Jumat, 31 Juli 2009

Topeng

My Mask
I hide behind a mask
You can't see my face
Looking at first glance
I'm in a happy place
The truth is, that's a lie
But you can't really tell
that in the back of my mind
I think the world should rot in hell
What's the point of living
If we are all going to die
What's the point of being happy
If in the end we're going to cry
But this is something no one sees
This is something no one knows
And yet deep inside of me
This feeling of hatred grows
So even though this mask reveals a happy side of me,
I use the mask as a shield to look at what others can never see.
by Jamila Rashid

Saya sempat terkejut ketika mendengar cerita seorang teman mengenai
suaminya. Tak lama setelah pernikahan mereka, sifat suaminya berubah
180 derajat. Dari yang tadinya kelihatan pasrah, tenang, penyayang,
dan kalem, menjadi tukang mengancam, suka memerintah, dan sering
marah-marah.

Sang istri berusaha lebih sabar, mengalah, dan mencoba memahami
perilaku suaminya, serta mulai mengurangi marah-marah dan tidak
menuntut. Ia berusaha mengubah diri menjadi istri yang lebih baik.

Nyatanya, tingkah suaminya makin menjadi-jadi. Makin tak peduli.
Padahal di lingkungan sosial, sang suami merupakan orang yang
dianggap baik, taat beribadah, dan karyawan yang penurut. Ia juga
selalu mengikuti kemauan/permintaan orang lain.

Teman saya tadi hanya bisa bertahan. Ia berusaha sabar dan berharap
suaminya berubah. Apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya?
Adakah sesuatu yang disembunyikannya, apakah ada gangguan jiwa,
atau ... entah apa lagi.

Suami teman saya tadi di depan orang lain seperti mengenakan topeng.
Ketika ia merasa lelah dengan topeng tersebut, istrinya seolah-olah
menjadi tempat pelampiasan amarah dan kekecewaan.

Lain halnya dengan kisah rekan saya yang lain. Ia mengaku lelah
karena harus berpura-pura dan bermuka manis di depan atasannya.
Alasannya, karena untuk kelangsungan karier.

"Kalau tidak begitu gimana dong...ntar nggak dapat promosi. Tapi,
lama-lama capek juga yah...," katanya. Ia menceritakan bahwa dalam
keseharian harus menyetujui atasan, rela diperlakukan apa pun. Di
kantor, ia seperti terbelenggu. Beruntung, saat sampai di
rumah, "topeng" tadi terlepas. "Di rumah bisa ngomongin rasa kesal
dan ketidaksetujuan dengan bebas," lanjutnya.

Abimanyu

Ada kalanya manusia mengenakan "topeng" dalam kehidupannya. Kita
ingin diakui atau tampak baik di depan banyak orang.

Ingin Tampak Baik

Dua contoh tadi mungkin pernah atau tengah kita alami. Ada kalanya
manusia mengenakan "topeng" dalam kehidupannya. Kita ingin diakui
atau tampak baik di depan banyak orang. Kita berusaha keras menekan
segala rasa marah, keinginan untuk mengeluarkan pendapat kita, dan
(terpaksa) pasrah.

Hal tersebut dilakukan, bisa karena rasa tidak enak, ada tujuan
tertentu (dalam kasus ke-2 karena karier), atau mau merasa aman.
Padahal, sebenarnya dalam hati, kita tidak rela atas keadaan
tersebut.

Meski merasa tak rela, wajah dan perilaku kita menyatakan lain.
Memang, pada akhirnya banyak orang mengakui kebaikan dan kesabaran
kita. Namun, hal tersebut dapat membuat kita menjadi lebih tertekan.

Dalam kasus di atas, saya juga tidak mengetahui dengan pasti, apa
yang dirasakan suami teman saya. Saya juga tidak mengetahui, mengapa
ia berubah. Saya juga tidak berani menganggap bahwa ia mengalami
gangguan jiwa, karena hal tersebut memerlukan diagnosa. Secara awam,
saya merasa ia menggunakan "topeng" dan pada akhirnya topeng
tersebut malah membebaninya. Sayangnya, beban dan rasa putus asa
tersebut ditimpakan kepada orang lain yang dianggap tidak berdaya.

Kasus ke-2 lebih umum ditemui. Sering terjadi di antara kita. Namun,
masih ada tempat untuk menjadi diri sendiri, seperti teman, dan
lingkungan keluarga. "Topeng" dikenakan sementara, namun pada
akhirnya melelahkan si empunya juga.

Kadang, ada orang yang berpendapat bahwa dalam kehidupan, kita perlu
berganti-ganti "topeng". Nyatanya, "topeng" adalah sesuatu yang
membebani. Membuat orang merasa pengap, dan sesak. Di sisi lain,
membatasi ruang gerak individu.

Dengan topeng, individu tidak mampu mengekspresikan diri. Yang
diekspresikan adalah diri yang palsu. Ia kehilangan dirinya yang
sebenarnya.

Individu dengan berbagai topeng akan merasa kelelahan. Ia berusaha
menyenangkan setiap orang, berusaha tampak baik di hadapan semua
orang, berharap diterima dan disukai oleh orang lain. Tanpa ia
sadari, topeng yang ia kenakan juga dapat melukai orang lain.

Menjadi Diri Sendiri

Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah hal yang baik.
Tetapi, tentu saja hal tersebut dilakukan tanpa harus mengorbankan
perasaan dan kepentingan diri. Kadang, kita memang harus berani
menentang arus, mengeluarkan pendapat, dan berperilaku apa adanya.
Mungkin orang lain belum tentu menyukai hal tersebut, namun bila hal
itu dilakukan, karena merupakan sesuatu yang memang benar, mengapa
kita harus khawatir?

Dengan menjadi diri kita sendiri, individu menjadi individu yang
sehat. individu dapat mengekspresikan diri secara tepat dan
mengembangkan dirinya. Setiap tindakan yang dilakukan merupakan
cermin dari keadaan dirinya.

Tentu saja, seiring dengan bertambahnya usia, maka kita semakin
matang dalam hal menjadi diri sendiri, semakin bijaksana dalam
pikiran, tindakan, dan menjadi bertanggung jawab atas apa yang kita
lakukan. Bukan sebaliknya, semakin tua malah makin dalam
terperangkap dalam ke-pura-puraan.

Kita juga berhak untuk asertif, menolak, atau mengatakan tidak
dengan alasan dan cara yang tepat. Jangan sampai, usaha kita untuk
menyenangkan semua orang dan dianggap baik, malah menjadi batu
sandungan bagi diri sendiri. Kebaikan, bahkan segala sesuatu, harus
dilakukan dengan tulus. Bukan karena ingin terlihat baik.

Bila kita memang pribadi yang lurus, dan benar, maka orang akan
melihat sinar kebaikan itu sendiri tanpa kita harus bersusah payah.

Sudah siapkah Anda melepas topeng Anda dan menampilkan diri Anda apa
adanya?

Sumber: Topeng oleh Clara Moningka, Kepala Lembaga Pelayanan
Psikologi dan Dosen Fakultas Psikologi UKRIDA Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun