Jumat, 01 Agustus 2008

Harta Karun Untuk Semua


> ***Dewi Lestari*
> *
> Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku
> yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff - The Secret
> Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi
> informasi
> di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana
> barang-barang
> kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
>
> Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu
> ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang
> mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya
> hanya
> dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh
> detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur
> setelah si pemakan permen menjadi fosil.
>
> Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa
> deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan
> sebagai
> konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai
> pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi
> telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana
> kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak
> pohon
> yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan
> yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
>
> Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
> wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita
> bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita
> sendiri?
>
> Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci
> secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis
> daging
> burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400
> liter
> air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja
> kita
> menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi
> listrik
> 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah
> yang
> dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada
> berat
> chip itu sendiri.
>
> Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi.
> Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang
> tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau
> pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya
> dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah
> jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan
> hilir
> dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini
> telah disosialisasikan sejak kecil.
>
> Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar
> Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan
> PKL:
> tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan
> penduduk
> satu kota ? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi?
> Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar.
> Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat
> ratusan
> macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah
> kita memiliki pilihan sebanyak itu?
>
> Pernahkah kita merenung,
> apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?
> Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam
> setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak
> berbatas.
> Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan
> panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan
> sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
>
> Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang
> ekonom
> mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi.
> Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan.
> Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara,
> negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu,
> permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta
> kemauan
> kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
>
> Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi
> sangat
> menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak
> perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih
> merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis
> yang
> menentukan masa depan seisi Bumi.
>
> Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya
> bekerja,
> tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika
> tidak
> perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya
> bisa
> memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik
> ketimbang berlangganan langsung.
>
> Bagaimana dengan fashion?
> Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka
> publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli
> busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen
> dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi
> kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap
> beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak
> saya
> pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah
> lagi.
> Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan
> sampo yang utuh tak disentuh.
> Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang
> berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika
> dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta
> karun
> ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
>
> Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar.
> Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan
> sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru
> baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan
> harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari
> kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa
> saya
> mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas
> untuk
> disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang
> entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris
> selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan
> penghasilan
> yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
>
> Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif
> lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan.
> Namun
> yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri.
> Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar
> mandi,
> dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri.
> Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
>
> Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua
> aneka
> pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan
> rantai
> sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan
> pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik.
> Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong
> kresek
> yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang
> kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang
> itu
> tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
>
> Banyak orang yang berkomentar pada saya, " Aduh , Wi . Kamu bikin hidup
> tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita
> justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang
> lebih
> sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan
> kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga
> membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh
> industri
> demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. Lingkaran setan?
> Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.
>
> Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita
> bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya
> kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
>
> *sumber : dee-idea.blogspot. -com
> *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun