Jumat, 01 Agustus 2008

TULISAN DI ATAS PASIR


oleh: Andrie Wongso


Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda,
dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit
di antara mereka. Salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul
temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika
diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan
sakit, tanpa berbicara sepatah kata pun, dia menulis dengan sebatang
tongkat di atas pasir: "Hari ini temanku telah memukul aku !!!"


Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula
berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya
...dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari
berkejaran, karena tidak berhati-hati, tiba-tiba anak yang dipukul tadi
terjerumus ke dalam lubang perangkap yang dipakai menangkap binatang.
"Aduh.... Tolong....Tolong!" ia berteriak kaget minta tolong. Temannya
segera menengok ke dalam lubang dan berseru, "Teman, apakah engkau terluka?
Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk
menolongmu." Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia
berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon.
"Teman, aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan
kulemparkan ke kamu. Tangkap dan ikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat,
aku akan menarikmu keluar dari lubang."


Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itu pun berhasil dikeluarkan dari
lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata,
"Terima kasih, sobat!" Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu
karang dan berusaha menulis di atas batu itu, "Hari ini, temanku telah
menyelamatkan aku."


Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan,
"Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku
menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?" Anak yang di pukul itu
menjawab sabar, "Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena
kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin
segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus
bersama tiupan angin dan sapuan ombak.”


”Tapi, ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena
perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam
hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat."


Pembaca yang budiman,


”Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh
melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan
bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita,
sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.


Memang benar.... bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di
atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga
kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia.


Sebaliknya... tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti
tulisan yang terukir di batu karang. Yang tidak akan pernah hilang untuk
kita kenang selamanya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun