Kamis, 15 November 2007

Tombol Pengendali Rasa Lapar Telah Ditemukan

KapanLagi.com - Para ilmuwan Australia menemukan satu "tombol rasa lapar" yang dapat menimbulkan rasa lapar atau sebaliknya menghilangkan rasa lapar. Tombol itu berupa satu molekul yang menyampaikan sasaran kerjanya kepada otak.

Hal itu merupakan satu penemuan yang dapat menghentikan kondisi terus berkurangnya bobot tubuh pada pasien dengan sakitnya yang sudah parah dan memasuki tahap stadium akhir, atau sebaliknya dapat menurunkan berat badan pada pasien obesitas atau kegemukan.

Molekul tersebut dikenal dengan nama MIC-1 yang umumnya diproduksi oleh penyakit kanker dan molekul itu langsung ditujukan ke reseptor di otak sehingga dapat menghentikan rasa ingin makan atau rasa lapar.

Namun sebagai penangkalnya, para ilmuwan Australia juga telah menemukan bahwa dengan menggunakan antibodi yang bekerja melawan terhadap MIC-1, dapat mampu menghidupkan kembali rasa lapar.

Pada saat hewan percobaan tikus berbobot normal atau kegemukan diberi MIC-1 maka hewan percobaan itu mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dan mengalami penurunan bobot tubuhnya, sehingga menimbulkan pendapat bahwa MIC-1 dapat digunakan untuk menangani pasien obesitas atau kegemukan, demikian dikatakan oleh para ilmuwan dari Sydney.

Selanjutnya para ilmuwan tersebut berharap dalam waktu dekat MIC-1 akan dapat membantu penemuan cara untuk mencegah terjadinya penurunan bobot tubuh yang amat berlebihan pada pasien kanker .

Sam Breit dari Pusat penelitian Immunology dari St Vincent telah membuat kloning gen MIC-1 mengatakan ia yakin hasil penemuan tersebut membawa dampak yang besar bagi penderita kelainan yang berkaitan dengan rasa lapar .

"Menyuntikkan hewan tikus dengan protein MIC-1 membuat hewan tersebut berhenti makan sehingga membuka harapan bahwa penemuan itu dapat berguna dalam menangani pasien yang kelebihan berat badan," kata Breit.

Hasil penemuan MIC-1 dipublikasikan dalam majalah kedokteran edisi terbaru Nature Medicine dan kelompok peneliti yang dipimpin oleh peneliti dari rumah sakit St Vincent di Sydney itu, berharap dapat mengembangkan satu jenis antibodi pada manusia dan menjalankan uji coba klinis itu dalam beberapa tahun mendatang. (*/cax)