Sabtu, 16 Agustus 2008

Prinsip Malaikat


Ada yang janggal di mata para bankir ketika mencermati business plan
awal RealNetworks yang didirikan Rob Glaser pada 1995. Tertulis
secara resmi dalam dokumen, perusahaan itu menetapkan kebijakan
penyaluran 5% keuntungan bisnis untuk kegiatan amal di yayasannya.

"Sebentar, Anda benar-benar ingin ada kebijakan ini? Sebab, orang
yang mempelajari perusahaan Anda tidak akan menyukai ini," begitu
kata para bankir, mengingatkan Glaser akan kemungkinan reaksi calon
investor. Apa yang terjadi kemudian pada RealNetworks? Rupanya,
sepanjang proses go public, hanya dua kali muncul pertanyaan
investor soal amal RealNetworks itu. Seorang investor, mengatakan
kepada Glaser, "Saya sudah membaca prospektus Anda bahwa Anda akan
memberikan 5% keuntungan untuk lembaga amal. Mengapa Anda tidak
berikan saja yang 5% itu kepada para investor dan biarkan mereka
memberikannya ke lembaga amal?"

Menjawab pertanyaan itu, Glaser menjelaskan bahwa dia memang ingin
mendorong para investor untuk memberi sumbangan ke lembaga
amal. "Tapi, begitu uang itu tidak di tangan kami, maka kami tidak
bisa mengawasinya. Jika, kami berikan sendiri yang 5% itu kepada
lembaga amal, maka kami tahu itu akan berguna untuk tujuan yang
positif."

Investor satunya malah bereaksi sangat positif menyangkut kebijakan
amal itu. Investor dari California Selatan, yang punya hubungan
dengan sebuah perusahaan investasi besar itu menghubunginya lewat
telepon. "Saya akan mempelajari dengan sungguh-sungguh rencana
bisnis Anda. Entah keputusannya berinvestasi atau tidak ke
perusahaan Anda, tapi fakta bahwa Anda membuat komitmen pada amal
itu pasti menjadi pertimbangan yang mendukung, karena saya kira ini
luar biasa."

Sang calon investor menambahkan bahwa pengalamannya dengan masalah
amal benar-benar positif. "Siapa pun yang mengatakan kepada Anda
bahwa Anda tidak mungkin melakukan itu pasti salah."

Fakta pertama yang menarik dari pengalaman RealNetworks adalah bahwa
hanya dua investor yang bereaksi terhadap kebijakan amal tersebut.
Yang satu, sekadar menanyakan tentang cara penyaluran amal, dan yang
lainnya menyatakan sangat mendukung.

Fakta kedua, RealNetworks kini menjadi perusahaan besar dengan
jumlah pegawai 1.594 orang dan pendapatan bersih US$145,22 juta
(2006). RealNetworks adalah perusahaan penyedia peranti media
Internet (RealAudio, RealVideo dan RealPlayer) yang berbasis di
Seattle, Amerika Serikat. Perusahaan itu juga terkenal karena
layanan hiburan online berbasis langganan, seperti Rhapsody,
SuperPass, dan RealArcade.

Glaser sendiri, yang lahir pada 16 Januari 1962 dan pernah bekerja
di Microsoft, sudah punya harta US$2 miliar saat usianya baru 37
tahun. Dia tercatat sebagai penyumbang individual terbesar ke-22
untuk 527 kelompok pada pemilihan umum AS pada 2004. Jumlah
sumbangan lulusan Yale Univesity bidang Ekonomi dan Ilmu Komputer
itu mencapai US$2,2 juta ke sejumlah organisasi yang berafiliasi ke
Partai Demokrat.

Perusahaan menyisihkan keuntungan untuk amal memang bukan hal yang
aneh. Akan tetapi, seperti kata Glaser, jarang ada yang menuliskan
komitmen itu dalam dokumen publik. Apa yang dialami RealNetworks
menunjukkan bahwa amal, atau dalam konteks yang lebih luas,
filosofi 'memberi', ternyata bukan menjadi faktor negatif bagi
sebuah bisnis.

Dalam artikel beberapa nomor lalu, saya kemukakan satu hasil survei
Majalah Fortune pada Oktober 2006. Di situ terlihat bahwa sekitar
satu dari setiap US$10 aset di bawah manajemen investasi di Amerika
Serikat (US$2,3 triliun dari US$24 triliun) mengalir ke perusahaan
yang tinggi tingkat tanggung jawab sosialnya. Ini ditafsirkan
sebagai isyarat bahwa perusahaan yang bertanggung jawab secara
sosial akan mengungguli perusahaan yang tidak.

Selain itu, menurut laporan The New York Times, sampai tahun 2000,
pasar untuk values-driven commerce, mencapai US$230 miliar. Angka
itu terus tumbuh dua digit setiap tahun. Ceruk pasar yang dirujuk
dalam laporan itu adalah masyarakat konsumen dengan kesadaran
memilih produsen atau perusahaan yang memerhatikan tanggung jawabnya
pada kepentingan stakeholder, termasuk konsumen dan lingkungan.

Anggukan universal

Pengalaman Glaser, survei Fortune dan laporan New York Times, semua
memperlihatkan bahwa filosofi memberi merupakan anggukan universal
atas salah satu kecerdasan spiritual manusia.

Sikap memberi atau peduli pada hakikatnya adalah suatu investasi
kepercayaan (trust). Di sini berlaku hukum kekekalan energi, bahwa
energi yang diberikan tidak akan hilang, ia hanya berubah bentuk.

Energi positif (memberi) yang dikeluarkan RealNetworks atau
perusahaan lain yang punya tanggung jawab sosial tinggi mengirim
sinyal ke para investor bahwa perusahaan-perusahaan itu dijalankan
degan integritas.

Integritas tidak mungkin menipu dan tidak mungkin berbohong.
Integritas tidak memerlukan tepuk tangan orang lain. Integritas
tidak peduli dengan riuh-rendah sorak -sorai.

Integritas tidak pamrih, sebab integritas adalah manifestasi dari
Prinsip Malaikat (Angle Principle). Pelakunya tidak mengharapkan apa-
apa selain catatan kecil dari malaikat yang berada pada bahu
kanannya.

Prinsip itu hanya akan muncul ketika manusia telah menyadari bahwa
hidupnya adalah pengabdian kepada Tuhan yang telah menitipkan Sifat-
Sifat Mulia dalam dirinya. Sifat-sifat yang menjadi kecerdasan
spiritual manusia, dan salah satunya adalah peduli.

Sumber: Prinsip Malaikat oleh Ary Ginanjar Agustian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun