Jumat, 31 Juli 2009

Ketika Uang Menjadi Panglima

“Uang hanyalah sebuah alat. Ia dapat membawa Anda kemanapun tempat yang di inginkan, tetapi ia tak akan dapat menggantikan Anda sebagai pengemudinya.”

-- Ayn Rand, penulis asal Amerika kelahiran Rusia, 1905-1982



BEBERAPA waktu yang lalu seorang penegak hukum diberitakan tertangkap basah menerima uang suap dalam jumlah miliaran rupiah terkait kasus yang diselidikinya. Reputasinya yang selama ini dikenal baik, hancur lebur dalam sesaat. Perjalanan karirnya pun akhirnya terhenti cukup sampai disini. Anggota Dewan kita yang terhormat pun tak luput dari berita yang tak sedap. Walau penghasilan resminya di atas rata-rata dibandingkan penghasilan kebanyakan rakyat, plus ditambah tunjangan sana-sini, tetapi toh tetap saja kita mendengar ada Anggota Dewan tertangkap basah sedang menerima suap. Banyak kasus serupa yang terjadi. Mulai dari penegak hukum, Anggota Dewan, hingga pejabat Pemerintah level bawah, terlibat kasus suap.



Kesemua kasus tersebut bermuara pada satu hal, yakni uang. Pada satu titik tertentu, uang mungkin menjadi sumber masalah, tetapi di titik lain, uang dapat pula menjadi sumber kebahagiaan. Kahlil Gibran, seorang penyair kelahiran Lebanon, pernah mengingatkan, “Uang seperti cinta, yang dapat membunuh dan melukai orang yang hanya bisa menggenggamnya saja, tapi juga dapat menjadi penambah semarak kehidupan bagi yang dapat memberikannya kepada orang lain.”



Sebagian orang mempersepsikan, bahwa dengan memiliki banyak uang akan membuat hidup menjadi lebih baik dan bahagia. Pada tingkat tertentu, bisa jadi uang mungkin dapat memberikan kebahagiaan. Seseorang tidak harus memiliki banyak uang untuk menjadi bahagia. Sebaliknya, jika tidak memiliki uang yang cukup, tidak berarti orang tidak bisa bahagia.



Pada hakekatnya, kebahagiaan lebih ditentukan oleh pikiran dan hati yang ada dalam diri seseorang. Jika sedari awal Anda berpikir dan merasa tidak bahagia, maka tidak bahagialah Anda. Barangkali malang bagi mereka yang berpikir seperti ini. Pepatah yang mengatakan bahwa uang tak dapat membeli kebahagiaan mungkin ada benarnya. Meskipun harus diakui uang dapat mempercepat proses mencapai kebahagiaan tersebut jika diperoleh dan digunakan secara bijaksana.



Tak selamanya orang melakukan sesuatu demi uang. Seorang public figure di negeri ini rela melepaskan jabatan komisaris di berbagai perusahaan, hanya untuk menjadi seorang pejabat publik. Padahal insentif yang didapatkan ketika ia menjadi pejabat publik jauh lebih kecil dibandingkan sebelumnya ketika ia masih menjabat komisaris di berbagai perusahaan tersebut. Tetapi mengapa ia mau melakukan hal itu? Ternyata ada hal yang lebih bermakna daripada sekedar uang. Ada tingkat kepuasan tertentu yang dirasakan ketika ia menjabat sebagai pejabat publik. Pekerjaan-pekerjaan yang digeluti merupakan sesuatu hal yang jauh lebih bermakna. Nilainya dirasakan jauh lebih berharga daripada hanya sekedar uang.



Memiliki uang memang jauh lebih baik daripada tidak memilikinya. Kepemilikan atas uang mungkin diperlukan, misalnya untuk menjalani hidup ini atau untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Dengan uang, Anda dapat melakukan banyak hal. Namun mungkin perlu disadari, bahwa uang sesungguhnya hanyalah suatu cara, suatu alat bantu untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri atau penggantinya.



Ketika orang-orang mulai meletakkan uang sebagai sesuatu keharusan dan akhir dari apa yang dicari, barangkali disitulah awal mula kekeliruan yang terus berlanjut pada kekeliruan berikutnya yang lebih fatal. Karena akhirnya uang menjadi panglima atas dirinya, bukan sebaliknya. Uang seharusnya diletakkan dalam fungsi sebagai instrumen belaka, dan selayaknya harus berada di bawah kendali kita.



Berbicara tentang uang tidak akan pernah habis, karena begitu besar pengaruhnya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tetapi seperti juga benda-benda kebutuhan hidup lainnya, sesungguhnya masih banyak di dunia ini yang jauh lebih penting daripada sekedar uang. Tujuan hidup kita di dunia ini misalnya, seringkali terlupakan, termasuk upaya-upaya pencapaiannya, karena terlampau mengacu pada uang dan materi yang menjadi tolok ukurnya. Akibatnya, kita lalai dalam mengukur hal-hal yang seharusnya tidak dapat diukur dengan uang, kebahagiaan misalnya.



Barangkali kita harus memulai sebuah perencanaan hidup yang lebih baik, yang menempatkan uang bukan sebagai satuan ukuran semata. Melainkan sebagai bagian untuk mewujudkan rencana hidup kita dalam mencapai tujuan hidup yang lebih mulia di dunia ini, sesuai dengan cara dan kecepatan kita dan yang kita inginkan. Semoga. (221208)



Sumber: Ketika Uang Menjadi Panglima oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun