Senin, 03 Agustus 2009

Hilangkan Kunci Kontak Kena Denda Rp 5,5 Juta

Putar-Putar di Ibu Kota Amerika dengan Menunggang Segway (2-Habis)

Hilangkan Kunci Kontak Kena Denda Rp 5,5 Juta

Segway dipromosikan sebagai kendaraan masa depan yang mudah dikendarai. Tapi, tetap perlu latihan agar pengendaranya bisa berdiri seimbang dan tidak gugup.

DOAN WIDHIANDONO, Washington DC

SAAT pertama muncul sekitar tujuh tahun lalu, segway memang langsung mencuri perhatian khalayak. Banyak yang menyebut kendaraan ini "ajaib" karena dianggap antigravitasi. Mereka percaya segway adalah alat transportasi personal masa depan.

Namun, tidak sedikit pula yang mencibir dan meragukannya. Ini lantaran bentuknya yang aneh. Betapa tidak, segway hanya berupa dua roda yang dihubungkan dengan as lantas diberi ''tongkat'' untuk pegangan pengendara. Secara logika, kalau tidak bisa menjaga keseimbangan, orang pasti terjengkang ke belakang atau ke depan kalau naik segway.

Itulah ajaibnya. Kendaraan ciptaan Dean Kamen itu dilengkapi sensor keseimbangan bernama gyroscopic sensors yang membuat segway bisa mencari keseimbangan sendiri. Kalau berat pengendara condong ke depan, segway akan menggelinding maju. Begitu juga sebaliknya.

Produsen kendaraan itu, Segway Inc. yang bermarkas di New Hampshire , Amerika Serikat, menyatakan kendaraan itu mudah digunakan. Mereka bahkan berani berpromosi tidak perlu mengikuti pelatihan secara profesional sebelum melaju dengan segway.

Kenyataannya, seperti yang terjadi di City Segway Tour , Washington DC , setiap peserta harus berlatih dulu sebelum memulai tur. Mereka harus datang sekitar setengah jam sebelum tur. Setengah jam itu dipakai untuk mengisi kembali biodata plus tanda tangan tidak akan komplain jika terjadi kecelakaan dalam tur.

Peserta juga diharuskan meninggalkan kartu kredit di kantor City Segway Tour. Itu garansi agar bisa langsung mengganti kerusakan segway seandainya ada kecelakaan. Penggantian terbesar adalah kalau menghilangkan kunci kontak segway yang bentuknya mirip pager, alat komunikasi sebelum era handphone. Harganya USD 500 atau sekitar Rp 5,5 juta.

''Memang, alat ini mudah dikendarai. Tetapi, kami tetap wajib memberikan beberapa instruksi keselamatan. Sebab, mudah dikendarai juga bisa berarti mudah jatuh,'' kata Scott Maucher, salah seorang staf City Segway Tour yang memandu tur.

Hari itu, Washington DC begitu ''suram''. Langit kelabu plus kabut tipis yang turun hingga sejengkal di atas tanah. Dingin dan basah. Dalam suasana itu, ada 18 orang yang ikut tur. Sepuluh pria dan delapan wanita. Hanya saya yang dari Indonesia .

Ada dua macam pelatihan yang diikuti para peserta. Yang pertama adalah menonton video pendek berdurasi 6,5 menit. Video itu menayangkan spesifikasi segway, kelebihannya (fleksibel, tidak berisik, mampu bermanuver lihai, bisa berjalan di banyak medan ), pantangan-pantangannya (overspeed, jalan yang curam, jalan terlalu bergelombang, jalan licin), hingga tip-tip mengendarainya.

Sebagian video itu berisi gambar animasi. Misalnya, animasi orang terpelanting saat segway melewati gundukan cukup besar. Atau gambar orang jatuh lantaran overspeed membuat segway mengerem sendiri secara otomatis. Peserta tur tertawa-tawa saat melihat gambar orang-orang jatuh itu. Namun, tawa itu sedikit tertahan saat mereka harus mencoba segway sebelum berjalan-jalan mengelilingi Washington DC .

Pagi itu, peserta tur dibagi tiga grup. Kelompok saya delapan orang. Wanitanya tiga. Pemandunya adalah Scott Maucher, anak muda yang sangat friendly dan kocak.

Sekeluar dari kantor City Segway Tour, kami harus menyeret segway yang bertenaga baterai (di-charge lima jam untuk pemakaian 10 jam) ke trotoar lebar di seberang kantor kecil itu. ''Seret saja. Seperti Anda menyeret gerobak, pemotong rumput, atau menyeret kantong mayat,'' katanya disambut tawa peserta tur. Tawa itu menghangatkan udara ibu kota Amerika Serikat yang sedang disiram hujan rintik-rintik halus tersebut.

Dan ternyata, tawa peserta tur saat melihat video itu benar-benar lenyap sesaat ketika kami mencoba menaiki segway. Saat latihan itu, segway pertama yang di-on-kan adalah milik Scott. ''Kalau jatuh, biar punya saya yang rusak,'' ujar pria berambut keriting itu.

Latihan pertama adalah berdiri pada segway. Pertama-tama, setang dipegang oleh Scott. Setelah itu dilepas sekitar tiga puluh detik. Saya merasa sedikit tegang ketika itu. Sebab, saya membayangkan berdiri pada dua roda yang sewaktu-waktu bisa terguling. Saya membayangkan, George W. Bush pun pernah jatuh saat mencoba segway pada 2004. Apalagi saya. Kalau jatuh, sakitnya mungkin tidak seberapa. Namun, malunya itu...

''Get the feeling. Feel it,'' ujar Scott kepada setiap peserta tur yang berlatih berdiri di segway. Mendapatkan rasa yang pas itu memang penting. Sebab, orang memang tidak bisa berdiri diam total pada kendaraan ''ajaib'' itu. Segway akan selalu bergoyang-goyang, rodanya bergerak-gerak halus ke depan dan ke belakang.

Jadi, setiap berdiri, orang pasti akan berayun-ayun ringan. Semakin orang itu tenang, ayunan akan semakin tenang. Jika orang itu gugup sehingga badannya terus bergerak, segway juga akan ikut bergerak ke depan-belakang mengikuti keseimbangan penunggangnya.

Benar juga. Tak perlu lama untuk ''berkenalan'' dengan segway. Tak sampai lima menit, orang-orang sudah got the feeling dan felt the touch. Rata-rata sudah bisa stabil berdiri pada segway.

Setelah itu, mereka harus berlatih maju, mundur, dan berputar. Secara teori, segway mengikuti beban condong tubuh. Kalau tubuh condong ke depan, segway maju. Kalau tubuh condong ke belakang, segway mundur.

Namun, yang disebut condong itu ternyata bukan membungkuk, menunduk, mendorong, atau menarik setang, maupun men-jentit-kan pantat. ''Kalau Anda ingin maju, tekan ujung kaki seperti mau berjinjit. Kalau ingin mundur, tekan tumit,'' ujar Scott. Kalau berbelok, baru setangnya yang dimiringkan.

Ternyata, gampang sekali. Lama kelamaan, segway itu seolah-olah ''berjalan sendiri'' sesuai dengan keinginan penunggangnya. Tak perlu menjaga keseimbangan, berjinjit atau menekan tumit pun menjadi tidak terasa. Seolah-olah kita mengapung pada permukaan aspal dengan kendaraan yang tidak berbunyi.

Memang, tidak seluruh peserta tur langsung melaju secara mulus. Sekitar setengah jam pertama, masih ada yang tampak ragu-ragu berjalan. Keraguan tersebut memang sungguh-sungguh kentara. Jalan segway menjadi tidak lancar, seperti tersendat-sendat, mendut-mendut. Namun, itu tidak berlangsung lama.

Latihan di trotoar itu berlangsung sekitar seperempat jam. Setelah itu, rombongan saya menempuh ''etape pertama'' menuju Gedung Putih. Jaraknya sekitar tujuh blok, ditempuh sekitar 10 menit. Cukup lambat. ''Kendaraan Anda saya setting sebagai turtle mode (mode kura-kura),'' gurau Scott. ''Saya tidak mau Anda terpelanting karena segway terlalu cepat. Dan biasanya, tiap kali tur, ada satu atau dua anggota rombongan yang jatuh,'' tambahnya.

''Turtle mode'' itu hanya disetel hingga Gedung Putih. Di depan kediaman presiden itu, Scott men-setting segway peserta tur pada batas kecepatan yang lebih tinggi. Setting itu dilakukan pada kunci kontak masing-masing kendaraan. Setelah itu, segway pun bisa melaju lebih cepat. Sekitar 15 kilometer per jam. ''Ingat, jangan terlalu cepat. Sebab, segway bisa mengerem sendiri. Anda bisa jatuh nanti,'' ujarnya.

Dengan kecepatan lebih tinggi, rombongan berjalan menembus kabut Washington DC , mengunjungi sejumlah tempat wisata. Di setiap tempat wisata, Scott berbicara panjang lebar. Tentang sejarah tempat itu, tentang hal-hal unik yang terjadi di tempat tersebut, hingga saran apakah orang harus mengunjungi tempat tersebut atau tidak.

Selama ini, segway disebut sebagai kendaraan yang tahan segala medan dan cuaca. ''Segway juga bisa berjalan saat hujan. Meski hujan, kami pun tetap mengadakan tur. Ini kendaraan yang tahan banting,'' ujarnya.

Scott memang benar, segway tahan cuaca Washington yang dingin pagi itu. Pengendaranyalah yang tidak tahan. Pipi dan jari-jari serasa membeku saat kami memacu segway pada kecepatan agak tinggi. Karena itu, Scott memutuskan beristirahat di tengah-tengah tur, di depan Smithsonian Air and Space Museum . ''Silakan Anda menghangatkan diri di dalam museum. Saya tahu, Anda ingin ke toilet,'' katanya. Benar, di museum yang tidak menarik karcis masuk itu, seluruh peserta tur langsung menghambur ke dalam. Sebagian besar menuju toilet.

Dari museum, perjalanan diteruskan ke arah timur, menyusuri Pennsylvania Avenue, menyambangi Gedung Capitol, Ford Theatre (tempat terbunuhnya Abraham Lincoln), hingga kembali ke City Segway Tour sekitar jam 13.00.

Seperti promonya, tur itu benar-benar menyenangkan. Bukan hanya lantaran kami bisa mengunjungi tempat-tempat wisata elok. Namun, sambutan warga yang begitu meriah membuat peserta tur begitu bersemangat. ''Saya jamin orang pasti menoleh saat Anda lewat,'' kata Scott.

Jaminan itu terbukti. Meski sudah modern, sebagian orang Amerika ternyata masih takjub pada segway. Banyak yang menoleh rombongan tur kami yang sedang melintas. Ada yang melambai-lambaikan tangan, ada yang memotret-motret, ada juga orang yang bertanya-tanya tentang teknik mengendarai segway saat rombongan berhenti.

Hari itu Scott mengaku puas. Sebab, tidak ada satu pun di antara kami yang jatuh. (el)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun