Senin, 03 Agustus 2009

Fenomena Jatuh Cinta

Proses Kematangan Jiwa yang Lengkap

Jatuh Cinta, berjuta rasanya, dibelai, dipegang, amboi rasanya..

Jatuh Cinta berjuta indahnya, tertawa, menangis karena jatuh cinta.!
Oh asyiknya...!

Suara Eddy Silitonga sangat enak terdengar kala mendendangkan syair
lagu tadi. Aneh. Kenapa menggunakan istilah 'jatuh' cinta? Kenapa
tidak memakai istilah 'mendapat' cinta? Apakah makna kata 'jatuh'
mengartikan bahwa cinta itu tiba-tiba jatuh di mana saja, tanpa
kenal waktu, usia, dan latar belakang seseorang? Atau apakah 'jatuh'
berarti orang yang kejatuhan cinta ini tidak bisa mengelak atau
menolak?

Semua orang berhak 'kejatuhan' cinta, Tetapi, tiap orang akan
mendapat dan menerima cinta dengan berlainan kualitasnya. Cinta,
seperti apa yang kita serahkan pada orang yang kita cintai? Juga,
cinta yang berkualitas, seperti apa yang kita terima dari orang yang
mengaku mencitai kita?

Jatuh cinta, apakah ini murni suatu proses yang mengacu pada
perasaan saja? Atau, ada logika yang harus ditajamkan? Banyak dari
kita menganggap, jatuh cinta merupakan kejadian di mana sese-orang
tidak bisa berpikir lagi secara logis. Maka muncul guyonan "Kalau
cinta sudah melekat, kotoran kambing pun serasa cokelat"

Masih soal kualitas, benarkah cinta pada pandangan pertama hanya
ketertarikan fisik belaka? Apakah benar kita bisa mencintai
seseorang pada pandangan pertama?

Kita menyukai seseorang kemudian ingin bertemu lagi dan bertemu
lagi. Akhirnya perasaan kangen yang begitu dahsyat, membawa kita
pada kecanduan ingin selalu bersama. Setelah itu, berlanjut dengan
saling mengenal antarjiwa, apa saja kesukaaannya dan apa saja yang
bisa menarik perhatiaannya. Jadi, memang tidak mungkin kita
mencintai seseorang begitu melihatnya. Apalagi, tidak ketahuan asal-
usulnya, tahu-tahu cinta dengan begitu saja. Cinta tidak menyerang
tiba- tiba, tetapi efek ketertarikan membuat cinta tumbuh.

Dengan kenyataan ini, bisa disimpulkan bahwa jatuh cinta merupakan
proses emosi yang kompleks. Agar cinta bisa tumbuh dan berkembang,
maka cinta membutuhkan waktu berproses. Benar kata-kata dalam lagu
Eddy Silitonga, yang menjelaskan jatuh cinta itu suatu proses, di
mana kita merasa senang disentuh, dibelai, dan bisa tertawa juga
menangis bersama.

Fenomena jatuh cinta, merupakan proses kematangan jiwa yang lengkap.
Dalam berproses, tidaklah cukup hanya merasa senang dengan segala
perasaaan tertarik ke arah kebutuhan biologis belaka. Jiwa kita
menjadi matang dalam berproses jika kita memberi waktu, untuk
mengenal lebih dalam, maka akal sehat harus tetap digunakan.

Ketika kita dalam kondisi jatuh cinta, sebaiknya kita respek dengan
rambu-rambu yang ada. Jika menyepelekannya, itu bukan pertanda kita
jatuh cinta kepada seseorang, tetapi sinyal kebodohan dalam suatu
hubungan yang berawal dari ketertarikan. Tertarik kepada seseorang,
banyak alasanya, tapi yang pertama terlihat adalah hal yang kasat
mata, maka logika akan memberi sinyal untuk akal sehat kita tetap
jernih.

Banyak hal terjadi saat mabuk cinta, kita mengidealkan kekasih kita,
bukan melihatnya secara realistis, dan ini bom waktu untuk relasi
selanjutnya. Jatuh cinta memang mengasyikan, memabukkan, tetapi
harus bisa menerapkan logika dalam menjalani proses yang sedang
terjadi, agar tidak menjadi kacau pada tahap selanjutnya yaitu
menuju niat membangun hidup bersama dalam pernikahan.

Proses jatuh cinta itu menjadi indah dan bermakna untuk
kesejahteraan hidup selanjutnya, jika kita mampu menyeimbangkan
logika dan perasaaan, maka menghasilkan bukan saja cinta, tetapi
cinta kasih.

Kasih, merupakan pengikat yang sempurna dalam relasi cinta, bukan
saja antarpasangan, tetapi juga antarindividu. Cinta kasih bisa
digambarkan melalui, apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan
tanpa paksaan, tanpa tekanan dari pihak lain. Cinta kasih bukan ego
yang menuntut, tetapi suatu penyerahan kasih sayang dengan kerelaan
hati.

Cinta kasih membantu seseorang untuk menahan segala tekanan yang
dialami dalam pernikahan. Cinta kasih mampu membuat seseorang
menaruh kepercayaan kepada yang lain.

Cinta kasih mampu memaklumi seseorang pada saat orang yang kita
kasihi sedang lemah dan berbuat salah. Orang yang mencintai dengan
segenap batinnya akan senantiasa memberi kebebasan untuk orang yang
dicintainya, memilih dan memiliki kebahagiaan dengan caranya
sendiri.

Banyak orang terjebak ingin menguasai kekasih, membatasi
pergaulannya, mengatur seleranya berbusana, atau malah berkebalikan
yakni menjadi pihak yang selalu mengalah, berbuat apa saja yang
diharuskan sang kekasih. Kondisi seperti ini, memberi makna bahwa
kita belum siap memberi dan menerima kedatangan 'cinta' di mana
masing-masing pihak masih bersikeras menggunakan cara sendiri.

Cinta Tidak Buta

Kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa cinta itu tidak buta,
tetapi nafsulah yang buta. Di sinilah terlihat beda antara cinta dan
nafsu. Banyak pernikahan terjadi didasari nafsu ketertarikan
seketika, tetapi diberi label 'cinta'. Maka, lahirlah kalimat, cinta
pada pandangan pertama!

Waktu kita jatuh cinta, segala hal yang negatif disembunyikan.
Sejalan dengan waktu, hal yang tersembunyi ini menjadi masalah di
kemudian hari, ketika tak ada tempat lagi untuk menyembunyikannya.

Suatu ketika kita sadar bahwa karakter pasangan kita banyak
kekurangan sehingga membuat ketidakcocokan hidup bersama, lalu
masalah lain pun menumpuk. Apakah persoalan relasi antarpasangan itu
tadi bisa diatasi dengan cinta belaka? Faktanya, cinta tidaklah
seajaib itu. Maka, cinta saja tidak cukup. Harus menjadi cinta kasih
untuk lebih kuat.

Cinta tidak melenyapkan semua masalah. Banyak orang berpikir, jika
kita mempunyai cinta, maka segala masalah akan teratasi. Seakan-akan
cinta itu obat bagi segala penyakit relasi. Cinta hanya bisa membuat
sepasang kekasih lebih berani dalam bertindak dan tahan dalam
berjuang menghadapi masalah yang ada.

Sangat berbahaya bila kita jatuh cinta berdasarkan menyukai kekasih
hanya sebatas fisik, walaupun kita sadar, banyak hal dari dirinya
yang kita tidak suka, tidak cocok. Jika kita tergila-gila kepada
seseorang hanya karena senang ketika kontak fisik, maka itu bukan
jatuh cinta, tetapi hanya nafsu belaka.

Cinta yang tidak buta, sadar akan kekurangan kekasihnya tetapi
karena ada cinta di hatinya maka dia bisa mengatasinya dengan
berusaha menerima dan memberi toleransi yang besar dengan harapan
sang kekasih bisa berubah. Berdasarkan perasaan cinta yang besar,
maka keinginan-keinginan tersebut, haruslah didasari dengan maksud
baik.

Cinta yang tidak buta, tidak akan memberitahu kekurangan kekasih
dengan geram, marah membenci, cinta tidak merasa jijik, cinta tidak
mencaci, dan mengungkit-ungkit masa lalu. Tetapi, dengan cinta kita
mengingatkan, memberi nasihat, memberi ruang agar sang kekasih
menyadari keburukannya, dan mau berubah karena kesadarannya sendiri.

Nafsu bisa membutakan! Banyak orang yang menjalin hubungan dengan
penuh nafsu, sangat tergila-gila dengan kontak fisik, kecanduan seks
pranikah, maka saat menikahinya, menerima saja kekurangan
kekasihnya, tanpa keinginan memperbaiki. Hubungan yang didasari
nafsu akan cepat jenuh, ketika kekurangan sang kekasih, semakin hari
semakin terlihat dan kita lebih kritis untuk menuntut perubahan.
Ketika perubahan tidak juga didapat kita mengkhayal akan datang
orang lain yang menggantikannya dan berusaha meninggalkannya. itulah
akhir dari pernikahan yang berlandaskan nafsu bukan cinta kasih.

Pernikahan memungkinkan bagi banyak pasangan untuk saling melayani
dan saling mengasihi dengan demikian pernikahan makin dikekalkan
oleh cinta kasih, sama-sama berusaha menjadi pemberi kebahagiaan
pada masing-masing pasangannya.

Sama-sama menghargai kekurangan yang ada, dan sama-sama memberi
waktu untuk memperba- iki diri, tidak gengsi untuk meminta maaf jika
berbuat salah.

Sumber: Fenomena Jatuh Cinta, Proses Kematangan Jiwa yang Lengkap
oleh Lianny Hendranata. Penulis adalah psikiater.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun