Senin, 05 Mei 2008

Mulut mu . . . . Harimau mu

Ada sesuatu yang bisa tajam dan merusak bagaikan senjata perang, tetapi bisa juga manis seperti madu dan menyembuhkan seperti balsam. Itu bisa mendatangkan kehidupan, tetapi juga bisa mengakibatkan kematian. Demikianlah gambaran sebuah referensi tentang kesanggupan bicara manusia.

Maka, tidak heran bahwa seorang raja yang bijaksana mengatakan, "Orang yang menjaga mulutnya memelihara jiwanya. Orang yang membuka lebar bibirnya - ia akan menemui kebinasaan."

Reputasi yang rusak, perasaan terluka, hubungan yang tegang, bahkan cedera fisik - semuanya bisa terjadi akibat perkataan yang bodoh. Namun, tidak diragukan, Anda adalah orang yang ingin 'memelihara jiwa Anda'. Bagaimana Anda bisa belajar menjaga mulut agar terhindar dari kebinasaan?

"Dalam Banyak Kata-Kata . . . "

Satu cara sederhana ialah dengan tidak terlalu banyak berbicara! Mungkin, Anda pernah bertemu dengan seorang pria atau wanita yang sepertinya punya komentar untuk segala hal. Orang seperti itu bisa sangat menjengkelkan! "Mulut orang bebal berbual-bual dengan kebodohan", dan "orang bodoh banyak bicaranya".

Tentu saja, ini tidak berarti bahwa setiap orang yang suka berbicara itu bodoh atau setipa orang yang pendiam itu bijaksana. Tetapi, berbicara tanpa henti memang berbahaya. "Dalam banyak kata-kata, pelanggaran tidak akan kurang, tetapi orang yang menahan bibirnya bertindak bijaksana."


Berpikir Sebelum Berbicara


Cara lain untuk menjaga mulut kita adalah dengan berpikir sebelum berbicara. Apabila kata-kata terucap tanpa dipikirkan terlebih dahulu, baik pembicara maupun pendengarnya bisa sakit hati. "Ada orang yang berbicara tanpa dipikir bagaikan dengan tikaman-tikaman pedang."

Betapa buruknya dampak perkataan yang tanpa dipikir, "Betapa kecil api yang diperlukan untuk membakar hutan yang begitu besar! Nah, lidah adalah api. Lidah merupakan suatu dunia ketidakadilbenaran di antara anggota-anggota tubuh kita, karena ia menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan dan ia dinyalakan oleh pembinasaan."

Seseorang yang mengucapkan dusta atau berbohong, menyebarkan informasi yang menyesatkan, atau menyalahgunakan lidah dengan cara-cara lain bisa membuat dirinya dan orang-orang lain kehilangan akal sehat, kepercayaan dan respek. Baik dari keluarga, teman, atasan, bawahan dan lingkungannya dan bahkan merugikan diriya sendiri.

Karena itu, alangkah lebih baiknya jika kita berpikir dahulu tentang apa yang akan kita katakan, ketimbang asal bicara dan akhirnya mencelakakan!

"Sepatah Kata pada Waktu yang Tepat"

Berbicara pada waktu yang tepat adalah cara lain lagi untuk menjaga mulut kita, "Untuk segala sesuatu ada waktu yang ditetapkan . . . waktu untuk berdiam diri dan waktu untuk berbicara."

Apabila teman hidup Anda kelihatannya kelelahan setelah seharian bekerja sekuler atau mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, itukah saatnya untuk membebani dia dengan problem atau permintaan yang sepele? Mungkin, itulah "waktu untuk berdiam diri".



(Disumbangkan, wp08 03/01-IN - SHS)!

Sonny Sayangbati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun