Jumat, 31 Juli 2009

Goal Seeker vs Goal Getter

"Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are
essential to really keep us alive." -Robert H. Schuller

Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai
menentukan kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin
akan diwujudkan dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan
hidup, di sinilah kita bisa bedakan dua tipe orang.

Orang yang pertama kita kategorikan sebagai goal seeker, dan kedua
kita sebut goal getter. Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu
terus-menerus mencari goal. Goal getter adalah tipe orang yang
selalu berusaha mewujudkan goal yang telah dicanangkannya. Semuanya
memang berawal dan dimulai dari sebuah proses yang namanya goal.

Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan spesifik dalam
hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan membuat suatu
tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih dalam hidup
ini. Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker.

Goal seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara
merenungkan goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang
telah berhasil dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi
juga untuk mencapai goal yang sama bahkan lebih.

Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana goal memiliki peranan
yang penting dalam kehidupan mereka. Bahkan fisikawan Albert
Einstein pun mengatakan, "If you want to live a happy life, tie it
to a goal, not to people or things."

Ya, untuk menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus
mengikatkannya dengan sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan
tidaklah boleh berhenti hanya pada tataran membuat goal saja. Itulah
yang banyak dialami oleh orang yang hidupnya mandek.

Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan diraihnya,
berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam proses
menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati
banyak rintangan dan hambatan. Di sinilah godaannya. Sering terjadi,
para goal seeker jadi frustrasi, menyerah bahkan akhirnya
menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari goal yang baru, dan
mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah diusahakan sama
sekali.

Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami
transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-
menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah
beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal
seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan
sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not
productive!) .

Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The
Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan "You must take
action now that will move you towards your goals. Develop a sense of
urgency in your life."

Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter.
Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun
terus sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan
transisi menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada
bermimpi saja.

Jadi manusia langka

Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi sedikit sekali
yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari manusia-
manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi ilusi
semata, melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa
Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal
tersebut.

Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone, salah
satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari mimpi-mimpi
yang direalisasikannya sejak kecil. Bahkan, dengan beraninya, untuk
mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia nekat menjual koran di
restoran.

Tahukah Anda, pada masa itu, menjual koran di restoran adalah hal
yang tabu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dengan
sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif, akhirnya diceritakan
bagaimana William meluluhkan hati para pemilik restoran untuk
pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual koran di
restoran mereka.

Para pemilik restoran ini sama sekali tidak menyangka bahwa
akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini akan menjadi
salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis asuransi
terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku tentang
mental positif.

Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia
berkata, "To solve a problem or to reach a goal, you don't need to
know all the answers in advance. But you must have a clear idea of
the problem or the goal you want to reach." Dengan kata lain,
William mengingatkan para goal getter mereka perlu memiliki
kejelasan yang sangat jelas, spesifik dan detail tentang goal yang
mau diraihnya.

Semakin spesifik dan semakin detail goal yang mau diraih bagi
seorang goal getter, semakin jelas dan memudahkan bagi seorang goal
getter untuk meraih goal yang telah ditentukannya saat mengalami
transformasi dari goal seeker menjadi seorang goal getter.

Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang
mengatakan, "A goal properly set is halfway reached." Saat goal
sudah ditentukan, perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter
hanya tinggal setengah perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan-
perencanaan dan tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya
menjadi seorang goal getter.

Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan, hal
terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum.
Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu
besar ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya
membawanya semakin dekat pada tujuannya.

Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai termotivasi untuk
segera mewujudkan goal itu. Benarlah sebuah kalimat bijak yang
dikatakan oleh motivator nomor satu dunia, Anthony Robbins. "The
most important thing you can do to achieve your goals is to make
sure that as soon as you set them, you immediately begin to create
momentum. "

Dalam rangka menciptakan momentum ini, biasanya hambatan yang paling
sering dialami oleh seorang goal seeker adalah dalih (excuse) bahwa
mereka membutuhkan dan mencari 'timing' atau waktu yang tepat.

Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Waktu
yang paling tepat itu sebenarnya sekarang. Marilah kita simak tip
yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich
yang mengatakan, "Don't wait. The time will never be just right."

Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang. Janganlah
bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani mengambil
langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat
dengan goal kita.

Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi seorang goal
getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk merealisasikan
goal. Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana
membangun bisnis media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun
dia masih terus mencita-citakannya.

Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada di penantiannya.
Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai saat ini
jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang selalu
terus-menerus membuat goal. Jadikan 2009 menjadi tahun yang
spektakuler bagi Anda, bukan hanya karena banyaknya jumlah impian
Anda melainkan juga karena banyak impian Anda yang bisa terwujud!

Sumber: Goal Seeker vs Goal Getter oleh Anthony Dio Martin, Managing
Director HR Excellency

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun