Jumat, 15 Oktober 2010

CERITA KEBESARAN HATI SEORANG SUAMI

Dadaku sempat berdegup dan terhenyak saat ku mendengar cerita yang begitu mengelitik jiwaku. Tanpa ku sadari beberapa butir air mata jatuh ketika mobil yang kukendari tiba di areal perparkiran gedung tempat menunaikan aktivitas keseharianku.
Andi (samaran) itulah namanya, memang seorang pria biasa dan dan tidak begitu populer di mata rekan- rekannya. Sebagai seorang yang memiliki posisi yang cukup penting dan strategis di perusahaan tempanya bekerja, seringkali Anda dianggap seorang yang kaku, tidak royal, tertutup, penampilan yang jauh sangat sederhana jauh berbeda sekali dengan seseorang yang menduduki posisi tersebut sebelumnya, dan sederet sikap yang kadang kurang disukai rekan kerja lainnya . Tak mengherankan bila beberapa rekan kerja termasuk bawahannya kadang mengeluh akan sikapnya. Sebagai orang yang memilliki profesi yang sama terkait dengan manusia dengan orang yang kukasihi, tak mengheran bila kami sering sharing dan diskusi bersama Aku memang sering mendengar tentang Andi dan sempat mempertannyakan mengapa sikapnya kadang demikian, meski aku berpikir sikap dan apa yang dilakukannya kepada orang lain masih dalam koridor toleransi yang normal. Meski aku mengenal dirinya tak sebaik istriku, aku merasakan aura kebaikan saat beberapa kali aku bertemu dan berbicara
dengannya. Entah mengapa hati kecilku mengatakan, sepertinya ada sebuah cerita tersembunyi dari dalam diri Andi. Tuhan memang Maha Kuasa dan Mengetahui, di pagi hari aku mendengar cerita yang begitu menyentuh dan menginspirasi hidupku.
Sudah dua tahun hingga kini Andi mesti merawat istrinya yang koma sejak istrinya yang tengah mengandung buah hati pertama mereka ditemukan tak sadarkan diri. Dokterpun tak kuasa untuk menangani dan terpaksa sang bayi harus dilahirkan premature karena kondisi sang Ibu yang diadiagnosa akan mengalami stroke. Tuhan Maha berkehendak, sang buah hati mereka lahir dengan selamat walau dengan berat yang tidak normal seperti bayi-bayi yang lahir pada umumnya, tetapi Sang Ibu hingga kini masih dalam keadaaan koma sejak awal tak sadarkan diri. Dalam kondisi demikian, Ibu Sang Bayi mesti terus terbaring dan membutuhkan penanganan khusus. Setiap hari Andi harus mengeluarkan 9 juta untuk merawat ibu bayinya, aku dapat membayangkan berapa sudah uang yang harus dibayarkan ke rumah sakit, membayar suster selama perawatan di rumah, kebutuhan perawatan lainnya seperti pampers minimal 2 kali diganti setiap hari, dan segala kebutuhan perawatan lainnya. Belum lagi hidung tempat mediasi makanan dan nutrisi dari sang istri tidak berfungsi, dan dengan terpaksa perut sang istri harus dilubangi untuk menyalurkan makanan.
Dalam kondisi yang demikian, aku sangat memahami bila jiwanya begitu terguncang di masa-masa awal cobaan yang menimpanya. Belum lagi kemarahan dan kecaman, dan perlakuan lainnya dari orang tua sang istri yang menilai dirinya yang tidak memperhatikan anaknya. Meski diketahui, sebelum mereka menikah dan setelah menikah sang istri ternyata sering mengkonsumsi obat sakit kepala yang itupun baru diketahuinya. Demi cinta yang begitu besar, Andi tak berpikir apapun selain berjuang agar istri dapat terus dirawat dengan baik, meski Andi rela melepas materi apapun yang dimikinya dan segenap keprihatinan hidupnya. Hatinya tak goyah walau sempat keluarga mempertanyakan kesetiaannya untuk tetap terus menjaga istrinya hingga akhir hayat. Baginya jiwa dan raga telah diberikan kepada sang istri tercinta dalam kondisi apapun.
Sebulan sekali Andi harus ke kota lain untuk menemani sang istri. (Dan aku pun mengenal pertama kali dengannya saat berada di executive lounge bandara untuk kembali ke Jakarta ). Dalam setiap kesempatan acara Andi selalu datang sendirian, tak mengherankan bila sebagian rekan-rekannya sempat beranggapan Andi punya wanita idaman lain karena alasan demikian. Saat ini Sang buah hati telah mengenal ayah bundanya dengan baik. Andipun dapat merasakan kontak batin dengan sang istri tercinta melalui air mata yang mengalir membasahi kedua pipi sang istri saat Andi pergi untuk kembali ke Jakarta untuk bekerja dan Sang buah hati turut menyapa sang Bunda.
Dua tahun sudah waktu berlaku Andi menjalani ujian dari Sang Pencipta, baginya saat ini dan mendatang, cukup sudah air mata mengalir dan bagaimana dia tetap terus dapat merawat dan menjaga istri tercinta serta membesarnya buah hati mereka dengan penuh kesabaran. Andi pun menyampaikan isi hatiya mengapa dia bersikap demikian pada orang lain untuk membiarkan orang lain menilai diri dan kesederhanaannya, dalam hidup kita tidak boleh pesimis dan mudah cengeng bahwa banyak cobaan hidup yang jauh lebih besar dari apa yang dimilikinya dan dimiliki orang lain, sebagai pekerja mesti harus bersyukur dan tidak boleh gampang mengeluh karena kita masih diberikan rizki dariNYA, dan tak perlu malu dengan keadaan diri (di tempat kerja sebelumnya sering dianggap tidak dapat memposisikan diri dengan jabatannya karena sering menggunakan angkot, ojek, dan alat transportasi umum lainnya)
Rasanya cerita cukup sudah dan bagiku sudah cukup membuat diriku tersentuh dan berpikir. Oh Andi, aku tak tahu apakah aku mampu bila aku berada di posisi mu. Semoga aku bisa memiliki kebesaran jiwa dan kehebatan sebuah ketabahan seperti dirimu. Dari cerita Andi, memberiku beberapa inspirasi nilai kehidupan bahwa :
1. Persepsi kita terhadap orang lain belumlah lengkap bila kita tak mengetahui dirinya secara menyeluruh “ The Map is Not The Territory”
2. Kehebatan sebuah cinta dan kasih yang tulus & ikhlas mampu membuat kita terus bertahan dalam kondisi dan benturan hidup, berkorban, dan menghempaskan ribuan kata negatif
3. Dengan simpati dan empati akan membuat kita menjadi lebih bijak dalam bersikap dan menilai orang lain (don't judge the book with the cover).
4. Untuk naik kelas menjadi manusia yang lebih baik & berkualitas, survival, dan kuat tentunya kita akan menjalani berbagai macam ujian kehidupan yang tidak mudah dan semakin tidak mudah.
5. Di balik setiap cobaan kehidupan tersimpan proses pembelajaran hidup.
Semoga kisah sejati Andi juga memberikan inspirasi teman-teman selain diriku.
Terima kasih.
Have a positive day!
Diceritakan oleh,
Mohamad Yunus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun