Senin, 11 Oktober 2010

Menatap 2010, Semakin Optimis!

Oleh: Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta



“We will open the book. Its pages are blank. We are going to put words on them ourselves. The book is called Opportunity and its first chapter is New Year's Day.”

-- Edith Lovejoy Pierce



POSTER berisi pesan singkat terpasang di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat beberapa hari menjelang pergantian tahun baru 2010. Isinya jelas, tidak bertele-tele: ‘2010: Semakin Optimis’. Tak hanya rakyat Indonesia , seluruh dunia pun sepakat untuk menatap tahun 2010 dengan penuh harapan dan optimisme. Dua hal yang telah lumrah menjadi resolusi setiap kali membuka lembaran tahun baru. Tetapi kali ini, dalam menyongsong tahun baru, harapan dan optimisme nampaknya lebih keras lagi didengungkan dari seluruh penjuru dunia. Hal itu bukannya tanpa sebab. Berbagai bencana yang menimpa umat manusia datang silih berganti sepanjang tahun 2009. Mulai dari bencana alam, bencana finansial, hingga bencana yang ditimbulkan oleh ulah keji manusia sendiri.



Bencana alam terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali di negeri sendiri. Badai salju yang menerjang Eropa di penghujung tahun menjelang natal yang telah menewaskan puluhan orang, seakan menutup tahun dengan penuh kepedihan. Menurut PBB, tahun ini diperkirakan 9 ribu orang tewas dan sekitar 58 juta orang lainnya mengalami kerugian yang tak sedikit akibat bencana alam yang terjadi: banjir, badai, gelombang panas, dan kondisi iklim ekstrim lainnya. Dalam sebuah kajian yang dipresentasikan di KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, banyak dari ke 245 situasi iklim yang ekstrim itu diakibatkan atau nantinya dapat diperparah oleh perubahan iklim.



Krisis ekonomi yang dimulai dari negeri Paman Sam masih terasa dampaknya hingga tahun 2009. Walau demikian, Indonesia patut bersyukur, bersama dengan Cina dan India, ekonomi Indonesia dianggap sebagai salah satu ekonomi yang paling stabil dan menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang positif dan perbaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan negara lain di dunia. Berpijak dari keadaan ekonomi tahun 2009, Pemerintah Indonesia pun optimis pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 akan mencapai 5,5%. Bandingkan dengan tahun 2009, dimana Pemerintah hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi 4,5%. Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2010 dapat mencapai 5,9 persen.



Sementara itu, bencana tak hanya disebabkan oleh alam. Bencana yang paling menyakitkan ialah bencana kemanusiaan yang disebabkan ulah tangan kotor manusia sendiri. Kedamaian dunia diusik oleh tindakan brutal bom bunuh diri di Timur Tengah dan negara-negara sekitarnya, serangan brutal di Nigeria, hingga kekacauan politik di Filipina, membuat dunia terasa jauh dari kedamaian.



Tak heran bila sejarah kelam sepanjang tahun 2009 dijadikan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia dan jangan sampai terulang kembali. Dan tak salah bila hampir seluruh pemimpin dan tokoh dunia ramai-ramai mengangkat harapan dan optimisme sebagai resolusi untuk menatap tahun 2010 dengan lebih baik.



Sambutlah tahun baru 2010 dengan lebih optimis. Penuh percaya diri dalam mengatasi segala persoalan yang menghadang. Tak lupa pula untuk selalu mensyukuri nikmat yang ada dan mengapresiasi setiap hasil dan jerih payah yang telah dilakukan, walau sekecil apapun.



Optimisme dalam menatap hari depan yang lebih baik, dan mengapresiasi apa yang telah didapatkan, tak melulu milik mereka kaum dewasa, yang memiliki profesi tertentu, atau yang tinggal di perkotaan. Tapi juga seharusnya dimiliki oleh generasi muda saat ini. Tengoklah Apep Nurhalim, 15 tahun, pelajar kelas VII SMP Negeri Jelegong, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis dalam menatap hari esok yang lebih baik. Setiap pagi Apep harus bangun pukul empat pagi dini hari. Jika telat bangun, Apep dipastikan terlambat masuk sekolah. Tak hanya Apep yang harus berjuang keras agar bisa sekolah di jenjang sekolah menengah di desanya, tetapi ada 27 teman Apep yang melakukan hal yang sama.



Mereka berangkat ke sekolah pukul lima pagi. Selama 2,5 jam, Apep dan kawan-kawannya harus berjalan kaki sejauh 7 km lebih agar bisa sampai ke sekolah. Sepanjang perjalanan, mereka harus berjalan kaki, naik turun gunung yang tentu saja memerlukan tenaga ekstra, serta melintasi dua sungai agar sampai ke tujuan. Mereka melakukan hal tersebut karena tidak ada angkutan umum yang melintas di desa mereka. Bila tidak turun hujan, untuk menyeberangi dua sungai itu tidak ada masalah. Bila hujan turun, apa boleh buat, mereka tak bisa ke sekolah karena bakal tak dapat menyeberangi sungai yang ketinggian airnya tak bisa dilalui. Jadi setiap hari, mereka harus berjalan kaki sejauh 14 km selama 5 jam. Mereka toh tetap melakukan hal tersebut, untuk sebuah alasan agar dapat bersekolah. Bukan hanya optimisme yang ditunjukkan oleh mereka, walau harus bersusah payah menempuh perjalanan jauh untuk menuju sekolah, tetapi mereka tetap bersyukur dapat bersekolah. Bayangkan berapa juta anak Indonesia yang belum beruntung karena tidak dapat bersekolah.



Songsonglah tahun baru dengan penuh keyakinan yang kokoh. Setiap pergantian tahun seringkali kita disarankan untuk melihat dan melakukan introspeksi atas apa-apa yang telah dilakukan di masa lalu. Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama secara berulang, buatlah hidup ini dengan terencana dan teratur. Buatlah resolusi Anda di tahun baru ini. Tetapkan target apa saja yang harus dicapai selama tahun 2010 ini. Tak perlu muluk-muluk, Anda harus mengukur kemampuan diri Anda sendiri. Dengan adanya target, setidaknya jalan hidup Anda lebih terarah. Karena ada sesuatu yang dituju. Kalaupun akhirnya target Anda meleset, tak perlu kecewa. Buatlah resolusi baru. Resolusi dibuat tentu tidak perlu menunggu tahun baru. Tetap semangat! Selamat Tahun Baru 2010!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun