Senin, 03 Agustus 2009

Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta

Ausubel dalam artikelnya The Failure of Competition in the Credit
Card Market (1991) mengelompokkan pengguna kartu kredit dalam tiga
kelompok besar yaitu hampir tidak berisiko, berisiko kecil, dan
berisiko besar. Berbeda dengan Ausubel, berdasarkan observasi saya,
ada enam persepsi berbeda di masyarakat kita terhadap kartu kredit.

Karena kekurangpahaman mengenai produk perbankan ini dan minimnya
self control, tidak jarang persepsi salah yang justru berkembang.
Berikut pengelompokan persepsi terhadap kartu kredit versi saya.

Kelompok pertama adalah mereka yang melihat kartu kredit lebih besar
mudaratnya daripada manfaatnya. Di mata kelompok ini, tidak ada
keuntungan nyata memiliki kartu kredit, sementara biaya tahunan
tetap harus dibayarkan. Besar biaya yang hanya beberapa ratus ribu
rupiah itu dipandang tidak sesuai dengan manfaat yang diberikan.

Kita dapat memaklumi sepenuhnya jika yang berpendapat seperti ini
adalah mereka yang berpenghasilan bulanan sekitar Rp2 jutaan atau
kurang. Sayangnya, ada juga kawan saya yang bergaji belasan juta
rupiah berpikiran seperti ini.

Bank tidak menyukai kelompok ini terutama yang mempunyai penghasilan
cukup besar, tetapi masih belum dapat diyakinkan akan perlunya kartu
kredit dalam kehidupannya.

Kelompok kedua adalah mereka yang memahami adanya manfaat dari kartu
kredit dan pernah memiliki kartu kredit. Namun, karena kurang dapat
mengendalikan diri (self control) saat memegangnya, mereka punya
pengalaman buruk berhubungan dengan kartunya.

Mereka pernah terlilit utang kartu kredit yang menjerumuskan karena
tidak mampu menahan nafsu belanjanya. Karenanya, sama seperti
kelompok pertama, persepsi mereka terhadap kartu kredit juga
negatif. Bahwa kartu kredit itu bagaikan ranjau yang sangat menjebak
atau bahkan racun yang cukup mematikan.

ersepsi seperti ini memang sangat disayangkan tetapi terhadap orang
yang tidak mempunyai self control, kita tidak mempunyai alternatif
terbaik selain menganjurkannya untuk berhenti menggunakan kartu
kredit. Ini lebih baik daripada kehidupannya diuber-uber tagihan
kartu kreditnya. Bank tidak menyukai kedua kelompok pertama ini.

Kelompok ketiga adalah yang menilai kartu kredit itu sangat
bermanfaat karena mempermudah manajemen kas dan belanja barang yang
dibutuhkan. Kartu kredit sangat diperlukan saat kita menginap di
hotel berbintang, menjamu rekan bisnis bersantap di restoran
berkelas, menunggu saat keberangkatan di bandar udara, atau saat
kita berada di luar negeri.

Kelompok ini akan menggunakan kartu kredit untuk menikmati semua
kemudahan di atas. Saat tagihan jatuh tempo sekitar 2 - 6 minggu
kemudian, mereka akan melunasi seluruh tagihannya. Inilah kelompok
convenience users.

Walaupun berisiko sangat rendah, kelompok ini bukan yang paling
disukai bank. Dari convenience users ini, bank hanya akan memperoleh
iuran tahunan yang tidak seberapa nilainya, selain merchant's fee
tentunya. Inilah persepsi yang benar dan dilakukan mereka yang bijak
dalam finansial.

Yang disukai bank

Kelompok keempat adalah yang memandang kartu kredit sebagai
peningkatan batas belanja bulanan. Mereka tidak segan untuk membeli
tidak saja barang yang dibutuhkan tetapi juga barang yang
diinginkan.

Saat tagihan datang, kelompok ini sebenarnya mempunyai kemampuan
untuk melunasinya karena mempunyai akumulasi dana dan kekayaan yang
cukup, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka lebih suka
mengangsur tagihan minimum yang hanya sebesar 10% itu karena terasa
sangat meringankan.

Inilah kelompok berisiko rendah menurut Ausubel dan yang paling
disukai bank. Kelompok inilah yang diincar dan diperebutkan bank
penerbit kartu kredit. Bank tidak ragu untuk memberikan iuran
keanggotaan gratis untuk satu atau dua tahun pertama dan memberikan
limit kredit hingga puluhan juta rupiah untuk kelompok ini.

Kelompok kelima adalah mereka yang cenderung high profile. Tidak
hanya sebagai peningkatan kapasitas belanja, kartu kredit juga
dipandang sebagai tambahan kas atau uang tunai di dompetnya. Jika
diperlukan, kadang hanya untuk pamer diri, kelompok ini tidak ragu
menggunakan kartu kreditnya untuk menarik ATM tunai. Ketika tagihan
datang, kelompok ini hanya mampu untuk melunasi angsuran minimum.

Walaupun mempunyai persepsi yang salah, kelompok ini tetap sanggup
membayar angsuran minimum setiap bulannya. Selama kewajiban minimum
ini dapat dipenuhinya, kelompok ini berisiko sedang dan juga disukai
bank penerbit. Bank mulai khawatir terhadap kreditnya kepada
kelompok ini saat mereka lupa atau mulai kesulitan melunasi angsuran
minimum yang hanya 10% dari saldo utangnya.

Kelompok keenam adalah mereka yang lebih besar pasak daripada tiang.
Sama seperti persepsi sebelumnya, kelompok ini juga suka mengambil
ATM tunai. Bedanya, kelompok ini mempunyai begitu banyak keinginan
dan kurang menyadari kemampuan finansialnya. Kelompok ini umumnya
juga tidak mampu membatasi diri saat berbelanja. Akibatnya, tagihan
bulanannya terus meningkat.

Inilah kelompok pengguna kartu kredit yang berisiko tinggi yang
paling tidak disukai dan sangat dihindari bank. Bukannya
mendatangkan keuntungan, bank justru menderita kerugian menghadapi
kelompok ini.

Memahami enam persepsi di atas, di kelompok mana Anda berada?
Harapan saya, Anda masuk kelompok ketiga.

Sumber: Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta oleh Budi Frensidy, Staf
pengajar FEUI dan penulis buku

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun