Senin, 03 Agustus 2009

Aji Mumpung Yuk!

“Mumpung berkuasa, berbaktilah kepada rakyat.”

-- Evita Peron, Mantan Ibu Negara Argentina, 1919-1952

MUMPUNG dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti ‘kebetulan’. Atau bila kita telaah lagi, bisa juga berarti ’saat masih ada kesempatan’. Mumpung ada uang bisa berarti ’kebetulan ada uang’ atau ’saat masih ada kesempatan memiliki uang’. Mumpung masih muda? Ya, saat masih berusia muda. Begitu sajalah gampangnya.

Lalu kemudian berkembang kata ’aji mumpung’ yang selalu saja konotasinya negatif. Mumpung masih jadi pejabat, bikinlah keputusan yang menguntungkan kolega, sanak famili, atau malah untuk diri sendiri. Contoh untuk yang satu ini bejibun. Di koran, radio, apalagi di televisi hampir tiap hari muncul si penganut aji mumpung.

Di televisi juga kita lihat wanita muda yang cantik luar biasa terlihat pontang-panting mencari sumber pemasukan. Bermain sinetron dia hayuh aja, menjadi presenter juga siapa takut. Eh, sampai-sampai menyanyi, meski suaranya kurang merdu, juga dijabanin. Yang terakhir, banyak pula artis yang mencoba peruntungan di dunia politik. Tak sedikit politisi yang kebakaran jenggot, karena lahannya ikut-ikutan diserobot. Banyak memang yang meragukan kemampuan si artis. Tanpa pengalaman apa-apa, mereka kemudian masuk daftar calon bupati. Wah, keren banget.

Apakah salah hal itu? Tentu saja tidak. Namun seperti kebanyakan orang, kadang pula kita jatuh kecewa dengan tindakan dan perilaku mereka. Aya naon? Karena kita tahu kapasitas mereka untuk itu belumlah cukup. Kalaulah mereka dicomot masuk dalam politik, semata karena mereka hanyalah dijadikan penarik suara alias vote getter yang umum terjadi di mana-mana.

Nah, sekarang marilah kita lihat diri kita sendiri. Apakah tubuh kita masih tegap? Apakah kaki dan tangan kita masih mampu berlari mengejar bus atau bergelantungan di kereta listrik yang selalu sesak? Lalu bagaimana dengan semangat kita? Masih banyakkah stoknya?

Setelah mendapatkan jawaban itu semua, yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, segeralah dan ayo kita ber-aji mumpung persis seperti pejabat yang koruptor atau selebriti yang menyikat apa saja pekerjaan yang datang padanya.

Mumpung kita masih memiliki penghasilan, sisihkanlah paling tidak untuk masa depan nanti kelak. Atau bila berlebih, segera cari mereka yang membutuhkan untuk kita bantu. Di negeri yang makin semrawut ini, tentulah tidak sulit untuk mendapatka mereka yang memang membutuhkan bantuan.

Mumpung kita masih muda, perbanyaklah kesempatan untuk mengejar cita-cita yang sudah lama mengendap dalam diri kita. Segeralah mengusir kemalasan yang ada. Karena pada intinya, waktu tidak pernah berhenti. Orang yang lengah, selalu menyadari saat dirinya belum banyak mengalami kemajuan dibandingkan dengan teman-temannya.

Mumpung masih ada umur, banyak-banyaklah berbuat amal. Mumpung orangtua masih hidup, bahagiakanlah mereka, walau hal itu mungkin menunda kesenangan kita. Mumpung uang masih berkecukupan, berilah pendidikan yang terbaik untuk anak. Mumpung menjadi Ketua RT, layanilah warganya dengan baik, walau tidak digaji sekalipun. Mumpung kita mempunyai kelebihan, berbagilah terhadap sesama. Dan tentu saja, mumpung kita masih hidup, berbuatlah sesuatu yang bermakna untuk lingkungan dan orang-orang sekitar kita.

Semua adalah aji mumpung, dan siapapun tentu sepakat bahwa untuk aji mumpung yang seperti ini, tak ada satu orang yang akan menghalanginya. Semakin lekas kita berbuat sesuatu, agar kesempatan itu tidak segera berlalu, kian beruntunglah kita dalam mengisi hidup ini.

Nah, sekarang, setelah membaca tulisan ini, bila Anda berada di depan monitor, segeralah selesaikan pekerjaan, mumpung bos belum datang. Jangan ditunda ya. Bila jam istirahat telah tiba, segera telpon suami, isteri, atau anak, walau hanya sekedar mengatakan ’i love you’ saja. Yah, mumpung jam istirahat kan. Setelah semua urusan selesai, Anda pun bisa melakukan kegiatan lain yang tentu saja Anda senangi dan bermanfaat bagi Anda di masa nanti. Buruan, mumpung masih ada waktu. (040808)

Sumber: Aji Mumpung Yuk! oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun