Kamis, 19 Juli 2007

Jawara Dunia Bulutangkis Coba Bunuh Diri


Malam ini aku melihat salah satu channel televisi swasta yang mempromosikan akan ada acara wawancara percobaan bunuh diri oleh salah satu mantan juara dunia bulutangkis. Acaranya sendiri aku belum sempat menontonnya, hanya saja masalah yang menimpanya itu membuat empathyku bekerja mencari tahu bagaimana solusinya. Cinta membuat manusia bisa putus asa, cinta tidak pernah memandang bulu, walaupun terhadap atlit bulutangkis sekalipun.


Kenapa sampai terjadi jawara yang sehat jiwa dan raganya itu mau mengakhiri hidupnya dengan ber'hara kiri'? Mana kemujaraban peribahasa latin "Mensano in corpore sano" dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat?


Bukankah keinginan bunuh diri itu karena jiwanya rapuh? Ibaratnya laba-laba yang membuat sarang di raket tak bersenar, menganggap apa yang dia buat cukup kuat menahan serangga atau apapun yang datang siap dimangsanya, sial ketika datang shuttle cock hancur luluh sehingga sarang laba-laba tak bersisa. Mental bisa juara, tapi jiwanya rapuh digoncang takdir.

-o0o-

Sebenarnya apa sih yang dicari dalam kehidupan kita? Manusia hidup dalam penderitaan dan kematian. Kenikmatan yang dirasakan tak bisa menerima realitas ini. Sarana kesenangan kita adalah tubuh atau raga, tubuh pula merupakan sasaran dari rasa jenuh, putus asa, penyakit dan kematian.


Kita hidup umumnya tidak memiliki sistem nilai kebudayaan dan spiritual yang merukunkan kesetimbangan jiwa dan raga, kita dengan tubuh. Kita tidak diajarkan bagaimana tata cara mengabdi. Kita memuja tubuh kita, tapi tidak menyucikannya. Pada dasarnya pola hidup yang dianut itu seperti pola kerja tanpa kesadaran, berusaha untuk memuaskan ego, membeli apa yang kita inginkan, mencintai orang seperti keinginan kita. Kita teledor, masih ada eksistensi diri yang tidak diperhatikan, kita mencoba memenuhi hasrat tapi melupakan makna hidup.


Walaupun Tuhan bisa disingkirkan dari memori, tapi hakikatnya tidak bisa, karena diam-diam ada ketegangan dalam jiwa, ada rasa dosa, kalaupun kita percaya telah mereguk rasa nikmat dan bahagia, ada satu tanya muncul dalam benak, apakah ini nyata? Berapa lama ini akan berlangsung?

Selalu fokus pada ego atau diri sendiri sama saja menyembah diri "berego musyrik". Berbeda dengan orang yang mampu menghilangkan diri yang palsu (fana), sebagaimana lazimnya dalam peribadatan yang tulus, dimana individualitas yang sejati muncul, disini tidak terjadi ketegangan karena manusia utuh bertemu dengan sesama manusia utuh lainnya.


Definisi cinta, cinta adalah proses yang tumbuh dan berkembang. Cinta adalah kekuatan yang akan menyembuhkan dari rasa kebersalahan hidup dan mengangkat derajat ke makna baru. Jadi kenapa harus bunuh diri karena cinta? Untuk memahami cinta kita harus bekerja sama dengan cinta itu sendiri. Muara cinta adalah hati, berarti Sang hati perlu mendapat pencerahan atau pelatihan agar mampu menerima berbagai cobaan.


Hati yang sadar mudah menerima pesan dari Dzat Yang Wujud, dan siap dibimbing oleh Dzat tersebut. Ketika hati tersucikan ia mengadakan hubungan dengan ruh, daya kemampuan yang baik dan mulia dari jiwa terbuka, kemanusiaan kita yang suci mulai tampak. Selanjutnya, secara bijak kita dapat menyatukan kehendak diri yang terisolasi dengan kehendak Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang melalui pengetahuan tentang hati.

Tuhan telah menciptakan manusia dalam proporsi yang sempurna, dan meniupkan ruhnya dalam diri kita. Namun, karena kita menjauhkan diri dari Dzat Yang Wujud, maka membuat kesetimbangan "dunia" rusak. Tubuh, pikiran dan ekologi tidak nyambung, sehingga terjadi penolakan terhadap sifat esensial atau fitrah kita.


Manusia memiliki kapasitas yang luar biasa, yaitu dengan pasrah diri secara total kepada Dzat Yang Wujud, dengan pengaktifan rasa pasrah ini kita akan terlepas dari putus asa dan patah arang, ataupun putus nyawa dari badan, inilah kata kunci yang dicari sang oleh jawara. Semoga saja dia menemukannya...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun