Jumat, 31 Juli 2009

Bahagia Menjadi Guru

"Happiness comes of the capacity to feel deeply, to enjoy simply, to
think freely, to risk life, to be needed. – Kebahagiaan berasal dari
kapasitas untuk merasakan, menikmati, berpikir bebas, menghadapi
resiko hidup, dan menjadi dibutuhkan."
Storm Jameson.

Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat
subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu
keinginan atau kebutuhan kita. Tetapi kebahagiaan seorang guru
menurut saya sangat terkait dengan tanggung jawabnya mendidik dan
mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif terhadap para
siswanya. Ketika seorang guru dapat melakukan beberapa hal berikut
ini kemungkinan besar ia dapat memiliki semua sumber kebahagiaan
bahkan lebih dari semua yang dipaparkan oleh Storm Jameson tersebut.

Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik.
Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid,
walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari
kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah
mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan
menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri
mereka menjadi lebih baik.

Mencintai proses pembelajaran dengan memperluas wawasan ilmu
pengetahuan melalui berbagai macam buku, seminar, kaset, radio dan
lain sebagainya adalah sumber kebahagiaan seorang guru. Karena
tanggung jawab seorang guru bukanlah sekedar menjelaskan subyek atau
materi pelajaran, melainkan memberikan contoh sikap bahwa kemauan
untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan
potensi diri. Seorang guru akan semakin bahagia jika mampu
menginspirasi para siswa belajar lebih giat.

Rasa syukur yang besar terhadap Tuhan YME mendatangkan keindahan dan
kebahagiaan. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia, karena rasa
syukur itu membuatnya dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada para
muridnya dengan bahasa yang positif pula. Ia akan lebih bahagia jika
sikap yang positif serta ilmu pengetahuan yang ia sampaikan
menginspirasi para muridnya untuk lebih kreatif dan positif dalam
menggunakan ilmu pengetahuan tersebut.

Seorang guru akan bahagia jika tidak membebani hidupnya dengan
orientasi mendapatkan imbalan. Ia bahagia karena tidak pernah
mengharap balas jasa dari murid atas semua yang diberikannya. Ia
sudah cukup senang dapat mengabdikan diri untuk membentuk para tunas
bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Guru akan bahagia jika berhasil membangkitkan semangat para murid
yang nyaris terpuruk karena kehilangan jati diri. Untuk semua itu ia
akan rela melakukan apapun, walaupun harus menghadapi banyak
kesulitan. Mendampingi dan membentuk anak-anak didik menjadi tegar
dan optimis, baginya jauh lebih menyenangkan dibandingkan apapun
juga.

Seorang guru bahagia, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak
membandingkan dengan orang lain. Ia bebas berekspresi sebagai diri
sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan agar terserap dan
bermanfaat bagi anak didiknya. Ia akan berbahagia jika etika yang ia
tunjukkan itu dapat menumbuhkan keberanian para murid untuk
menjalani kehidupan dengan jujur dan menghargai diri sendiri.

Guru bahagia karena ia mencintai murid-muridnya, bagaimanapun
keadaan mereka. Ia menikmati saat bersama-sama berjuang melawan
keterbatasan diri dengan ilmu pengetahuan dan budi pekerti.
Sebagaimana M. Scott Peck mengatakan, "When we love something it is
of value to us, and when something is of value to us we spend time
with it, time enjoying it and time taking care of it. – Ketika kita
mencintai sesuatu maka itu akan berarti bagi kita. Ketika sesuatu
berarti bagi kita, maka kita akan senang menghabiskan waktu
untuknya, menikmatinya, dan memeliharanya" .

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu
pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode
mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu
pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki,
semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang
membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang.
Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia
dapat menggunakan waktu secara efektif dan proprosional untuk diri
sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.
Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan,
kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan.
Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal
serupa dengan dirinya.

Note : Artikel ini adalah inti pembicaraan di Seminar
Pendidikan "Menjadi Guru Yang Menyenangkan, Inovatif dan Kreatif."
(Anjuran Yayasan Pendidikan Sinar Dharma)

Sumber: Bahagia Menjadi Guru oleh Andrew Ho, seorang pengusaha,
motivator, dan penulis buku-buku best seller.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun