Minggu, 24 Agustus 2008

Till The Death Do Us Apart


“Sekali di Udara Tetap di Udara.”
-- Motto Radio Republik Indonesia

MASIH ingat iklan deodoran di tahun 1980-an? Singkat tapi luar biasa indahnya. ‘Setia Setiap Saat’ begitu bunyi iklannya. Deodoran berbentuk stik dan bola di ujungnya itu digadang-gadang ampuh untuk menghilangkan bau badan sampai kapan pun juga, alias setiap saat.

Soal benar atau tidaknya, si pembuat iklan atau produk tersebut sudah punya jawaban tersendiri. Kalau baru sepuluh menit bau badan sudah muncul, pasti terjadi sesuatu. Apaan tuh? Salah pemakaian atau si pengguna deodoran terlalu aktif. Keringat meluncur deras, alhasil, aroma tak sedap dari ketiak pun menyembur.

Setia pada akhirnya memang menjadi kosa kata yang bisa diperdebatkan dengan buih busa di mulut alias menjadi dialog yang bisa tidak berkesudahan. Terlalu banyak hal yang bisa mempengaruhinya.

Kesetiaan bukanlah harga mutlak dari sebuah ikatan. Bagaimana seorang karyawan dapat menjadi setia pada perusahaannya, bila dia mengetahui si bos ternyata tidak jujur dalam mengumumkan laba yang diterima kantornya. Padahal dia sudah mati-matian mendatangkan keuntungan bagi perusahaannya.

Begitu pula dalam sebuah ikatan kasih sayang atau lebih sakral: perkawinan. Ikatan itu tentu didasari oleh sebuah kesepakatan di antara dua pelakunya. Mereka sepakat untuk bersatu dan berbagi peran untuk mencapai sebuah tujuan.

Nah, kalau di antara kesepakatan itu sudah dilanggar, entah karena sakit atau lain hal, sehingga tujuan bersama tidak lagi bisa dicapai, apakah keliru untuk tidak sepakat lagi? Alhasil, jalan perpisahan atau perceraianlah yang diambil. Bukankah perpisahan juga merupakan bentuk kesepakatan untuk tidak sepakat lagi? Pilihan yang sulit tapi merupakan jalan keluar yang pahit, tapi tetap lebih baik ketimbang harus bersama namun salah satu pasangan sudah merasakan tidak ada lagi kecocokan.

Alangkah sulitnya memahami sebuah ketidaksetiaan seseorang yang berada di luar dunia kita. Toh, hanya mereka berdua yang menjalaninya. Tentu tidaklah mudah bagi kita untuk menjaga kesepakatan itu bila kita sendiri yang menjalaninya.

Itulah yang terjadi ketika seorang perempuan muda menggugat cerai suaminya yang sudah tua renta, yang merupakan artis veteran di tahun 1980-an. Padahal sebelumnya, dalam sebuah wawancara di televisi, perempuan muda itu mengatakan, dirinya akan mencintai dan tetap setia pada pasangannya. Jangan hanya mencintai pasangan ketika gagah dan masih berkecukupan saja, begitulah kira-kira pernyataannya ketika itu sebelum ia menggugat cerai suaminya.

Tentu orang luar melihatnya dalam kaca mata yang berbeda. Apalagi infotainment, kalau dipisah-pisahkan per kata, berarti ‘info’ yang menghibur, tapi menghibur untuk siapa sebenarnya? justeru menggempur penontonnya dengan tayangannya itu, makin menyudutkan si perempuan tersebut.

Cap negatif pun tercetak, ia dikatakan sebagai perempuan yang tidak setia. Padahal, tentu banyak faktor yang menyebabkan si wanita itu menjadi ‘tidak setia’, seperti yang diembuskan infotainment. Namun, siapa pun lebih suka menjauh ketimbang berempati.

Bagaimana pun ketidaksetiaan menjadi makanan yang lezat untuk digunjingkan. Sebaliknya, kesetiaan yang diagung-agungkan malah menjadi sekadar nyanyian sepi.

Anda masih ingat dengan Christopher Reeve? Reeve merupakan aktor utama pemeran Superman. Reeve menikah dengan model cantik, Dana Charles Morosini, April 1992. Dana tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Ia lulus dengan predikat cum laude di Middlebury College.

Pernikahan yang dijalani Dana Reeve pada awalnya berjalan begitu menyenangkan. Mereka dikarunia satu orang anak. Hingga akhirnya di tahun 1995, setelah 3 tahun menikah, Christopher Reeve mengalami kecelakaan yang mengubah perjalanan hidup pasangan itu selanjutnya. Reeve terjatuh dari kuda. Kecelakaan itu menyebabkan Reeve mengalami kelumpuhan yang menyebabkan ia harus terus berada di atas kursi roda.

Dana Reeve membuktikan kesetiaan terhadap suaminya dengan merawatnya penuh kesabaran, tanpa menggerutu. Dana sepenuhnya sadar, bahwa ia tidak dinafkahi lagi secara lahir bathin oleh suaminya, walau saat itu usianya baru 34 tahun. Setelah merawatnya tanpa lelah sedikitpun selama 9 tahun, Dana harus berpisah juga dengan suaminya. Christopher Reeve menghembuskan nafas terakhir pada 10 Oktober 2004. Sepeninggal Reeve, Dana tetap membesar anak tunggalnya dengan penuh kebaikan dan kesabaran. Atas dedikasinya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya, tahun 2005, American Cancer Society menganugerahinya ‘Mother of The Year Award’. Bahkan sejak suaminya lumpuh, Dana menjadi pembicara motivasi bagi para penyandang cacat dan lumpuh. Dana akhirnya menyusul suaminya karena kanker paru-paru, ia meninggal pada 6 Maret 2006, atau 2 tahun setelah suaminya meninggal.

Aktor Superman Christopher Reeve dalam hidupnya benar-benar mendapat karunia yang luar biasa. Ia menikahi Superwoman yang sesungguhnya. Dana Reeve memang terlahir cantik, cerdas, dan kaya. Dana bisa menikah kapan saja kalau ia mau. Kesetiaan terhadap suaminya telah membuktikan kisah kasihnya yang luar biasa.

Kesetiaan Dana atau ketidaksetiaan perempuan yang disebut di atas intinya adalah cermin dari ketahanan mental seseorang dalam menjalani dan mempertahankan komitmen-komitmennya terhadap pasangan atau sesuatu yang diyakininya. Pada akhirnya, kita juga, manusia yang menjalaninya, yang bisa menjawabnya dengan pilihan dan sikap. (280708)

Sumber: Till The Death Do Us Apart oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun