dari si pembawa pesan
kepada si penerima pesan dan hasil nyata tindakan sesuai dengan yang
diinginkan. Seringkali kita melakukan komunikasi dan yakin betul
bahwa pesannya telah sampai. Benarkah demikian? Pesan mungkin saja
sampai ke si penerima pesan, masalahnya, apakah sesuai dengan hasil
yang diharapkan. Oleh karena itu, untuk memastikannya, tentu saja
kita harus melakukan check dan recheck terlebih dahulu. Walaupun
tentu saja bukan hal yang mudah bilamana diterapkan dalam situasi
dan kondisi tertentu, seperti misalnya pilot pesawat terbang nahas
itu.

Tapi upayakan, samakan persepsi terlebih dahulu. Bagaimana kalau
bingung? Jangan pegangan kalau bingung. Kalau memang bingung, pakai
bahasa Tarsan juga tak jadi soal. Yang penting, pesan itu telah
sampai dan dimengerti betul oleh si pembawa dan si penerima pesan.
Sepele sih, tapi kalau terjadi kesalahan komunikasi, fatal
akibatnya. Nah, sekarang, latihlah gerak lidah Anda, paling tidak
bisa mencegah slip of the tongue alias keseleo lidah yang bisa
berakibat salah dalam berkomunikasi. (230608)


Sumber: Bicara Cermat, Komunikasi Efektif oleh Sonny Wibisono,
penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun