Senin, 11 Oktober 2010

5 Level Kepemimpinan Sejati

Oleh: Anthony Dio Martin

Sebuah perusahaan di Jepang, sedang merugi besar. Saham perusahaan juga anjlok karena perusahaan sparepart otomotif ini, terpeleset di bisnis properti.

Tanpa pengalaman, SDM yang andal serta ditimpa krisis dunia, perusahaan ini nyaris rontok. Saham perusahaan anjlok dan karyawan yang marah serta menyalahkan pimpinannya.

Akhirnya, pertemuan pimpinan dan karyawan dilakukan. Karyawan siap menye­rang, menjatuhkan si pemimpin mereka.

Saat si pimpinan masuk, tidak ada sambutan tepuk tangan dan penghormatan. Ketika diberikan kesempatan untuk bicara, si pimpin­an serta-merta berlutut ke lantai, membungkukkan badannya dalam-dalam dan berkata, "Saudara-saudara sekeluarga di perusahaan ini. Saya minta maaf. Saya sungguh ingin minta maaf. Saya mengambil keputusan salah yang menyebabkan saham perusahaan kita anjlok."

Namun, lanjutnya, jika diizinkan, saya akan melakukan langkah apa pun yang diperlukan untuk membangun kejayaan perusahaan kita kembali, saya bersedia membayar ongkosnya dengan kerja keras saya.

Serentak, semua karyawan tertunduk, ikut membungkuk dalam-dalam dan banyak di antaranya yang menangis!

Kisah di atas mirip de­ngan kisah yang diceritakan Martin L. Johnson dalam Chicken Soup for the Soul at Work, tentang CEO Pioneer Hi-Bred International, karena membeli Norand, sebuah usaha IT, mereka akhirnya justru rugi besar.

Hal yang tak pernah terlupakan bagi karyawannya, adalah tatkala, dengan rendah hati, Tom Urban, CEO-nya meminta maaf de­ngan tulus serta mengambil tanggung jawab atas kesalahannya. Itulah contoh-contoh kepemimpinan yang sungguh menginspirasi.

Pertanyaan paling pokok di sini adalah, bagaimana kita bisa sampai ke level kepemimpin­an yang bisa menginspirasi banyak orang?

John C. Maxwell, membagi kepemimpinan menjadi lima level yang harus dilewati. Menurutnya, jika kepemimpinan itu diibaratkan seperti anak tangga, terdapat lima tangga utama yang harus dilewati oleh para pemimpin­an di dalam organisasi.

Cobalah Anda evaluasi dan refleksikan, bagaimanakah posisi kepemimpinan Anda dan orang-orang di sekitar Anda, dan yang paling penting, coba perhatikan sampai di level manakah kepemimpinan Anda saat ini?

Level pertama, adalah level posisi (position). Inilah level kepemimpinan yang paling rendah. Pada dasarnya, orang mengikuti Anda karena 'kebetulan' mereka tidak punya pilihan sebab Andalah yang dipercaya untuk memegang posisi tersebut.

Pada level ini, otoritas seorang pemimpin hanya terbatas di posisi ini. Bawahan merasa hanya perlu berinteraksi sekadar untuk mendapatkan tanda tangan dan persetujuan.

Namun, di level ini, banyak bawahan tidak merasa dimiliki oleh atasannya, sehingga tak heran di belakang mereka sering mengata-ngatai bos mereka ini.

Saya pernah mendapatkan sebuah e-mail, dari seorang peserta pelatihan yang berkisah tentang bos-nya, "Pak, saya di perusahaan konsultan. Pimpinan saya diangkat karena jualannya bagus dan sangat pandai negosiasi."

Namun, lanjutnya, kami tidak pernah respek karena dia sendiri nggak pernah menganggap kami. Ia maju sendiri dan marah kalau dari kami ada yang kontak dengan pimpinan. Semua harus lewat dia. Di kantor, ia memiliki kami tetapi hati kami tidak bersama dia.

Pada kenyataannya, ada banyak pemimpin yang bertahun-tahun di posisi ini, tetapi tetap tidak pernah naik ke level berikutnya.

Nah, pada level kedua, adalah level di mana telah terjadi hubungan dan kesediaan (permission). Di sinilah orang mulai mengikuti bukan karena 'harus' tetapi karena mereka 'ingin'.

Di level inilah, pengaruh Anda sebagai pimpin­an mulai kelihatan. Sebenarnya, ketika memasuki level ini, sudah terjadi kontak batin serta mulai ada chemistry antara orang yang dipim­pin dengan yang memimpin.

Proses interaksi mulai terjadi dan hubungan pun mulai terbangun. Hanya saja, jika seorang pemimpin terlalu lama di tangga ini, bisa jadi ia menjadi sangat populer di mata bawahannya, hubungan baik tetapi hasil dan output-nya bisa kurang memuaskan. Itulah sebabnya seorang pemimpin tidak boleh terlalu lama di tangga ini.

Tangga kedua ini sebenarnya mengingatkan kita pada Edward Liddy, mantan Chairman dan CEO AIG, yang reputasinya anjlok setelah ia membagikan bonus besar kepada karyawannya.

Di mata karyawan mungkin saja tindakan itu dianggap populer, tetapi secara bisnis langkah ini tentu saja tidak strategis. Untuk selamat saja, AIG konon harus menerima dana bailout dari pemerintah AS sebesar US$84 miliar.

Berikutnya, level ketiga dari kepemimpinan adalah level menghasilkan (production). Kalau level kedua banyak berbicara mengenai pandang­an tentang Anda di mata karyawan level ketiga ini mulai berbicara mengenai pandangan Anda di mata manajemen.

Masalahnya, di sinilah orang mulai melihat bagaimana output team yang Anda hasilkan, setelah Anda mulai memimpin suatu tim. Jika seorang pemimpin sudah berhasil sampai di level ini, selain terdapat kontak batin yang baik antara pemimpin dan anak buahnya, juga terdapat hasil yang bisa dibanggakan.

Mengembangkan dan menginspirasi

Kemudian, level berikutnya adalah level pengembangan orang (people development). Di sinilah, seorang pemimpin tahu bahwa ia tidak bisa menjadi sukses sendirian, atau hanya dirinya yang mampu sementara anak buahnya bergantung adanya.

Dalam level inilah, maka seorang pemimpin mulai banyak meluangkan waktunya untuk melakukan proses coaching dan counseling ataupun mentoring untuk mendidik orang-orang di bawahnya agar mampu.

Sayangnya, banyak pemimpin yang terlambat sekali tiba di level ini. Baru-baru ini, dalam acara makan malam dengan seorang CEO yang sudah tua, dia mengatakan, "Pak Anthony. Saya agak terlambat menyiapkan orang-orang untuk menggantikan saya. Sekarang, saya sudah sakit-sakitan. Saya mulai membagikan semua ilmu yang saya miliki untuk orang-orang yang diproyeksikan akan memimpin bisnis ini di masa depan. Saya tidak tahu, apakah waktu saya masih akan mencukupi untuk itu"

Akhirnya, di ujung level kepemimpinan, terdapatlah level kepemimpinan yang tertinggi yang kita sebut sebagai level kepemimpinan yang sungguh menginspirasi.

Hebatnya kepemimpinan model ini setelah pemimpin tersebut tidak ada, ataupun telah lama meninggalkan dunia ini, semangat dan nilai kepemimpinannya masih dapat dirasakan.

Di sinilah, seorang pemimpin dapat menginspirasi seseorang dengan nilai serta filosofi hidup yang dimilikinya. Seperti kisah kita di awal tulisan ini, seorang pemimpin di level ini mulai menginspirasi melalui karakter, nilai dan perbuatan yang tidak diucapkannya. Namun, orang pada akhirnya akan melihatnya.

Menurut Maxwell, tidak banyak pemimpin yang bisa sampai di level kepemimpin­an ini. Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh kepemimpinan yang termasuk di kategori ini.

Boleh saja, ada orang yang membencinya hingga akhirnya ia ditembak mati. Namun, nilai dan filosofi hidupnya justru tetap tumbuh dan berkembang, jauh hari setelah dia meninggal. Itulah contoh kepemimpinan di level terting­gi ini.

Dengan memahami kelima level kepemimpin­an tersebut, ada beberapa pertanyaan yang akan saya tinggalkan sebagai pekerjaan rumah bagi Anda yang membaca tulisan ini: kira-kira sampai di level manakah kepemimpinan Anda saat ini?

Bagaimanakah pandangan tentang Anda di mata karyawan? Bagaimana caranya supaya kepemimpinan Anda bisa naik kelas ke level berikutnya? Lakukan sesuatu untuk membuat kepemimpinan Anda bermakna!



__._,_.___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun