Jumat, 09 November 2007

PESAN DI DALAM DIAM

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, justru tercatat sebagai anak yang
bermasalah.Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala
sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak
tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar
di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu
inginkan ?" Dika hanya menggeleng."Kamu ingin ibu bersikap seperti
apa ?" tanya saya"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.Beberapa kali
saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari
pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya
kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil bersahaja namun penuh
keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (sangat cerdas)
dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang,
abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan
berkisar pada angka 140 - 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk
kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (rata-rata cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut.
Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk
mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi.
Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.Ketika
psikolog itu
menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku ...."Dika pun menjawab : "membiarkan
aku
bermain sesuka hatiku, sebentar saja"Dengan beberapa pertanyaan
pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan
kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak
ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu
menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle,
kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita,
kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika
perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu
luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah
dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar
sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang
begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana, diberi
kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak- kanaknya.

Ketika psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin
Ayahku ..." Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun
kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia
menuntutku melakukan sesuatu"Melalui beberapa pertanyaan pendalaman,
terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi
diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat
ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang
diperintahkan kepada Dika.

Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat
tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain,
menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya
dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu
justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam
banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja
keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya
inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.

Hampir- hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.
Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak
sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang
dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak...."
Dika pun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain.
Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah
dosa.
"Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya
untuk berbuat kesalahan.

Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus
diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan
tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur.

Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa
yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami
lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat
kesalahan yang serupa.

Ketika psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang....."
Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja".
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan
yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang
menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan
gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah
sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan.
Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ....."
Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahannya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak
pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf
kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana,
yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau
perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.
Ketika psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari...."
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar.
"Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan
memeluk adikku.

"Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya
sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya
salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak- anaknya seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih
kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap
hari....."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
"tersenyum"
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-
anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari
ayahnya setiap hari.Ketika psikolog memberikan kertas yang
bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...."

Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang
bagus."
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama
yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan.

Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan
Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang
berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole", kependekan dari
kata "Kontole" yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya
merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu
merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku...." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama
Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan
sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa
Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo,
tukang sayur keliling" kata suami saya.Atas jawaban-jawaban Dika yang
polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja
disebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak.

Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak
anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai
saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an
Obligation, not a Choise" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa
"Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.Dalam
diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah
anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-
kadang jengkel, ternyata ada banyak "Pesan yang tak terucapkan".

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak
ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak
memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para
ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-
anaknya.
Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.

(Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas)

Copyright @ 2004 SUARA MERDEKA