Jumat, 31 Juli 2009

Menjadi Manusia Beneran Yuk!

“Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.”

-- Khalil Gibran, penyair, 1883-1931



SIAPA bilang menjadi orang terkenal itu enak dan nyaman? Lihatlah apa yang ada di layar kaca, di acara infotainment adegan seperti ini bejibun. Seorang wanita cantik dikelilingi enam orang yang wajahnya berbeda seratus delapan puluh derajat. Mukanya terlihat garang, bodynya kekar, tangannya kadang terkepal. Mereka itulah para bodyguard. Dua di kanan, dua di kiri, satu di depan dan satu di belakang. Wajah para bodyguard jauh dari senyum, terlihat tidak ramah. Seakan-akan siap hendak menyergap siapapun yang berani mendekat ke artis tersebut.



Wanita cantik tersebut akhir-akhir ini memang menjadi pusat pemberitaan mass media. Gerak langkahnya selalu menjadi incaran nyamuk pers. Ke mana pun ia melangkah, ke salon, ke pusat perbelanjaan, atau sekadar makan, kecuali ke rest room tentunya, selalu saja diikuti. Nah, satu bukti menjadi orang terkenal tidak selamanya membuat nyaman.



Coba kita lihat Mang Iyus. Lelaki biasa saja yang tinggal di Jakarta Timur. Hampir tiap hari dia bepergian ke luar rumah dengan santai, rileks, tanpa perlu pengawalan. Hidupnya benar-benar menyenangkan. Dia bisa pergi ke mal, pasar, atau ke kantornya dengan berjalan lenggang kangkung.



Dua dunia yang berbeda tentu saja. Satu manusia biasa saja, satu lagi mungkin manusia luar biasa. Biaya yang dikeluarkan dua jenis yang berbeda ini, tentu saja berbeda. Nah, semua itu merupakan pilihan.



Menjadi orang terkenal pun sebenarnya bisa tampil biasa-biasa saja. B’ aja tak perlu nyeleb. Begitu istilah anak muda sekarang. Kalau si wanita cantik itu merasa harus tampil dengan cantik, menor, atau dikawal dengan bodyguard, ya silakan saja, toh itu adalah pilihan yang dia ambil. Begitu pula dengan Mang Iyus, yang memilih tampil apa adanya.



Bagaimana sebenarnya kita harus berlaku dalam keseharian? Mari kita simak pengalaman Gede Prama. Motivator kondang asal Bali menuturkan kisahnya ketika bersua dengan Mar’ie Muhammad, mantan Menteri Keuangan, di dalam pesawat dan kebetulan duduk secara bersebelahan.



Gede Prama berkisah: ‘Ketika pertanyaan bagaimana Pak Mar’ie bisa bertahan lama dalam lingkungan Orba dilontarkan, tokoh yang senantiasa bersemangat inipun menjawab sederhana, “Lingkungan memang menentukan, tetapi kitalah yang paling menentukan dalam hidup kita sendiri!” Ada angin kekaguman yang berdesir di dalam sini ketika mendengar jawaban seperti itu. Lebih-lebih ketika berjalan meninggalkan pesawat, Pak Mar’ie menentengkan tas seorang Ibu yang menggendong dua tas dan membawa seorang anak.’ Demikian seperti yang dituturkan oleh Gede Prama.



Apa yang dilakukan seorang Mar’ie Muhammad menunjukkan bahwa, walau ia seorang tokoh pun, ia juga seorang manusia biasa yang senantiasa dapat memberikan pertolongan kepada sesamanya, baik ketika dibutuhkan atau tidak. Ada sisi kemanusiaan yang hadir di sana. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai hubungan secara horizontal terhadap sesamanya yang tak bisa hilang sama sekali. Bahwa sejatinya seorang manusia akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitar.



Penerimaan seorang manusia adalah ketika ia mampu menempatkan dirinya dimana ia berada. Ketika ia meninggalkan segala atribut yang disandangnya. Jika manusia dibawa ke sifat dasarnya, sejatinya ia akan selalu berusaha untuk berbuat baik, menolong sesama, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, berkomunikasi dengan keluarga, teman dan handai taulannya tanpa batas. Karena pada dasarnya orang ingin menjadi dirinya sendiri.



Setiap manusia, baru dapat dikatakan memanusiakan dirinya sendiri bila ia dapat tampil pada saat dan waktu yang tepat. Dengan tampil pas, hal itu akan menempatkannya pada situasi yang lebih menguntungkan bagi dirinya. Semua orang pun tahu, kalau ia seorang pejabat, artis, tokoh, atau bahkan orang ngetop sekalipun. Bahkan seandainyapun orang lain tak mengenalinya ketika ia berjalan-jalan di pasar misalnya, mestinya ia malah bersyukur karena ia dapat melakukan aktivitasnya dengan bebas.



Setiap manusia, baru dapat dikatakan memanusiakan dirinya bila ia memberi dan menerima apa adanya. Seorang manusia hanyalah menjalankan satu peran sosial saja ketika ia berada dalam satu komunitas tertentu. Ketika seorang artis beraksi di panggung, ia hanya memainkan satu peran sosial sebagai artis. Seorang atasan, tetap menjadi atasan ketika ia berada di kantor. Tetapi ketika berada di luar, siapapun juga, tetap akan menjadi seorang ayah atau ibu dari anak-anaknya, menjadi sahabat dari teman-teman lainnya, menjadi tetangga bagi lingkungan sekitarnya, atau menjadi warga masyarakat di daerahnya.



Satu profesi tertentu merupakan bagian dari peran-peran sosial yang ada. Dan hal itu hanyalah satu capaian dari sekian banyak peran sosial yang ada. Ia merupakan satu dimensi sisi kemanusiaan dari dimensi manusia lainnya yang lebih luas. Bahwa mencapai suatu profesi tertentu merupakan suatu capaian, hal tersebut tetap harus diimpresi. Harus dihargai, bahwa untuk mencapainya kadang tidak mudah, dan butuh pengorbanan. Tetapi yang harus segera dipahami ialah dimensi manusia lebih luas dari sekedar peran-peran tersebut. Dan jangan hanya berhenti pada satu peran tersebut saja.



Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sesungguhnya mempunyai dan memainkan multi peran. Dimana peran-peran tersebut tak hanya dapat dibingkai pada satu peran saja. Bila berpuas diri hanya pada satu peran saja, yang ada hanyalah stempel sesaat. Kadang manusia lupa bahwa stempel tersebut hanya berlaku pada situasi kondisi tertentu. Tak berlaku selamanya. Bila ia hanya berpuas pada satu peran tersebut, yang terjadi pada akhirnya ia akan merasa teralienasi. Merasa terasing terhadap dirinya sendiri. Sayang sekali jika itu terjadi. Padahal seperti kata sang penyair, Khalil Gibran, “Kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.” (171108)



Sumber: Menjadi Manusia Beneran Yuk! oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun