Rabu, 11 Juni 2008

Caine, Cepot, dan Adin

"I am Caine. I will help You."
-- David Carradine sebagai Caine dalam serial tv `Kung Fu'

NAMANYA Kwai Chang Caine. Siapa dia? Yang jelas dia jagoanlah. David
Carradine adalah aktor yang memerankan si Caine, jagoan kungfu yang
memiliki darah separuh Tiongkok, setengahnya lagi orang Amerika. Di
tahun 1980-an, saban malam Selasa, dia muncul dalam serial dengan
tajuk 'Kungfu'. Berbeda dengan jagoan shaolin yang memiliki
kecepatan dan kekuatan dalam pukulannya, Caine praktis lamban. Namun
dalam sekali gerakan, musuh sudah terpontal-pontal. Kepala benjut.
Kaki dan tangan keseleo. Tapi memang tak ada yang menganggapnya.
Pakaiannya lusuh, rambutnya dibiarkan agak sedikit gondrong. Dia tak
punya rumah, saudara, apalagi pacar. Caine seorang nomaden sejati.
Hanya berteman seruling dan tas yang tak pernah ketahuan isinya.
Siapa sangka, dalam bungkusan yang sederhana bahkan terkesan apa
adanya, dia punya sikap dan perilaku yang luhur. Dengan kemampuan
kungfunya, dia selalu siap menolong orang yang lemah. Tanpa diminta.
Dengan wajah penuh senyum dan tangan terbuka, Caine selalu
mengatakan, "I am Caine. I will help you." Serial Kungfu ini sangat
digemari di negara asalnya, tak aneh kalau serial ini memperoleh
penghargaan sebagai 'award-winning American television series'. Di
Indonesia juga banyak yang demen, walaupun secara koreografi gerakan
seni kungfunya sama sekali tidak menarik. Banyak orang suka dengan
falsafah hidup yang disajikan serial ini. Pas dan mengena.
Kesederhanaan dan ketiadaan bukanlah penghalang untuk memberikan
pertolongan pada orang lain.

NAMANYA Cepot. Tampangnya sama sekali tidak enak dilihat. Jelek
habislah pokoknya. Mukanya merah, giginya nongol. Dandanannya selalu
berbaju hitam, lengkap dengan ikat kepala. Biar pun buruk rupa, dia
selalu menghibur. Lewat tangan dan suara Asep Sunandar Sunarya,
salah satu dalang wayang golek nan kondang, Cepot menjadi ikon di
pertunjukannya, mengalahkan dua saudaranya Dewala dan Gareng. Cepot
tak jelas jati dirinya. Sudah punya isteri atau belum, hobinya apa
pun tak ketahuan. Kerjaannya kalau tidak ngibing alias menari,
paling juga membanyol. Dia juga yang bisa menahan kantuk para
penonton yang bisa bertahan hingga pagi menjelang. Satu gayanya yang
khas yang sulit dilupakannya adalah saat berteriak memohon
pertolongan. "Tulung, tulung, tuluuuuuuuuung" , ujarnya sambil
kemudian diikuti dengan gaya cengengesannya. Penonton pun tertawa.
Itulah dua tokoh hiburan yang akrab di benak penonton. Satu bule,
satunya lokal punya. Caine dan Cepot, keduanya digandrungi dan
disuka, dengan ulah dan falsafahnya. Yang satu pandai beraksi, yang
satunya ngebanyol. Kesamaannya hanyalah nilai falsafah hidup yang
tersirat dalam tayangannya. Namun ternyata semuanya menguap. Cepot
dan Caine nyatanya hanya ada di kotak televisi. Adakah berbekas di
dalam dunia nyata?

NAMANYA Adin. Umurnya pun singkat, 46 tahun. Awal bulan Juni ini,
Adin yang bekerja sebagai petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup
dan Kebersihan Kota Bogor, meninggal dunia secara tiba-tiba. Bukan
karena tersambar angkot yang ugal-ugalan. Atau tertabrak motor yang
menerobos lampu merah. Usianya tak lagi bertambah, karena menderita
kelaparan yang sangat. Menurut cerita sang istri, yang dikutip media
lokal, suaminya meninggal akibat menahan lapar tak terperi. Sejak
malam sebelum ditemukan tewas, Adin hanya makan satu kali sehari.
Itu terpaksa dilakukan karena dia harus berbagi makanan dengan
ketiga anaknya, yang juga sama-sama lapar. Gajinya tak cukup untuk
membeli kebutuhan pokok. Mencari jawab dari persoalan ini tentulah
rumit. Para ahli sosiologi pun kesulitan untuk menjawabnya.
Masalahnya kompleks, pertautan berbagai masalah pada akhirnya hanya
laku di seminar atau ruang kuliah. Dalam dunia nyata, duh, takkan
bisa dicari dengan mudah solusinya.

Caine tak mampir di Bogor. Cepot juga tak ada disana. Perut
keroncongan Adin tak sekencang teriakan milik Cepot yang bisa
mengundang perhatian. Adin menahan sakit dan lemas yang tak
terperikan dalam sunyi siang yang terik. Pengendara mobil yang
melintas dan melihat Adin saat bertugas, tak cukup peka untuk itu.
Pemerintah daerah barangkali tak punya uang lebih untuk memberikan
tambahan penghasilan Adin, meski tak ragu menambah dana demi meraih
penghargaan Adipura sebagai kota terbersih. Barangkali saatnya kita
membuka mata dengan keadaan sekitar. Tewasnya Adin telah membuktikan
makin terkikisnya kepedulian berbagi dengan sesama. Nasi bungkus
seharga enam ribu rupiah yang dibutuhkan Adin nilainya sama dengan
yang kita bayar ketika pintu taksi dibuka atau hanya setengah dari
tips yang kita berikan pada pelayan di restoran. Malah harga rokok
yang kita bakar jauh lebih mahal. Menolong atau berbagi terhadap
sesama bukanlah pekerjaan sulit. Tak perlu harus banyak uang. Dengan
membuat orang lain dapat tersenyum dan tertawa di kala hatinya
gundah pun, Anda telah memberikan sesuatu. Menolong dan berbagi
dengan sesama dapat dilakukan dengan banyak hal. Kita perlu belajar
pada sikap Caine dan sedikit demi sedikit mempraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal-hal yang sepele. Menegur
atau memberi tempat duduk pada wanita hamil di dalam bus atau
kereta, misalnya. Jangan ragu juga untuk mengatakan, "Ada yang bisa
saya bantu?", terhadap orang lain yang sekiranya membutuhkan
bantuan. Sepertinya kita harus melatih kepekaan. Sehingga kita jadi
mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami oleh tetangga atau pun
teman kantor. Dengan berbagi pun kita bisa belajar dan menghargai
kehidupan itu sendiri, kita mungkin bisa lebih memahami perilaku dan
karakter orang lain.

Sikap bermurah hati tidak hanya menguntungkan bagi mereka yang
mendapatkan pertolongan. Sebuah penelitian menunjukkan, dengan
berbagi terhadap sesama, membuat diri kita menjadi lebih bahagia.
Dengan berbagi, juga menjadikan hidup ini lebih bermakna. Apalagi
dalam keadaan yang serba sulit seperti saat ini yang mendera
sebagian besar masyarakat, sikap berbagi perlu terus digalakkan.
Anda tak akan rugi sedikitpun jika Anda mau berbagi terhadap sesama.
Selain Anda melakukan investasi menabung pahala, Anda juga melakukan
investasi kebaikan yang Anda tanam sendiri. Karena hukum kekekalan
energi mengatakan, tiada energi yang hilang bila dikeluarkan. Ia
akan kembali dalam bentuk lain. Begitu pula soal kebaikan. Ia tak
akan hilang walau Anda telah memberikannya. Jadi bila Anda mengalami
kesusahan, percayalah, akan ada orang lain yang datang dan
memberikan pertolongan. (090608)

Sumber: Caine, Cepot, dan Adin oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal
di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun