Kamis, 17 April 2008

Burung atau Kipas


nda sudah pernah melihat burung ?
Anda juga pernah melihat kipas ?
Terimakasih Anda sudah menjawab.

Pernah kita menyaksikan di televisi, bagaimana warga masyarakat dan petugas atau aparat berusaha keras membujuk seseorang yang akan melakukan bunuh diri.

Dan di koran, Anda juga mendapati berita tentang orang yang melakukan tindakan bunuh diri.

Banyak motif mengapa orang melakukan tindakan nekad bunuh diri, satu di antaranya adalah stress atau deperesi akibat merasa terkucil, terasing dan merasa tidak diperhatikan.
Dalam keseharian kita sering menjumpai saudara kita, kerabat dan teman – teman kita mengeluhkan bagaimana mereka diperlakukan oleh lingkungan yang menurut mereka telah mengabaikan keberadaan mereka.

Seorang anak merasa tidak diperhatikan orang tuanya,
seorang suami atau isteri merasa tidak diperhatikan oleh pasangannya,
seorang karyawan merasa tidak diperhatikan oleh atasannya.

Kebanyakan dari mereka, lebih memilih memendam dan menganggap apa yang mereka alami sebagai nasib yang harus mereka terima, sehingga tidak ada tindakan nyata yang mereka ambil untuk keluar dari tekanan yang mereka keluhkan. Mereka senantiasa mengeluhkan hal yang sama dari waktu ke waktu.

Lama – kelamaan menjadi akut, sehingga mereka yang mengalami “tekanan” cenderung mengabaikan kemungkinan – kemungkinan baik yang disarankan baginya.

“Ya, dia sih enak. Punya keluarga yang memperhatikan, punya pangkat bagus dan keluarga yang setia.”

Tapi di lain waktu,

“Ya, itu salah dia sendiri. Dia kan memang urakan dan tidak tahu diri, makanya keluarganya mengacuhkan dia. Dan dia juga dipecat dari pekerjaannya. Ya nasib dia lah itu.”

Lha terus, sebenarnya maunya itu seperti apa ?

Begini dikomentari sinis, begitu dikomentari negatif. Pliiissss deh !

Anda tahu mengapa orang – orang menjadi begitu menonjol di dalam kelompoknya, dan mengapa pula orang menjadi semakin tenggelam dan tertekan di dalam kelompoknya.
Orang yang menonjol, mereka mempergunakan falsafah burung.

Burung itu bisa menetas di mana saja, dan juga bertumbuh di mana saja. Sejak “bayi”, burung sudah terbiasa dengan dinginnya air hujan karena sarang mereka di pohon. Demikian pun mereka telah terbiasa dengan hembusan angin kencang. Toh tidak ada angin sebesar apa pun yang sanggup menerbangkannya karena hembusannya yang dahsyat.

Mereka juga mampu mengusik ketenangan orang dengan kicauannya, hingga orang mau mengeluarkan banyak investasi untuk membeli dan merawatnya.

Orang yang tenggelam di antara kelompoknya, adalah orang yang memilih seperti kipas. Dia akan tetap diam di tempat bersama masalahnya.

Kipas akan tetap di tempatnya dan berdebu, kecuali pemiliknya atau ada orang lain yang mengambil dan mempergunakannya.

Burung menyanyikan kicauannya yang indah setiap saat dia mau, hingga orang yang mendengarnya bisa mengalami kenyamanan yang nikmat.


Sementara orang mengambil kipas karena kepepet oleh panasnya hawa.
Sehingga, orang stress dan yang nekad memutuskan ingin bunuh diri itu sama dengan kipas. Dia sebenarnya bagus, namun karena tidak pernah bertindak dan selalu menunggu orang lain mengambilnya lebih dulu, akhirnya keindahannya kusam tersaput debu dan rusak oleh waktu.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda “burung” atau “kipas” ?

From my friend,
Benedict Agung Widyatmoko
http://benedikawidyatmoko.wordpress.com/

Posted by DJODI ISMANTO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun