Senin, 26 November 2007

Mendaur Hobi Mendulang Uang

Oleh : Steven Agustinus

Untuk mengubah hobi yang kita miliki menjadi keuntungan secara material, hal pertama yang dibutuhkan adalah kreatifitas. Setiap orang pasti memiliki hobi, tapi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah kreatifitas untuk mengubah hobi menjadi sebuah keuntungan tersendiri. Jadi, untuk itu dibutuhkan kreatifitas yang di atas rata-rata.


Yang kedua, tentu saja sense of business yang cukup tajam, sehingga kita bisa melihat peluang apa saja yang terdapat dalam hobi yang kita miliki, yang akan bisa menghasilkan keuntungan secara material bagi kita secara pribadi. Selain itu, kita juga membutuhkan marketing plan (perencanaan) dan promosi, sehingga apa yang kita pasarkan dari hobi tersebut bisa diketahui banyak orang.

Orang yang kreatif adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menanggulangi segala kendala/halangan/kesulitan yang ia miliki, supaya dia bisa tetap diuntungkan dari situasi atau keadaan yang ada. Saya mendapati bahwa kreatifitas bisa membuat seseorang selangkah lebih maju dibanding orang-orang lain. Kreatifitas ini juga yang membuat orang-orang jaman batu dulu bisa menciptakan alat-alat untuk bertani, bercocok tanam ataupun berburu, sehingga mereka sanggup bertahan hidup.

Jadi, kreatifitas ini sebetulnya dimiliki oleh semua orang, hanya mungkin belum terasah. Itu sebabnya kita sering mendapati adanya pelatihan yang diadakan khusus untuk mengasah intelegensi kreatif yang kita miliki, sehingga kita bisa menjadi lebih kreatif dari sebelumnya. Sebagai contoh, dalam memandang sebuah masalah, seringkali kita seperti ‘terbelenggu’ oleh masalah yang ada, sementara orang-orang yang memiliki kreatifitas tinggi akan segera berpikir ‘out of the box’. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang masalah yang dihadapi untuk membuat hobi kita menghasilkan keuntungan material, kreatifitas menjadi salah satu senjata utama yang harus kita miliki.

Tips untuk mengasah kreatifitas
Tips yang dapat diterapkan untuk mengasah intelegensi kreatif antara lain: belajarlah untuk melakukan hal-hal yang biasa Anda lakukan dengan cara yang berbeda. Contoh: mungkin selama ini Anda selalu menempuh jalan yang sama ketika berangkat dari rumah ke sekolah atau ke tempat kerja. Nah, cobalah mencari jalur alternatif lain, meski jalur itu sedikit memutar. Hal itu akan melatih kita untuk melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda, sehingga tanpa sadar, kemampuan berkreasi pun bisa mulai dikembangkan.

Saya mendapati, hobi yang bisa diubah menjadi hoki biasanya akan dikerjakan dengan sukacita, karena kita menyukai dan menikmati apa yang kita kerjakan. Contohnya Michael Jordan; ia memang suka bermain basket, tetapi ia tidak sekedar menikmati permainannya. Ada orang yang bahkan mau membayar permainan basketnya itu. Artinya, hobi yang ia miliki telah berhasil mendatangkan hoki bagi dia, dan bahkan menjadi sumber income terbesar dibandingkan dari pekerjaan lain yang ia miliki.

Berbicara tentang pentingnya memiliki sense of business, memang tidak semua orang memiliki sense of business yang bagus. Itu sebabnya terbukti bahwa hanya sekian persen dari jutaan masyarakat Indonesia yang memiliki spirit of entrepreneur; rata-rata orang lebih suka menjadi pegawai atau karyawan biasa yang menerima gaji setelah bekerja sekian jam atau minggu.
Orang-orang yang memiliki spirit of entrepreneur biasanya juga memiliki sense of business yang cukup bagus. Secara sederhana, saya bisa menjelaskan bahwa sense of business adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bisa melihat berbagai peluang bisnis dan memanfaatkannya, sehingga dapat menghasilkan keuntungan secara material. Untuk bisa memiliki sense of business yang tinggi, mau tidak mau kita harus belajar mengasah intelegensi visual yang kita miliki, di samping intelegensi kreatif tadi.

Seseorang yang tidak buta belum tentu memiliki intelegensi visual yang baik, karena meski bisa melihat, ia melihat secara pasif. Misalkan, di pojok jalan dekat rumah yang selalu kita lewati ada tempat tukang tambal ban, namun sekali waktu ketika ban motor kita kempes, kita kebingungan mencari tukang tambal ban, sehingga akhirnya kita harus menuntun motor cukup jauh, hanya karena selama ini kita tidak memperhatikan bahwa di dekat rumah kita sebetulnya ada tukang tambal ban. Itu sebabnya, hanya orang-orang yang bisa melihat secara aktif yang bisa dengan cepat (dan mudah) melihat peluang bisnis dalam hobi yang ia miliki.

Lalu, selain ketajaman intelegensi visual dan kreatif, kita juga perlu memiliki wawasan yang luas. Untuk satu jenis hobi, ada berbagai macam aspek yang bisa kita gali. Dengan menggali dan mencari tahu aspek apa saja yang bisa menciptakan peluang bisnis dari hobi kita, akan lebih cepat pula kita bisa merealisasikan peluang bisnis tersebut. Selain wawasan yang luas, lingkungan pergaulan kita pun perlu terus dikembangkan.

Kendala yang dihadapi
Pada dasarnya, setiap hobi yang kita miliki bisa dibisniskan, karena prinsip demand and supply akan selalu berlaku – di mana ada orang yang membutuhkan sesuatu, akan selalu ada orang lain yang berusaha untuk menyediakannya. Dari sinilah akan tercipta peluang-peluang bisnis, dan karenanya sense of business yang baik sangat dibutuhkan.

Akan tetapi, ada satu persoalan di sini; seringkali ada orang yang memiliki sense of business yang bagus, tetapi hanya terhenti pada sebuah ide dan tidak terealisasi sampai meraih keuntungan yang diharapkan. Penyebabnya seringkali adalah karena orang yang bersangkutan belum tertarik untuk menjadikan hobinya sebagai income tambahan maupun bidang usaha, atau karena ia tidak memiliki lingkup pergaulan yang luas sehingga tidak menemukan orang yang bisa menolong/mendukung untuk mewujudkan ide-idenya.

Penyebab lainnya adalah karena orang tersebut tidak memiliki modal, karena untuk merealisasikan ide menjadi sebuah peluang bisnis pasti dibutuhkan modal.

Penyebab lainnya lagi adalah karena orang tersebut tidak memiliki integritas. Kembali ke masalah modal, orang yang integritasnya sudah teruji tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari modal, karena akan selalu ada orang-orang yang dengan rela memberikan pinjaman, karena mereka percaya kepada kita.

Membuat marketing plan yang baik
Yang namanya usaha pasti perlu direncanakan dengan baik. Rencana untuk mewujudkan ide menjadi realita, dan rencana untuk membuat realita itu berkembang serta menghasilkan keuntungan yang terus meningkat, itulah yang dinamakan marketing plan. Secara sederhana marketing plan adalah sebuah rencana untuk memasarkan jenis usaha yang akan kita jalani. Semakin detil dan sistematis perencanaan kita, semakin besar peluang kita untuk berhasil.


Untuk membuat perencanaan pemasaran yang baik, pertama-tama pastikan produk yang Anda jual memiliki keunikan/keunggulan dibanding produk-produk lain yang sejenis. Misalkan, saya hobi bermain bulutangkis. Sambil berolahraga, saya mengamati bahwa di lapangan tempat saya biasa bermain bulutangkis belum ada kantin, sehingga orang-orang yang datang harus membawa minuman dan makanan sendiri. Dari sini saya melihat terciptanya peluang bisnis karena ada kebutuhan, dan saya mencoba untuk memenuhinya. Atau, kalaupun di situ sudah ada kantin, kantin yang ada dirasa belum cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang berolahraga di sana. Dari adanya kebutuhan itu, kemudian saya menghubungi pihak pengelola gedung dan menawarkan proposal saya. Setelah mendapat persetujuan, saya bisa mulai membuat ancang-ancang: apa yang akan saya jual (yang dapat membedakan kantin itu dari yang sebelumnya), dan membuat olahragawan yang bermain di lapangan tersebut memutuskan untuk jajan di kantin saya dan bukan yang lain. Itulah yang saya maksud dengan memiliki produk yang berbeda/unggul.

Tips kedua untuk membuat marketing plan yang baik adalah: kita perlu belajar mengenali target market atau calon customer, karena jika tidak, kita tidak akan pernah bisa menjual produk kepada mereka.

Tips yang ketiga, kita perlu menemukan orang-orang yang berpotensi untuk mempromosikan produk kita secara cuma-cuma kepada orang lain, atau orang-orang yang mau membeli produk kita dalam jumlah besar untuk dipromosikan. Untuk itu, adakalanya kita perlu membentuk tim promosi yang akan melakukan edukasi produk dan menjelaskan manfaat-manfaat yang akan diperoleh jika membeli produk tersebut, sehingga masyarakat luas bisa mulai mengetahui apa yang kita kerjakan.

Ada 2 kendala besar yang seringkali dihadapi: kendala secara internal dan kendala secara eksternal. Kendala internal di antaranya adalah jika seseorang tidak memiliki hobi atau tidak memiliki cukup waktu untuk menjalani hobi tersebut; tidak memiliki kemampuan untuk membaca peluang, membaca kondisi pasar dan mengelola bisnis. Ketidakmampuan untuk mengelola bisnis bisa menjadi masalah yang besar, karena yang namanya bisnis harus dirawat dan dikembangkan. Akibatnya, modal dan tabungan kita bisa ludes tanpa hasil, dan apa yang sudah kita investasikan menjadi sia-sia.

Untuk bisa menanggulangi hal ini, kita harus terus belajar mengembangkan kapasitas, mungkin melalui pendidikan formal (sekolah-sekolah bisnis) ataupun non-formal (belajar dari orang lain, meminta seseorang menjadi mentor). Kendala internal lainnya adalah karena orang tersebut tidak memiliki lingkup pergaulan yang memadai dan tidak berintegritas.



Lalu, kendala eksternal, antara lain mencakup kurangnya dukungan dari keluarga, kurangnya wawasan dan tidak adanya sarana dan prasarana untuk mewujudkan rencana yang kita miliki.

Persiapan yang harus dilakukan
Yang pertama, kita perlu mengenali potensi bisnis yang terdapat dalam hobi kita; di sinilah pentingnya memiliki wawasan yang luas. Dalam setiap hobi akan selalu ada peluang bisnis; pertanyaannya, apakah potensi bisnis itu cukup besar atau kecil?

Yang kedua, lakukan transisi, karena sekali lagi saya tekankan, yang namanya bisnis perlu dikelola/di-maintain, sementara mungkin saat ini hobi yang akan kita bisniskan itu belum menghasilkan apa-apa. Untuk itu, pastikan kita memiliki tabungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kita -- minimal untuk 6 bulan ke depan kebutuhan sehari-hari kita tidak akan terganggu, walau hobi yang kita bisniskan ini belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Dengan demikian, jika sekali waktu kita harus keluar dari pekerjaan untuk menekuni hobi lebih lanjut, perekonomian kita tidak akan mengalami masalah.

Yang ketiga, pastikan kita memiliki kemampuan untuk mengelola waktu dengan baik; jangan sampai pekerjaan utama terbengkalai hanya karena ingin mengembangkan hobi yang akan dibisniskan itu. Tanggung jawab dan pekerjaan tetap harus menjadi prioritas dan diselesaikan dengan baik. Ingat, integritas adalah segala-galanya. Jadi, bagi Anda yang saat ini memiliki pekerjaan tetap dan ingin mengembangkan hobi, pastikan Anda tetap dipandang oleh pemimpin sebagai orang yang berintegritas.

Selain itu, belajarlah mengenali tren yang sedang berkembang dan kompetitor yang ada dalam bisnis yang sama, dan mulailah membangun sistem dasar bisnis yang kita miliki. Misalkan: dari mana kita bisa mendapat pasokan bahan dasar dari barang yang akan dijual, supplier mana yang bisa memberikan harga yang paling murah, dan seterusnya, karena dengan begitu kita dapat memiliki bargaining power, dan semakin murah bahan bakunya, semakin besar profit margin yang bisa kita peroleh.

Lalu, jika kita membutuhkan tambahan modal, dari mana kita bisa mendapatkannya? Apa target yang ingin kita raih dalam 6 bulan pertama atau setahun? Bagaimana kita akan mengevaluasi hasil dalam 6 bulan pertama tersebut? Semua ini bisa dijadikan pertanyaan mendasar untuk dikaji dan dijawab terlebih dahulu sebelum kita membangun sistem dasar dari bisnis tersebut.

Dalam sebuah karya, idealisme adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Masalahnya, seringkali idealisme tersebut berbenturan dengan selera pasar. Seringkali kita tidak bisa langsung mendulang keuntungan yang besar jika idealisme yang kita miliki berseberangan dengan selera pasar, tapi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mulai mengubah selera pasar adalah melalui edukasi produk – kita mencoba menjelaskan produk yang kita miliki sehingga mulai dikenal, diterima dan disukai oleh pasar atau target market. Dengan melakukan edukasi produk, selera pasar pun dapat mulai mengalami perubahan. Contoh yang sederhana adalah apa yang dilakukan oleh Teh botol Sosro; pada awal mula Teh botol Sosro diluncurkan, hal tersebut sangat bertentangan dengan selera pasar, karena konsumen tidak terbiasa meminum teh kemasan (bukan teh yang fresh). Tapi, dengan berjalannya waktu, seiring edukasi pasar yang dilakukan oleh pihak pemasaran Sosro, selera pasar pun mengalami perubahan total -- sampai ada slogan yang berbunyi: ‘Apapun makanannya, minumnya teh botol Sosro’. Jadi, idealisme tersebut harus diimbangi dengan edukasi produk ke masyarakat.

Ada banyak sekali peluang yang Tuhan sediakan di sekeliling hidup kita. Selama kita terus berusaha untuk mengembangkan kapasitas, peluang apapun akan bisa kita raih. Karena itu, terus kembangkan kapasitas yang Anda miliki!