Rabu, 02 Januari 2008

Siapa Takut Jatuh Cinta

Oleh : Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Beruntung saya pernah mengambil diploma seni musik di IKIP Negeri Semarang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Semarang. Keberuntungan pertama ialah karena topografi kampus saya di kawasan Jl Kelud itu bagus sekali. Ia seperti kawasan puncak, naik turun, tinggi rendah, jauh dekat. Ruang kampus itu seperti sebuah vila-vila saja layaknya. Penuh rimbun pohon-pohon besar dengan rumput dan bunga-bunga yang rapi terpelihara. Seperti berada di sebuah pegunungan dengan banyak vila.... sungguh sebuah suasana yang bagi usia saya saat itu, amat mudah memicu untuk jatuh cinta.

Karenanya hampir setiap saat saya bisa jatuh cinta: ada yang pada tema sekelas, ada yang beda kelas, ada yang beda jurusan dan ada pula yang beda fakultas, karena saat itu, rasanya kawa-kawan kuliah yang cantik memang ada di mana-mana. Dan syukyurlah, di antara semua teman yang saya taksir itu tidak ada satupun yang menjadi pacar saya. Macam-macam saja alasannya, tapi terbesar adalah karena saya sendiri penyebabnya. Tegasnya, saya memang cuma asyik jatuh cinta tetapi tidak terlalu bernafsu untuk pacaran karena pasti ditolaknya. Rasa percaya diri ditolak inilah yang membuat saya malah merasa bebas. Bebas jatuh cinta kepada siapa saja dan bebas putus kapan saja saya mau, tanpa perlu pihak yang saya taksir itu membalas atau malah sekadar tahu.

Saya pernah naksir seorang teman yang begitu cantiknya sehingga kalau saya maju terus pasti tidak kebagian. Dan benar, seluruh dari kami, mahiswa paling top pun terpaksa harus gigit jari, karena kecantikan yang keterlaluan seperti itu tidak cocok bagi kelas mahiswa yang payah modalnya. Seperti yang telah saya duga, si cantik itu akhirnya kawin dengan pengusaha kaya. Dari awal saya sudah mengerti kemungkinan ini, maka untuk apa berdarah-darah atas sesuatu yang saya tahu ia bukan jatah saya. Tetapi untuk menjadi pacar bagi imajinasi, saya bebas pacaran sesuka hati dengan teman ini. Persis seperti Ebiet G Ade bercinta dengan Camellia. Itu sebuah percintaan yang menurut saya dahsyat sekali. Dari pandangan pertama sampai Camellia masuk liang lahat, ternyata belum sekalipun Ebiet pernah menjumpai. Apakah Ebiet menjadi gila karenanya? Tidak. Ia sehat sekali, waras sekali dan malah suskes sekali. Karena energi jatuh cinta itu, jika cerdik cara mengelolanya memang luar biasa.

Di dalam perasana jatuh cinta itu, semuanya menjadi penuh sensasi. Melihat mega-mega berarak, seperti melihat puisi. Melihat jemuran berkelebat seperti melihat burung-burung blekok berterbangan di atas sawah kampung saya. Melihat rinai hujan, seperti melihat air mata peri-peri cantik berjatuhan. Tak ada yang tidak indah ketika saya jatuh cinta. Sesumbang apapun suara ini, bawaannya melulu ingin beryanyi. Sepayah apapun tampang saya, rasanya ingin selalu berkaca. Jadi jika begini besar efek jatuh cinta dalam mendatangkan keindahan, kenapa saya tidak jatuh cinta saben hari saja? Maka saat itu, saya merdeka untuk jatuh cinta setiap kali tanpa takut patah hati. Jatuh cinta semacam ini ternyata hemat sekali; tidak harus kehilangan ongkos nonton bareng, makan bareng, dan tidak perlu repot-repot bertengkar segala. Padahal ongkos pertengkaran itu, ongkos mental terutama, besar sekali! Sekali waktu saya pernah pacaran beneran. Astaga... daftar pertengkaran saya ternyata lebih panjang dari daftar kebahagiaan saya. Ini pasti melelahkan.

Padahal dalam keadaan jatuh cinta versi pertama itu, yang ada cuma keinginan bernyanyi dan menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk ditulisi. Bakat menulis saya pun rasanya terpupuk dengan hebat karena seringnya saya jatuh cinta semacam ini. Menulis saat jatuh cinta itu luar biasa menggelegak. Seluruh dunia jadi semuanya berwarna biru saking indahnya. Kenapa kawasan Puncak itu diburu orang Jakarta? Karena warna biru itulah. Biru, temaram, sendu, syahdu, kelu, rindu.... itulah suasana cinta. Sementara merah, darah, gerah...itulah warna perang, warna derita, dan itulah warna Jakarta. Maka bisa Anda bayangkan betapa menyenangkan jika jalan menuju ke biru itu bisa saya askes setiap waktu, kapan saja saya mau. Betapa hati akan melulu dipenuhi kegembiraan cinta. Dan hati yang penuh cinta akan melihat apa saja, tiba-tiba dengan perasaan cinta. Berkarya apa saja jadi penuh semangat cinta. Tetapi persoalannya, bagaimana kalau saya kemudian sudah berkeluarga? Apakah cinta seperti ini masih aman untuk diperagakan? Biarlah akan saya ceritakan pada kolom berikutnya!