Senin, 11 Oktober 2010

Antara Senang dan Susah

Belakangan ini Jakarta terasa lebih sejuk. Bikin hati dan pikiran
lebih adem. Hujan, sejatinya adalah berkah. Berkah buat alam semesta,
termasuk manusia sebagai penghuninya. Coba bayangkan, dengan hujan
maka .........:

* Tanaman yang tadinya kering kerontang, dedaunan dan rerumputan
yang semula agak meranggas, bunga-bungaan yang semula layu mendadak
memiliki gairah. Segar .... dan putik bunga merekah dan pucuk daun
mulai bermunculan.
* Tanah yang retak dan kerontang terlihat haus mereguk tetesan
hujan dan mulai terlihat padat dan menebarkan aroma kesuburannya.
* Sungai-sungai mulai terisi kembali dan mengalirkan arusnya yang
menderas, mengisi waduk, kaliu, rawa, dan mata air yang semula
mengering. PLN tentu tidak perlu ketakutan lagi bahwa PLTA nya
kekurangan pasokan air yang menggerakkan turbinnya.
* AC tidak perlu dipasang untuk menyejukkan ruang. Ini berarti
pengeluaran dana untuk rekening listrik bisa menurun. Tapi yang paling
penting .... ada pengurangan pasokan Freon ke udara. Semoga bisa
mengurangi besarnya lubang ozon, kalo para pencinta AC mau mengurangi
penggunaannya.

Tapi ..... ternyata sekarang hujan menjadi bencana. Coba tengok berita
di media layar kaca maupun media cetak. Beritanya hanya dari itu ke
itu. Banjir.... longsor .... dan banjir lagi. Tidak pernah bisa
tertangani dan alih-alih cakupan luas wilayah banjir berkurang,
ternyata luasannya malah semakin bertambah. Tidak saja di wilayah
dataran rendah, bahkan dataran tinggipun diterjang banjir. Jadi .....
hujan sekarang menjadi sosok yang dirindukan dengan hati yang penuh
rasa was-was. Takut dan memang sekarang sudah menjadi kenyataan bahwa
hujan menjadi bencana. Coba bayangkan ....

* Mendung membuat suasana hati menjadi sendu dan susah.
Membayangkan cucian pakaian susah kering dan berakibat bau apek.
* Penyakit mudah datang, dari mulai penyakit bawaan seperti asma,
juga DBD, diare, batuk - pilek .... wah jadi susah deh karena jadi ada
pengeluaran extra buat obat-pbatan.
* Banjir dimana-mana ... eh bahasa 'halusnya Genangan ...".
Hihks... hiks ... genangan kok ya sampe ketinggian 3 meter. Ada kota
yang separuhnya dilanda banjir. Bayangin deh, betapa roda ekonomi
langsung terhenti. Dalam kondisi krisis global begini, segala daya
upaya dan dana tersalurkan pada sektor yang "sia-sia". Nggak
produktif, karena pabrik dan industri rakyat tutup. Lahan pertanian
muspro ... karamba ikan hanyut, tambak apalagi .... Aduh hancur lebur
dan ludas sudah segala upaya dan dana.
* Hujan deras juga meluruhkan tanah dan bukit gundul yang dibabat
karena alasan ekonomi rakyat (kemiskinan) atau karena tata guna
tanahnya sudah berubah. Hutan/bukit hijau royo-royo sudah "dijual"
jadi lahan tanaman monokultur atau jadi kawasan tambang. Ini dampak
dari otoritas daerah yang mau menang-menangan dan kebablasan.

Eh ..... udah gitu, selalu ada "oknum" yang memanfaatkan bencana untuk
keuntungan diri sendiri. Dana bantuan kerap tidak tersalurkan dengan
baik kepada para korban, tapi dikutip atau disalurkan secara prioritas
kepada keluarga terdekatnya dulu yang kebetulan menjadi korban bencana
juga.

Lalu... siapa yang harus disalahkan? Kita cenderung mencari kambing
hitam. Padahal, kesalahan utama tentu saja ada pada manusia. Manusia
kota maupun manusia desa.. Kita sudah melakukan kesalahan dalam
memperlakukan alam. Telah mendzalimi ciptaan Tuhan. Alam bergerak
karena fitrahnya ... karena kodratnya dan selalu mencari
kesetimbangan. Kalau ada satu bagian yang "dirusak", maka dia akan
mencari kesetimbangan baru sesuai fitrahnya.

Alam tidak akan memilih-milih apakah kesetimbangan itu menjadi berkah
atau bencana bagi manusia. Alam tidak diciptakan Tuhan untuk
memberontak dan melawan kodrat yang telah ditetapkanNya. Alam hanya
mampu bertasbih dan tunduk kepada kehendak sang Maha Pencipta. Maka
manusia sebagai mahluk berakallah yang harus mempelajari dan
menerapkan segala perbuatannya dalam koridor kesetimbangan alam. Agar
segalanya berjalan sesuai dengan kehendak dan fitrah yang telah
digariskan oleh sang Maha Pencipta. Kalau kita memperlakukan alam
dengan baik, maka alam menjadi kawan yang sangat menyenangkan dan
memberi manfaat yang sebaik-baiknya bagi kita.

Hujan, adalah bagian dari alam, lingkungan hidup kita yang berperilaku
sesuai fitrahnya ... mencari keseimbangan. Penebangan pohon,
penggundulan hutan, eksploitasi pertambangan pada hakikatnya telah
merusak kesetimbangan alam. Penggunaan freon dan limbah industri telah
menimbulkan polusi udara telah merusak tatanan dan susunan atmosfir
bumi. Limbah industri dan limbah rumah tangga juga telah merusak
komposisi air baku yang natinya akan merusak pula komposisi uap air
yang kelak turun menjadi butiran hujan.

Allah menciptakan lapisan atmosfir agar gelombang sinar dan terik
sinar mentari dapat berkurang. Tatanan hutan sesungguhnya
diciptakanNya juga untuk menghambat "keganasan" terik mentari yang
kehausan dalam "menghirup" air. Agar kandungan air di dalam permukaan
bumi tidak terhisap oleh ganasnya terik mentari. Allah sudah
"memperhitungkan bahwa samudra raya sudah cukup luas untuk "memuaskan
dahaga" mentari. Agar manusia tetap dapat memperoleh air yang
berlimpah sebagai salah satu sumber kehidupan.

Namun, manusia memang lupa dan "sok tahu". Kepandaian dikembangkan
tanpa batas hingga seringkali melampaui batas moralitas dan kodrati.
Bangsa yang pandai membodohi mereka yang masih terkebelakang.
Perbuatan dan kerusakan di "negara maju" di limpahkan ke negara
"terkebelakang" dan dijadikan komoditi "bantuan dana" sebagai kemasan
pembodohan kepada negara "terkebelakang".

Lihatlah, betapa negara maju mengelak dari kewajiban untuk "mematuhi"
protokol Kyoto. Kemudian negara-negara khatulistiwa dengan gegap
gempita serta riang gembira masuk jeratan dan perangkap mereka.
Menjual polusi, menangguk uang dengan dalih penyelamatan lingkungan.
Adakah dana yang diperoleh tersebut kemudian digunakan untuk
memperbaiki lingkungan hidup di negara-negara terkait? Adakah dana
hasil transaksi penjualan emisi karbon tersebut kemudian digunakan
untuk "menghijaukan" kembali hutan, bukit yang gundul. Adakah
bongkahan-bongkahan tanah, bukit, gunung yang hancur karena
eksploitasi pertambangan terbuka dapat dikembalikan seperti semula dan
dihijaukan kembali agar alam menemukan kembali kesetimbangannya?

Jelas jauh panggang dari api. Dana penjualan karbon bisa jadi masuk
kantong para penmgusaha dan konsultan yang jeli melihat kesempatan
menangguk untung dari bisnis ini. Hutan, gunung tetap gundul. Kalau
ditanami, penanaman kembali lebih berupa transformasi hutan menjadi
lahan perkebunan monokultur yang tetap saja merusak kesetimbangan
alam. Karena ... binatang asli penghuni kawasan tersebut sudah
terlanjur punah. Kalaupun masih ada, maka binatang tersebut tidak akan
dapat hidup di dalam hutan monokultur dan tentu saja akan diburu para
penjaga hutan tanaman industri tersebut karena dianggap hama perusak.

Jangan salahkan alam atas bencana apapun yang terjadi. Banjir, longsor
atau lebih luas lagi pemanasan global. Sesungguhnya kita telah
mendzalimi alam dan sekarang "menderita" karena alam sedang mencari
kesetimbangannya yang baru. Dan sesungguhnya, alih-alih mencari dan
mendapatkan kesenangan, manusia telah menciptakan sendiri
kesusahannya, wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun