Sabtu, 09 Oktober 2010

Ayo Menabung!

Oleh: Sonny Wibisono *

"Bing beng bang, yuk kita ke bank. Bang bing bung, yuk kita nabung. Tang ting tung, hei jangan dihitung, tahu-tahu kita nanti dapat untung."
-- Geofanny, Saskia, dan Titiek Puspa dalam 'Menabung'

ANTO pusing setengah mati. Yunita, anaknya yang paling besar naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Rankingnya pun dahsyat. Numero uno di sekolahnya. Tapi Anto tetap saja pusing. Keringat sebesar jagung meluncur di mukanya. Aneh benar. Anak pintar kok malah pusing.

Bukan kepintaran sang anak yang bikin pusing, melainkan karena ditagih janji. Saat memulai tahun ajaran baru, dia memang menantang anaknya agar giat belajar. Janjinya: dia akan membelikan sepeda, persis seperti yang dimiliki Sigit, tetangga mereka yang memang serba berkecukupan.

Anto yang hanyalah pegawai biasa di satu perusahaan, mengaku tak punya lagi uang. Seluruh penghasilannya, memang selalu tandas jauh sebelum tanggal di kalender bergerak jauh. "Bayar cicilan motor, tagihan listrik, dan rumah adalah pengeluaran terbesar," katanya masygul. Alhasil, tak ada jalan keluar, kecuali ngebon di kantor.

Semestinya hal itu memang tidak terjadi andai saja dia memiliki tabungan. Tapi, ya itu tadi, jangankan menabung, pengeluaran di masa sekarang, seperti air bah yang mengalir. Sedangkan pemasukan, sami mawon, tak berubah.

Di lain pihak, banyak produk keuangan yang menawarkan kemudahan untuk meminjam uang. Kartu kredit misalnya. Dia dapat menanggulangi kebutuhan mendesak di saat sulit. Atau juga pegadaian, yang kini muncul hampir di tiap sudut. Mereka menawarkan solusi kesulitan keuangan.

Hal ini menyiratkan bahwa menabung sepertinya sesuatu hal yang sulit. Alhasil, `Ayo menabung' boleh jadi hanya jadi slogan kosong. Namun, bukan berarti hal itu menabrak tembok. Kalaulah orang tua sulit untuk menabung, mengajarkan anak paling tidak bisa dilakukan.

Sedini mungkin sebaiknya memang kita mengajarkan menabung pada anak. Untuk setiap usia anak, mungkin berbeda cara mendidiknya. Bagi anak yang masih belum bersekolah atau masih di TK, kita dapat mengajarkan kepadanya bahwa tidak semua barang yang diinginkannya dapat dibeli. Misalnya saja, bila sang anak dibelikan mainan, maka ia tak dapat membeli es krim kesukaannya. Tak semua yang diinginkan sang anak harus pula dipenuhi. Misalnya saja ketika ia menginginkan telepon selular setelah melihat temannya memakai barang tersebut. Dapat dikatakan padanya, bahwa belum waktunya ia mendapatkan barang tersebut. Pada anak usia ini, kita dapat mengajarkannya untuk mengenal dan memegang uang. Sang anak, misalnya, dapat diajarkan untuk membayar langsung di kasir.

Bagaimana untuk anak yang bersekolah di SD? Pada usia ini, sang anak dapat diberikan uang untuk jajan dan secara bersamaan juga uang untuk menabung. Disini kita dapat mengenalkan celengan hingga konsep menabung di bank. Anak dapat diajarkan bagaimana caranya menabung dan manfaat apa yang bisa dipetik darinya. Bila sang anak menginginkan sesuatu yang diinginkannya, misalnya mainan yang disukainya, ajarkan bagaimana caranya mendapatkan mainan tersebut dengan menabung di celengan. Bila uangnya telah cukup, ia dapat membeli mainan kesukaannya. Hal ini mengajarkan kepada anak betapa pentingnya menabung. Jangan berhenti menabung bila barang yang diinginkannya telah didapat. Seiring berjalannya waktu ketika uang yang ada di dalam celengan terisi penuh, Anda dapat mengantarkannya ke bank untuk menabung.

Sedangkan untuk mereka yang telah menginjak remaja, kita dapat mengajarkan mengenai tabungan yang berbentuk investasi. Misalnya, deposito, logam mulia, atau investasi lainnya. Untuk anak perempuan, kita mungkin dapat mengajarkannya untuk membeli emas atau kalung.

Anak yang tak biasa menabung, cenderung menghabiskan uang yang diberikan kepadanya. Apalagi bila orangtua hampir selalu mengabulkan permintaan sang anak. Orangtua dapat menjelaskan kepadanya, bahwa uang yang dihabiskan untuk jajan, maka tak ada yang bisa ditabungnya. Dan itu berarti ia tak dapat memiliki barang yang diinginkannya.

Orangtua yang bijak tentu saja juga melakukan hal yang sama. Tak mungkin mengajari anak menabung tapi orangtuanya sendiri tidak melakukannya. Mengajarkan menabung pada anak tak semata melalui buku tabungan atau celengan, tapi bisa dengan cara lain. Misalnya saja, ketika akhir pekan tiba. Kita dapat membiasakan untuk tidak makan di luar, walau kita mampu melakukan itu. Atau dalam pergi berakhir pekan, kita membawa bekal makan siang. Tentu saja masih banyak cara lain dalam mengajarkan anak untuk menabung. Jadi jangan lupa, sisihkan uang untuk menabung. Ayo menabung!

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009


__._,_.___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun