Senin, 29 Oktober 2007

Pintu Keberhasilan: Keberuntungan Atau Kerja Keras?

by Dadang Kadarusman

Kita kadang menyebutnya sebagai ‘hoki’. Itulah keberuntungan. Ada orang yang begitu yakin bahwa segala sesuatu itu bergantung pada keberuntungan. Ada pula yang sama sekali tidak mempercayainya. Tidak jarang keberuntungan dianggap sebagai sesuatu yang tidak lebih dari sekedar cerminan sikap inferioritas orang-orang yang bisa saja berhasil, sekaligus calon kambing hitam bagi orang-orang yang gagal. Orang berhasil yang rendah diri menganggap bahwa keberhasilannya itu ‘hanyalah sebuah keberuntungan’ belaka. Sementara orang-orang gagal dapat dengan mudahnya mengatakan; ‘saya kurang beruntung, makanya saya gagal’. Sesederhana itu. Ada dua pandangan ekstrim disini. Pertama, kemasabodohan dan kedua, ketergantungan terhadap sebuah keberuntungan. Sebagian orang menganggap bahwa kemasabodohan membawa penganutnya kepada sikap pencaya diri yang berlebihan. “Ini hasil kerja keras gue. Nothing to do with keberuntungan!”. Orang ini semata-mata mengandalkan unsur kasat mata. Cenderung agak ‘kering’ dari unsur ruh atau spiritualitas. Sedangkan sebagian orang lainnya berpikir bahwa ketergantungan kepada keberuntungan menyebabkan penganutnya cenderung kurang indipenden. Bahkan sekalipun mereka sebenarnya memiliki kemampuan teknis yang memadai, namun, sering dikendalikan oleh keraguan atau kekhawatiran; “Jangan-jangan keberuntuangan tidak sedang berpihak pada saya”. Tetapi, benarkah keberhasilan kita sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan keberuntungan? Ataukah, justru keberuntunganlah yang menyebabkan kita berhasil?

Setiap orang tentu boleh saja menentukan pilihannya sendiri. Apakah hendak menjadi orang dari kelompok pertama, atau kedua. Tetapi, mari kita lihat sekali lagi apakah kita benar-benar sudah menentukan pilihan secara tepat. Fokusnya bukanlah kepada apakah pandangan yang satu lebih tepat dari pandangan yang lainnya. Melainkan, apakah kita sudah menempatkan pandangan kita itu secara tepat. Itu saja. Boleh jadi kedua pandangan ekstrim itu benar adanya. Dan jika kita bisa menempatkan keduanya – apapun pilihan kita – pada tempat dan situasi yang tepat, itu pasti akan menjadi kekuatan yang sangat sulit untuk digoyahkan.

Apa yang bisa kita lakukan disini adalah belajar dari kedua jenis manusia dengan kedua pandangan yang berbeda itu. Pertama, mari kita belajar dari orang yang tidak percaya pada keberuntungan. Mereka yang tidak percaya keberuntungan mempunyai sikap kemandirian yang mengagumkan. Mereka adalah pengambil resiko yang berani. Dan semangatnya, tidak mudah dipatahkan. Ketika orang-orang dari jenis ini menghadapi kegagalan, maka apa yang mereka katakan kepada dirinya sendiri adalah:”Gue kurang persiapan.” atau ”Gue mesti berusaha lebih keras lagi.” Atau ”Lain kali akan gue coba lagi”. Mereka begitu percaya bahwa jika mereka melakukannya dengan lebih baik lagi, maka mereka pasti akan berhasil. Mereka juga bukanlah orang-orang yang bermental ’blamming’. Menyalahkan orang lain. Jika mereka gagal, maka menyalahkan orang lain atas kegagalannya bukanlah gaya mereka. Sekalipun orang lain bahkan memang melakukan sesuatu untuk mengganjalnya dari perjuangan meraih keberhasilan; orang-orang dari jenis ini tetap tidak terpancing menyalahkan orang lain. Mereka, dengan sangat mengagumkannya, mengatakan:”Gue kurang hati-hati dengan kemungkinan itu. Lain kali, gue tidak bakal bisa dikibulin lagi”.

Perhatikan sekali lagi; pandangan mereka selalu mengarah kepada ’perbaikan’ dari dalam diri mereka sendiri. Introspeksi, jika anda ingin menyebutnya demikian. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan orang-orang dari jenis ini selalu bersemangat untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Mereka tidak mungkin pernah berdiam diri dari ’memperbaiki diri’. Semangat mereka, tidak pernah padam.

Berada ditengah-tengah orang yang seperti ini, anda akan dilingkupi oleh sikap optimis. Sungguh, tak kan pernah anda temui orang-orang dari jenis ini dihantui oleh pesimisme. Mereka bahkan selalu mampu menemukan sisi optimistik dari situasi yang paling sulit sekalipun. Dan mereka, tidak akan pernah berhenti, hingga mereka benar-benar berhasil. Berada ditengah-tengah mereka. Membuat anda tertular dahaga untuk berbuat. Berusaha. Memperbaiki diri. Dan bangkit lagi. Dan bangkit lagi.

Dalam konteks kita harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai keberhasilan kita; bagaimanapun situasinya. Berapapun harganya. Sesulit apapun kondisinya. Seberat apapun tantangannya. Kita pantas belajar dari manusia jenis ini. Dan jika kita bisa meniru mereka; apakah ada kemungkinan kita akan gagal? Tidak. Pasti kita berhasil. Karena mereka yang terus-menerus memperbaiki diri. Pantang menyerah. Bangkit. Dan bangkit lagi. Bagi mereka; keberhasilan itu merupakan sebuah keniscayaan. Sebuah kepastian.

Bagaimana dengan jenis manusia kedua? Apa yang bisa kita pelajari dari mereka? Perhatikan. Doa bagi mereka bukanlah sekedar sesuatu yang diucapkan melalui lidah saja. Mereka memasukkan doa-doa kedalam hati mereka. Lalu dari hati, doa-doa itu dilarutkan kedalam darah mereka. Melalui darah itu doa-doa itu berjalan menelusuri arteri coronary. Terus menuju kedalam jantung. Kemudian jantung mereka, memompa darah penuh doa itu menyembur melalui aorta. Lalu sang darah berpisah-pisah disetiap cabang dan pesimpangan pembuluh, menuju ketempat dimana mereka masing-masing ditugaskan untuk mengunjunginya, dijaringan perifer. Dan diferifer itu mereka melemparkan doa-doa yang dibawanya itu kesetiap pintu sel-sel tubuh mereka. Seperti tukang koran yang lewat didepan rumah; lalu melemparkan koran yang dibawanya kehalaman rumah kita. Lalu sel-sel itu menyantap sang doa, hingga mereka menjadi kuat oleh cahaya spiritualitas yang mengkilau. Maka jadilah tubuh orang dari jenis ini dipenuhi oleh doa-doanya. Hati mereka dipenuhi doa. Darah mereka dipadati doa. Jantung mereka dijejali doa. Daging mereka diliputi doa. Tulang-tulang mereka diselaputi doa. Dan, bukankah doa itu merupakan kata lain dari sebuah pengharapan? Mereka berharap agar sang maha kuasa memberi mereka apa yang mereka inginkan. Dan ketika Tuhan mengabulkan permintaan mereka, mereka mengatakan: ”Keberuntungan sedang berpihak kepada saya”.

Perhatikan sekali lagi; pandangan mereka selalu mengarah kepada ’keyakinan’ bahwa Tuhan akan mengerahkan kekuatan alam semesta untuk membantu mereka meraih keberhasilan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan orang-orang dari jenis ini selalu yakin bahwa keberhasilan akan menjadi milik mereka. Mereka tidak akan bertindak tanpa keyakinan untuk bisa berhasil. Jika mereka belum yakin bisa berhasil, maka mereka akan terlebih dahulu mempersiapkan diri untuk kesempatan dan waktu yang tepat. Mereka sangat cermat dalam menghitung waktu. Sebab bagi mereka, sesuatu yang dilakukan terburu-buru; tidak akan mungkin membawa keberhasilan. Agar berhasil, mereka memperhitungkan kapan saat yang tepat untuk memulai suatu kegiatan.

Berada ditengah-tengah orang yang seperti ini, anda akan dilingkupi oleh sikap cermat yang bersumber kepada nilai-nilai spiritualitas teramat kental. Bersama mereka, ketika anda berdoa, anda tidak sekedar mengucapkannya begitu saja; tanpa mengerti makna doa-doa yang anda panjatkan. Anda benar-benar meresapi doa itu. Dan bagaikan sebuah mantra; doa menguatkan jiwa dan raga anda. Sehingga anda benar-benar siap untuk memetik keberhasilan yang anda dambakan itu. Sungguh, tak kan pernah anda temui orang-orang dari jenis ini dihantui oleh kegamangan. Ketika mereka tahu saatnya tepat, mereka akan melakukannya dengan seluruh kemampuan disertai keyakinan bahwa alam semesta mendukung dibelakang mereka. Dan mereka tidak akan pernah melakukan sesuatu kecuali mereka tahu; bahwa mereka akan berhasil. Berada ditengah-tengah mereka. Membuat anda tercerahkah untuk selalu berpegang teguh pada tali pertolongan Tuhan. Berdoa. Berusaha. Mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai sebuah tindakan. Dan menyelesaikannya dengan akhir yang manis.

Baiklah. Sekarang anda simpulkan sendiri. Dari kedua jenis manusia ekstrim itu; mana yang pasti akan berhasil? Kelompok pertama. Baiklah, jika anda yakin bahwa kelompok pertama akan menjadi manusia-manusia paling berhasil; silakan belajar kepada mereka. Tapi ingatlah, ada banyak orang yang mengaku bagian dari jenis manusia kelompok pertama. Padahal tidak benar-benar demikian. Mereka kelihatannya optimistis. Penuh semangat. Berani mengambil resiko. Tetapi, ketika mereka dihadang oleh kegagalan yang berulang-ulang, maka mereka berputus asa. Hati-hatilah dengan yang seperti ini. Mereka bukan kelompok manusia jenis pertama yang kita bicarakan tadi. Tidak asli. Mereka hanya berpura-pura. Mereka mengaku-aku dirinya begitu, padahal tidak. Sebab, seperti sudah kita bahas dimuka, manusia dari kelompok pertama bukanlah orang-orang yang berputus asa.

Jika anda yakin bahwa kelompok kedua akan menjadi manusia-manusia paling berhasil; silakan belajar kepada mereka. Tapi ingatlah, ada banyak orang yang mengaku bagian dari jenis manusia kelompok kedua. Padahal tidak benar-benar demikian. Mereka kelihatannya spiritualis. Penuh perhitungan akan ketepatan waktu. Bertindak dengan keyakinan yang tinggi. Tetapi, ketika mereka dihadang oleh kegagalan yang berulang-ulang, maka mereka menyalahkan Tuhan yang tidak mau memberikan keberuntungan. Hati-hatilah dengan yang seperti ini. Mereka bukan kelompok manusia jenis kedua yang kita bicarakan tadi. Tidak asli. Mereka hanya berpura-pura. Mereka mengaku-aku dirinya begitu, padahal tidak. Sebab, seperti sudah kita bahas dimuka, manusia dari kelompok kedua bukanlah orang-orang yang menyalahkan Tuhan atas nasib yang mereka miliki.

Dan…., termasuk kelompok yang manakah anda?

Hore,
Hari Baru!

Catatan kaki:
Jika manusia boleh mengejar kesempurnaan; maka itu tiada lain adalah mendekatkan diri kepada Tuhannya, seraya mengoptimalkan semua potensi diri yang telah Tuhan anugerahkan kepada dirinya.