Senin, 11 Oktober 2010

Mari Belajar pada Lance Armstrong

Oleh: Sonny Wibisono *

"Jika saya masih bisa bergerak, artinya saya tidak sakit."
-- Lance Armstrong, pembalap Amerika Serikat, juara Tour de France 1999-2005

VONIS itu bak gledek di siang hari. Oktober 1996, dokter menyatakan Lance
Armstrong positif mengidap kanker testis. Padahal sebagai pembalap sepeda
profesional, karirnya lagi kinclong-kinclongnya di pucuk kesuksesan. Kontrak
dengan tim balap Perancis baru saja diteken. Nilainya, wow, fantastis, dua
tahun dia dibayar 2,5 juta dolar AS.

Namun, testisnya memang sudah membengkak sebesar buah jeruk. Dia pun muntah
darah. Lebih membahayakan lagi, menurut diagnosis dokter, kanker itu sudah
menjalar ke paru-paru dan otak. Operasi darurat pun dijadwalkan saat itu
juga. Dokter mengatakan kepadanya bahwa persentase berhasil untuk hidup
adalah 50%. Angka manipulasi sebenarnya. Dalam hitungan secara medis,
diketahui harapan hidup Armstrong saat itu sesungguhnya tinggal 3%.
Jangankan mendengar 3%, mendengar 50% saja jantung serasa mau copot. Siapa
pun tentu akan lemas mendengar pengumuman itu.

Tapi, Armstrong tidak. Meski merasakan sakit yang luar biasa, namun dia
tetap tegar. Armstrong berpacu dengan waktu. Baginya, penyakit kanker
ibaratnya sebuah perlombaan. Ia harus menjalani operasi untuk menghilangkan
kanker dan kemoterapi yang dilakukannya selama berbulan-bulan. Kanker
membuat Armstrong ambruk. Pembalap tangguh itu kini lemah tak berdaya. Untuk
mengayuh sepeda keliling halaman rumahnya saja ia tak mampu. Namun, dia
tetap menjalani proses penyembuhannya dengan kukuh. Tanpa mengeluh. Satu
harapannya, dia ingin sembuh total. Dan ia percaya itu. Kemoterapi pun
selesai dilakukan, dan ajaib, kanker yang dideritanya hilang.

Siapa saja yang mengikuti kisah Armstrong pasti akan jatuh kagum. Semua itu
merupakan hasil didikan yang keras. Mentalnya sudah ditempa sejak muda. Ia
dididik oleh seorang ibu yang pekerja keras. Ibunya pernah mendapati
Armstrong berhenti di tengah jalan karena kelelahan dalam lomba triathlon.
Sang Ibu memarahinya, "Kamu tidak boleh berhenti meskipun harus berjalan."
Armstrong pun menyelesaikan lomba itu hingga garis finish.

Keputusan besar dilakukan Armstrong setelah dinyatakan sembuh: dia kembali
mengayuh sepeda. Banyak orang yang ragu tentu saja. Bersepeda bukan olahraga
ringan. Butuh stamina fisik yang prima dan kuat. Tapi lagi-lagi dia
menganggap sebuah sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Dia berlatih.
Bahkan lebih keras dan lebih keras lagi. Ia pun berlatih bersepeda dengan
mendaki ke atas puncak pegunungan. Ia mampu.

Ketika saat ia merasa sudah benar-benar pulih, pada 1999, Armstrong siap
untuk mengikuti segala jenis lomba. Saat yang bersamaan, istrinya pun hamil.
Terapi kesuburan menuai hasil. Padahal sebelumnya gara-gara kanker itu
pulalah, dia divonis mandul. Hasilnya tak terkira. Lima bulan berselang,
untuk pertamakalinya, Armstrong berhasil menjuarai Tour de France pada 1999.
Dia pun menjadi raja tur paling terkenal sejagat itu. Berturut-turut, selama
tujuh tahun, hingga 2005, dia selalu tampil di podium pemenang.

Setelah itu, dia benar-benar mundur. Tapi dia tidak sepenuhnya lengser.
Pengalaman dirinya menghadapi penyakit kanker memberinya inspirasi untuk
mendirikan Yayasan Lance Armstrong. Dan pada tahun 2004, ia mengembangkan
Gelang Livestrong sebagai upaya meningkatkan kesadaran bagi para korban
kanker.

Armstrong telah mengajarkan kepada banyak orang, ketika melawan kanker, ia
mengalahkan musuh terbesar kehidupan, yakni keputus-asaan. Setiap orang
boleh gagal, tapi jangan pernah berputus asa. Penyakit kanker yang
dideritanya dijadikan pengalaman hidup yang tak ternilai. Pantang menyerah
pada keadaan membuat dirinya mampu bertahan hidup dengan mengagumkan dan
melewati berbagai rintangan untuk meraih gelar juara.

"Jika Anda meminta saya untuk memilih menang di Tour de France atau dari
kanker, saya akan memilih menang dari penyakit itu. Karena itu adalah
kemenangan saya sebagai manusia, pria, suami, anak, dan ayah," kata
Armstrong.

Armstrong memberikan pelajaran penting. Jangan pernah menyerah dalam
kehidupan. Seberapa pun beratnya.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan beri Komentar sehat dan membangun