Jumat, 31 Juli 2009

Memaklumi Sampai Sebatas Apa?

Setiap kali pergi ke pernikahan seorang kerabat atau teman, saya
selalu merasa senang dan bahagia. Bukan hanya ingin turut mendoakan
pasangan yang sedang berbahagia, tetapi karena ada kesempatan untuk
menikmati hidangan yang berbeda-beda setiap kali datang.

Namun, kadang rasa senang itu sering kali ternoda dengan kondisi
pesta yang hampir selalu diliputi oleh antrean untuk mendapatkan
makanan. Saya rasa itu sesuatu yang wajar, tetapi saya sering merasa
kesal karena beberapa orang sering kali memotong antrean tanpa
merasa bersalah. Sayangnya lagi saya selalu berusaha memaklumi itu.

Kadang saya berpikir bagaimana bisa seorang yang terlihat matang,
bijaksana dan memakai pakaian bagus seperti tamu di resepsi
pernikahan itu tidak mampu untuk mengantre dan mengambil hak milik
orang lain. Jangan-jangan sehari-harinya tamu ini memang suka
mengambil hak yang bukan miliknya.

Suatu ketika saya sedang berbelanja di sebuah mini market yang
sekarang sedang menjamur di mana-mana. Suatu ketika uang kembalian
saya kurang lima ratus rupiah dan si karyawan hendak menggantinya
dengan 5 buah permen yang sebenarnya dipikir-pikir tidak sebanding
dengan harga uang lima ratus rupiah.

Kalau saya ingin makan permen saya biasanya memaklumi keadaan itu.
Namun, terkadang saya mendongkol juga dalam hati, bagaimana seorang
pengusaha yang sukses ternyata masih senang juga mengelabui
pelanggannya untuk membeli produk yang tidak perlu dengan alasan
uang kembalian tidak ada.

Sudah Merajalela

Bagi sebagian orang, sikap memaklumi itu sudah menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari hidup bermasyarakat. Kita sering kali
memaklumi teman kita yang datang terlambat, sambil mengatakan
guyonan pahit bahwa kalau tidak telat yah bukan si teman yang satu
ini.

Kita juga memaklumi selebriti yang senang kawin cerai. Malahan
mungkin bagi sebagian wartawan infotaiment ini merupakan kondisi
yang bisa menyokong kerja mereka sehari-hari. Kalau sepi kawin cerai
di antara selebriti bisa memusingkan kepala, karena tidak ada berita
yang bisa diulas.

Dalam pemerintahan juga setali tiga uang. Kita sering kali
memaklumi, jika ada pejabat pemerintah yang menyelewengkan
kekuasaannya. Kita juga memaklumi jika ada aktivis yang tadinya
sangat idealis, namun setelah masuk ke dalam birokrasi malah menjadi
sangat materialistis.

Banyak kemakluman yang sengaja kita lakukan agar kita tidak menjadi
lelah hati dan pikiran melihat kenyataan yang tidak sesuai ini.
Walaupun kita tahu ada yang salah, namun seringkali kita membiarkan.

Banyak alasan di balik sikap ini, ada yang karena keengganan,
kemalasan berbicara, kurangnya kekuatan untuk bertindak dan rasa
kurang percaya diri. Hal ini juga belum ditambah bahwa biasanya
orang yang salah di negara kita ini malah yang lebih galak dan
berani. Aneh bukan.

Harus Berubah

Bila kondisi ini terus- menerus terjadi, saya tidak dapat bayangkan
apa yang akan kita hadapi beberapa tahun yang akan datang. Negara
ini tentunya bukan akan mengarah ke yang lebih baik namun ke arah
kehancuran.

Kita dapat tertinggal dengan bangsa lain karena kemakluman kita
sangat tinggi termasuk maklum bila negara ini tidak maju-maju. Sikap
ini sangat berbahaya karena sama saja kita membiarkan bangsa dan
negara ini digerogoti pelan-pelan oleh anak bangsanya sendiri.

Kita semua harus berubah. Semuanya harus dimulai dari diri kita.
Usahakanlah menegur terhadap orang yang melanggar peraturan.

Tegurlah dengan cara yang baik sehingga orang tersebut dapat
memahami kekeliruannya.

Bila memang tidak bisa juga sikap tegas memang kadang diperlukan
untuk hal-hal seperti ini.

Suatu saat saya pernah menegur seorang asing yang secara sengaja
merokok di dalam ruangan berpendingin ruangan, yang secara jelas
pula terdapat larangan merokok. Orang asing itu tidak meminta maaf,
namun segera keluar untuk meneruskan merokoknya.

Sikap yang tidak sopan sebenarnya, namun yang penting saya sudah
berani mengungkapkan keberatan saya atas sikapnya yang tidak
mementingkan orang lain.

Saya rasa kita semua harus mulai melakukan hal-hal yang mampu
membuat orang lain sadar akan kekeliruannya. Mungkin kebaikan yang
kita perbuat ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak dan
cucu kita yang sedang tumbuh.

Kita tentunya tidak rela melihat anak dan cucu kita akan tumbuh
dalam iklim yang serba tidak pasti bukan? Bila kita tidak mau
melakukannya untuk diri kita sendiri, berpikirlah tentang anak dan
cucu kita sambil terus bertanya dalam hati Seandainya saya tidak
mulai melakukannya, lalu siapa lagi?

Sumber: Memaklumi Sampai Sebatas Apa? oleh Andri Suryadi, seorang Psikiater, Dosen Kesehatan Jiwa FK Ukrida

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun