Kamis, 20 September 2007

Zona Kenyamanan

Tetanggaku begitu marah melihat ada mobil parkir di sisi jalan, dan motor di seberangnya sehingga menghalanginya lewat jalan tersebut. Adikku sebenarnya tidak berniat parkir lama, karena hanya sekedar mengambil STNK yang tertinggal. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa di tolak, akhirnya ucapan-ucapan marah meluncur dari mulut tetangga.

"Parkir itu harus pada tempatnya, jangan sampai menghalangi lalu-lintas, Titikk..!!", apapun alasan yang diberikan, kalau nafsu amarah mendera umat, tak bisa lagi dibendung, sumpah serapah akan meluncur dengan enaknya, seenak meluncur dengan papan peluncur pada musim salju.

Karena di Indonesia salju tidak ada kecuali di Gunung Jaya Wijaya, itu juga adanya pada puncak Cartenz, akhirnya sebagai pelampias adalah umpatan "kebon binatang", seluruh nama binatang kalau mau diabsen turut serta dalam menyemarakan kata amarah kita.

Kisah diatas adalah kisah nyata, drama sebabak yang terjadi dalam kehidupan. Masih banyak cerita lainnya akibat masalah kecil atau "tetek bengek" menjadi prahara yang mencekam.

Dalam rutinitas hidup yang dijalani, mahluk hidup memiliki zona nyaman tertentu, demikian juga dengan binatang.

Zona nyaman adalah daerah nyaman, dimana di tempat itu kita merasa nyaman, merasa aman dari gangguan mahluk hidup lainnya.

Zona nyaman individu itu, masing orang per seorang berbeda. Secara subyektif atau serampangan, untuk melihat zona kenyamanan bisa dilihat dari interaksi seseorang pada saat berkomunikasi dengan lainnya. Contohnya, jarak nyaman seorang direktur pada bawahannya biasanya berbeda dengan jarak nyaman seorang bawahan dengan sesamanya.

Pengalamanku, bila bergabung dengan kawan-kawan supir kendaraan di ruang tunggu supir akan sangat mudah berinteraksi, bahkan tanpa berkenalan kita bisa ngobrol langsung mengikuti irama yang diobrolkan, sangat berbeda dengan tempat yang berkelas eksekutif apalagi VIP (Very Important Person). Di ruang VIP masing-masing individu nyaman dengan dirinya, di sana ada jarak antara satu orang dengan lainnya, andai kita mau berbicarapun ada etiket yang mengatur.

Seorang komunikator yang ulung biasanya memahami bagaimana cara menaikkan atau menurunkan level zona kenyamanannya, melalui simpathi atau empathi. Ada peribahasa yang bisa diikuti sebagai acuan "Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah".

Demikian juga dengan martabat manusia di hadapan Tuhan adalah sama, hanya saja terkadang kita membedakan seolah-olah ada beda derajat diantara kita, derajat orang miskin, derajat orang kaya, derajat pembantu, derajat majikan ataupun seperti yang biasa disebut dalam segmentasi pemasaran.

Dalam kehidupan pribadi saya, level zona kenyamanan saya bisa mencapai 3 cm, pada saudara-saudara atau sahabat, dengan bersalaman dan berangkulan, menjauh 30 cm, bersalaman dengan kawan atau atasan, dan dadah melambaikan tangan .. 13 meter jika bertemu tetangga atau kawan yang dikenal dan lari menjauh 30 meter jika dikejar anjing.. toloooOONG..!!

Salam,

Ferry D.