Jumat, 01 Agustus 2008

SEKOLAH DARI KEGAGALAN

Oleh: Antonio Dio Martin


"Peristiwanya tidaklah penting. Tapi, respon pada peristiwa itu adalah
segala-galanya" (I Ching).


Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita. Siapa yang merasa tidak
pernah mengalami kegagalan dalam hidup barang sekalipun? Hampir dipastikan
nol persen. Ada beragam sikap menghadapi kegagalan. Sering dalam menghibur
kawan yang gagal, kita melontarkan ucapan umum, seperti "kegagalan adalah
sukses yang tertunda" atau "kegagalan adalah awal kesuksesan" dan
sebagainya. Tentu saja, mantra positif itu diucapkan dengan tulus dan
menambah semangat. Namun, kalimat itu sering kita pakai lantaran kita tidak
tahu apa yang harus kita katakan. Jadi, sekadar menghibur.


Sebenarnya, memiliki perbendaharaan dan frame positif tentang kegagalan
merupakan salah satu benteng kokoh menghadapi serangan ‘virus kegagalan’
dalam hidup kita. Sejarah mempunyai seribu satu bukti. Banyak tokoh dunia
sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal. Tetapi, bagaimana mereka
merespon, berpikir, bertindak, dan menyikapi kegagalan itulah yang justru
mengantarkan mereka pada puncak kesuksesan. Jatuh bangun adalah proses
biasa dalam meraih kesuksesan. Seperti puncak gunung tak akan dicapai tanpa
melalui jalan naik-turun nan terjal. Bahkan, belukar dan kebuntuan jalan.


Setiap dari kita, termasuk Anda, perlu memiliki sebuah perbendaharaan atau
pun referensi yang bisa kita jadikan pegangan saat mengalami kegagalan.
Winston Churchill misalnya. Ia mengaku doyan membaca biografi tokoh
terkenal saat semangatnya sedang turun. Buku itu membuat semangatnya
bangkit. Ia merasa diteguhkan saat dirinya lemah dan tak berdaya. Tak
heran, salah satu nukilan pidatonya yang populer "Never Give Up" bisa jadi
berasal dari penggalian inspirasi buku-buku itu. Memang, semangat itu
menular seperti layaknya kemalasan juga sering menular. Janganlah jemu
menimba energi-energi positif dari banyak hal, termasuk dari bacaan.


Kali ini, ada referensi menarik dari Joey Green dalam tulisannya berjudul
"The Road to Success is Paved with Failure." Tulisan Joey Green ini menjadi
inspirasi penting untuk menghadapi kegagalan. Green berhasil menuliskan
berbagai kisah maupun daftar orang yang sukses secara luar biasa setelah
mengalami berbagai kekalahan pahit.


Di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh kisah Walt Disney yang sempat
saya singgung pekan lalu. Perusahaan animasi pertama Disney pernah pailit.
Tapi, Disney mampu bangkit dan betapa besar bisnis hiburan yang ditawarkan
dunia Disney sekarang ini. Ada juga Tom Monaghan. Dalam 20 tahun usahanya,
ia bangkrut dua kali. Ia kehilangan hak kontrol atas bisnisnya. Ia juga
dituntut atas pelanggaran hak cipta. Namun, belakangan bisnisnya malah
meroket dengan Domino’s Pizza-nya.


Ada lagi Fred Smith, orang yang hanya mendapat C dalam salah satu proyeknya
di Yale saat menuliskan idenya tentang jasa pengiriman semalam. Tapi, nilai
itu tidak sebanding dengan Federal Express, industri raksasa pengiriman
barang yang mendunia. Padahal ide itu pernah diacuhkan oleh gurunya.
Demikian juga perusahaan minuman Coca-Cola. Pada tahun pertama, Coca-Cola
hanya mampu menjual 400 botol. Tapi, sekarang Coca-Cola ada di mana-mana.
Bahkan, tidak ada satu daerah pun yang boleh dibilang tidak pernah
kemasukan penetrasi Coca-Cola ini. Bahkan, gelombang Coca-Cola menjadi
simbol nyata globalisasi yang sedang berlangsung.


Sementara itu, Chester Carlson mencoba temuannya ke sekitar 20 perusahaan
pada tahun 1940-an. Setelah bertahun-tahun mengalami penolakan, ia berhasil
meyakinkan Haloid, perusahaan kecil di Rochester. Haloid kemudian menjadi
salah satu perusahaan raksasa untuk mesin fotokopi elektrostatik bernama
XEROX Corporation. Ada lagi Henry Ford. Dalam tiga tahun pertama membangun
bisnisnya di bidang otomotif, Ford bangkrut dua kali. Namun, kegigihannya
membuatnya dikenal dengan simbol mobil-mobil mewah bergengsi.


Selain di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh di bidang kesusastraan,
perfilman, olah raga, dan nyanyian. Sebut saja Elvis Presley. Gurunya
pernah memberinya nilai C dengan nada menghina saat ia duduk di L.C. Humes
High School di Memphis. Guru itu mencap dirinya sama sekali tidak bisa
bernyanyi. Tapi, kini Elvis Presley menjadi penyanyi legendaris. Ada
Michael Jordan yang pernah ditolak saat mau bergabung dengan klub basket
sekolahnya. Tapi, Jordan pun jadi ikon bola basket legendaris.


Beatles juga pernah ditolak pada tahun 1962 oleh dapur rekaman Decca, Pey,
Philips, Columbia, dan HMV Labels. Juga Sigmun Freud yang buku karyanya
hanya laku 600 buah dengan mengantongi royalti sebesar 250 dolar. Tapi,
Freud dikenang sebagai Bapak Psikologi ternama. Aktor Sylvester Stallone
semasa kecil pernah dikeluarkan dari 13 sekolah dalam rentang 11 tahun.
Profesornya di Universitas Miami mengolok-olok dirinya tidak berbakat
akting. Ia juga manjadi bahan tertawaan saat memainkan peran di film Dog
Day Afternoon, Serpico, dan The GodFather. Naskah filmnya Rocky ditolak
oleh nyaris semua perusahaan. Tapi, sebuah perusahaan menerimanya dengan
syarat Stallone tidak boleh main di dalamnya.


Ada lagi Rudyard Kipling. Ia pernah menulis cerita dan mengirimkannya ke
sebuah surat kabar di California pada tahun 1888. Tapi, sang editor
menolak. "Maaf Mr. Kipling. Anda tampaknya tidak tahu bagaimana menggunakan
Bahasa Inggris dengan baik," kata editor itu. Belakangan, ia merupakan
salah satu peraih nobel di bidang sastra pada tahun 1907.


Nah, masih banyak contoh lainnya. Anda pun bisa melihat sendiri orang-orang
serupa di sekitar Anda. Ada satu benang merah yang menarik. Saat Anda
mengalami kegagalan, jangan kalang kabut. Jangan biarkan energi Anda habis
terkuras hanya karena terbekap kegagalan. Sungguh sangat arogan jika kita
selalu berharap semua berjalan mulus tanpa kendala. Nah, ambilah medali
kemenangan dari setiap kegagalan yang kita alami. Kita tidak mungkin sukses
tanpa memiliki keberanian untuk gagal.


Lihatlah mereka yang sukses itu. Mereka melewati berbagai tantangan dan
kesulitan dengan jiwa besar. Kegagalan paling buruk adalah mereka yang
mencoba, lalu kalah dan menyerah. Dag Hammarskjold pernah bilang, jangan
pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya.
Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu. Tak ada
kata menyerah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun